Drama Korea

Vengeance of the Bride Eps 12

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Vengeance of the bride Episode 12, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini.baca episode sebelumnya disini

Sebelumnya…

In Soon bilang pada Seo Yeon, bahwa ada bagusnya Ba Ram meninggal.

In Soon : Jika dia tidak melakukannya, aku rasa aku tidak bisa terus hidup. Salah satu dari kami harus mati, dan ternyata itu dia.

Seo Yeon sakit mendengarnya.

Bel kemudian berbunyi. In Soon yakin itu Jo Yi.

In Soon : Kita sudah selesai disini, kan?

Seo Yeon : Mohon tunggu sebentar.

Seo Yeon menambahkan sedikit riasan di hidung In Soon.

Tak lama kemudian, Seo Yeon selesai dengan tugasnya. In Soon bergegas keluar, tapi sebelum keluar, dia menyuruh Seo Yeon keluar juga setelah selesai membereskan make up.

Seo Yeon mengerti.

Ponsel Seo Yeon berbunyi. Seo Yeon mengambil ponselnya dari sakunya dan memeriksanya. Ternyata San Deul. San Deul mengucapkan selamat ulang tahun pada Seo Yeon dan mengajak Seo Yeon makan malam. San Deul juga bilang, akan menjemput Seo Yeon jam 6 sore nanti.

In Soon masuk lagi.

In Soon : Apa yang kau lakukan? Ayo. Wawancara akan segera dimulai.

Seo Yeon mengangguk dan menaruh ponselnya di atas meja rias In Soon.

Lalu dia mengambil semua kuasnya dan beranjak keluar.

San Deul ada di toko perhiasan. San Deul melihat sebuah kalung yang ditunjukkan oleh pegawai toko. Pegawai bilang, hasilnya sangat bagus karena San Deul yang merancang. Dan kalung itu adalah satu-satunya di dunia karena San Deul yang merancang. Dan San Deul bilang, dia akan memberikan kalung itu kepada satu-satunya orang di dunia yang dia sayang.

Pegawai toko bertanya, apakah gadis itu pacarnya San Deul? Sudah berapa lama mereka berkencan?

San Deul : Sekitar 20 tahun.

Pegawai toko kaget, apa? 20 tahun?

San Deul : Kami harus mengucapkan selamat tinggal setelah beberapa saat. Tapi aku merindukannya selama 20 tahun. Jadi meskipun kami terpisah, kami tidak benar-benar berpisah.

Soon Young dan Bong Pil sibuk melayani anak-anak panti asuhan.

Mereka membagikan tteokbokki gratis untuk anak-anak panti. Ddal Ki juga di sana, dia duduk bersama anak-anak panti lain, menikmati tteokbokki ibunya.

Pemilik panti asuhan datang. Omo, dia adalah pria yang menolong Ba Ram di masa lalu ketika Ba Ram pingsan di depan panti asuhan.

Pemilik panti berterima kasih karena Soon Young dan Bong Pil sudah mengunjungi panti asuhannya.

Soon Young : Astaga, hentikan. aku telah mengunjungi hampir setiap panti asuhan di kota ini… tapi tidak yang ini. Aku harus mencari nafkah juga, jadi aku tidak bisa sering mampir. Tapi aku akan datang sekitar tahun ini lagi.

Ddal Ki : Hari ini adalah hari ulang tahun adik perempuan ibuku yang hilang. Rupanya, adik perempuan itu menyukai tteokbokki ibuku. Jadi sekitar hari ulang tahunnya, kami melakukan pekerjaan sukarela. Kami memberi makan tteokbokki kepada anak-anak yang seumuran dengan adik perempuan itu.

Bong Pil menghampiri mereka.

Soon Young : Astaga. Kau tidak harus datang. Aku bisa mengelolanya sendiri.

Bong Pil : Jangan katakan hal seperti itu, Soon Young. Siapa tahu? Mungkin kau akan dapat menemukannya saat menjadi sukarelawan di sana-sini. Aku, Na Bong Pil, tidak bisa melewatkan momen bersejarah itu.

Pemilik panti : Itu adalah kisah yang menyayat hati. Siapa Namanya?

Soon Young : Ba Ram, Kang Ba Ram. Aku kehilangan dia saat dia berumur 11 tahun.

Pemilik panti : Kang Ba Ram? Aku rasa, tidak ada nama itu di sini. Jika dia berusia 11 tahun, dia akan tahu namanya. Tapi aku tidak ingat siapa pun yang bernama Ba Ram.

Soon Young langsung kecewa.

Pemilik panti minta maaf tidak bisa membantu Soon Young.

Soon Young : Tidak, jangan khawatir tentang itu.

Soon Young lalu melihat foto-foto anak panti di atas meja. Ddal Ki lantas memanggilnya, mengajaknya makan. Soon Young berbalik dan mendekati Ddal Ki. Tanpa dia sadari, ada foto Ba Ram bersama anak-anak panti lain. Foto itu berada di meja satunya, tepat di belakang Soon Young duduk sekarang.

Jo Yi memberikan pertanyaan terakhir pada In Soon.

Jo Yi : Menurutmu, apakah kebajikan yang paling penting yang harus dimiliki wanita kelas satu?

In Soon agak-agak bingung menjawabnya, tapi dia tetap menjawab. Dia bilang Noblesse Oblige.

In Soon : Mempraktikkan itu yang paling penting. Orang-orang seperti kita harus mengambil tanggung jawab sosial.

Di dapur, Nyonya Park sibuk dengan makanan-makanannya untuk upacara peringatan kematian. Dia dibantu Bu Ahn. Bu Ahn melihat In Soon yang lagi diwawancara.

Bu Ahn : Aku melihat sekilas sambil menyajikan teh untuk mereka.

Nyonya Park : Astaga. Aku masih tidak percaya dia melakukannya. Ini akan membawa nasib buruk ke upacara peringatan.

Jo Yi berterima kasih atas wawancaranya. Dia bilang, In Soon melakukan pekerjaan yang hebat.

Sang fotografer Jo Yi, berkata, mereka akan istirahat dulu sebelum mengambil beberapa foto.

Seo Yeon mulai menambahkan riasan lagi ke wajah In Soon.

In Soon : Bagaimana menurutmu penampilanku, Penata Rias Eun?

Seo Yeon : Kau melakukannya dengan baik tanpa terlihat gugup.

Jo Yi : Kalian berdua terlihat sangat dekat. Beberapa orang mungkin mengira kau adalah ibunya.

In Soon : Aku akan senang memiliki anak perempuan seperti Penata Rias Eun.

Jo Yi : Astaga. Bagaimana denganku, Ibu?

In Soon : Astaga, Jo Yi. Kau akan menjadi menantu perempuanku, bukan putriku. Menantu perempuan seperti anak perempuan.

Jo Yi : Oke. Aku senang dengan itu, Ibu.

Fotografer ingin mengambil beberapa foto jika In Soon sudah siap.

Seo Yeon langsung menyingkir.

Jo Yi mendekati Seo Yeon.

Jo Yi : Aku terkejut sebelumnya. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Ini pasti takdir. Mari kita bergaul.

Seo Yeon : Tentu saja.

Pemotretan selesai. Jo Yi mendekati In Soon.

Jo Yi : Ibu. Wawancara pasti membuatmu lelah.

In Soon : Tidak mungkin. Andalah yang pasti mengalaminya. Bagaimana kalau makan malam bersama kami?

Jo Yi : Oh tidak. Tapi aku ada kencan dengan Tae Poong malam ini.

In Soon : Betulkah? Kalau begitu cepat dan pergi.

Seo Yeon iri melihat kedekatan keduanya.

San Deul tengah bicara dengan seseorang di telepon. Dari pembicaraannya, diketahui dia bicara dengan seorang pengacara.

San Deul bicara sambil menatap kalung yang tadi dibelinya. Sudah jelas kalung itu untuk Seo Yeon.

San Deul : Paten manufaktur adalah spesialisasimu. Seperti apa preseden dalam kasus seperti itu?

Pengacara : Bagaimana seseorang bisa menang melawan tim hukum perusahaan besar? Bukankah mereka dibuat di pabrik manufaktur yang sama?

San Deul : Jika ada gugatan, bisakah kau mengambilnya? Aku tidak peduli berapa biayanya.

Pengacara : Tingkat kemenangan adalah segalanya bagi pengacara. Jadi mengapa kau memintaku ketika sudah tahu aku akan kalah?

San Deul : Aku di tim pengembangan dan pelapor. Kau tidak akan kalah.

Pengacara : Hai. Siapa orang itu? Mengapa kau rela mengorbankan segalanya untuk mereka?

San Deul bilang, dia seseorang yang harus dia lindungi.

Ba Da masuk. San Deul langsung menyudahi teleponnya.

Ba Da melihat kalung yang dibeli San Deul tadi.

Ba Da : Itu hadiah ulang tahunku?

San Deul langsung menyimpan kalung itu di dalam lacinya.

Ba Da pun tahu itu bukan untuknya.

San Deul : Berhenti dengan pembaruan Paker Mawar.

Ba Da : Hari ini ulang tahunku. Mari kita bicara tentang hal-hal buruk besok. Katakan hanya hal-hal baik hari ini.

San Deul : Oke. Selamat ulang tahun.

Ba Da : Apakah kau ingin datang malam ini? Ini akan menjadi makan malam ulang tahun pertamaku. Aku membutuhkanmu di sana untuk hari penting seperti ini.

San Deul : Maaf, aku sudah punya rencana.

Ba Da : Apa? Apakah ini lebih penting daripada ulang tahunku? Apa yang mau kau lakukan?

San Deul : Bukankah kau bilang kau perlu menemui Pimpinan Kang? Kau terlambat.

Ba Da : Mari kita bicara lagi nanti.

Ba Da keluar dari ruangan San Deul.

Seo Yeon keluar dari kamar In Soon, sambil menenteng tas make up nya. In Soon berterima kasih pada Seo Yeon atas kerja keras Seo Yeon hari itu. Dia bilang, dia bisa melakukan wawancara dengan baik berkat Seo Yeon.

Seo Yeon : Aku akan pergi, kalau begitu.

Seo Yeon hendak keluar dan melewati ruangan tengah. Di sana, Nyonya Park tengah menaruh beberapa makanan di atas meja, di depan foto Il Seok dan Yoon Hee. Seo Yeon juga melihat ada kue ulang tahun dan beberapa makanan lain di atas meja di depan meja peringatan.

In Soon : Hari ini putriku berulang tahun, tapi itu hari yang sama dengan upacara peringatan ini.

Nyonya Park menatap Seo Yeon.

Nyonya Park : Apa kau yakin kita belum pernah bertemu sebelumnya? Aku tahu aku sudah tua, tapi aku sangat pandai mengingat wajah. Aku yakin aku pernah melihatmu sebelumnya. Jujurlah padaku.

Seo Yeon : Aku tidak yakin. Aku benar-benar belum pernah melihatmu sebelumnya.

Nyonya Park : Jika tidak, apakah kau pernah tinggal di Byeolha-ri?

In Soon : Ibu! Astaga, ada apa denganmu hari ini?

Nyonya Park : Kau memotong kalimatku lagi!

In Soon menyuruh Seo Yeon pergi. Dia bilang, Nyonya Park tidak akan berhenti bicara.

Seo Yeon pamit dan beranjak pergi.

Tae Poong sudah di resto. Dia lagi minum, langsung dari botolnya. Lalu Jo Yi datang.

Jo Yi : Bagaimana kau bisa mulai minum sendirian ketika kau memintaku untuk datang?

Tae Poong : Aku tidak meminta bertemu untuk minum-minum.

Jo Yi : Aku bisa menyusul sekarang, kan?

Jo Yi mengambil botol miras dari tangan Tae Poong dan mau minum juga tapi dihentikan Tae Poong.

Tae Poong : Astaga. Sudah kubilang aku tidak meneleponmu untuk minum.

Jo Yi : Lalu kenapa kau meminta untuk bertemu?

Tae Poong : Aku punya sesuatu untuk diberikan padamu.

Jo Yi : Apa itu?

Tae Poong : Sebuah eksklusif.

Jo Yi : Astaga. Aku pikir itu akan menjadi sesuatu yang kecil, berkilau, dan bulat. Apakah kau memanggilku ke sini untuk bekerja?

Tae Poong : Ini bukan sembarang eksklusif.

Jo Yi : Apa itu? Aku akan mendengarkanmu.

Bong Pil tengah membaca sesuatu di ponselnya.

Bong Pil : “Pelanggan seperti angin musim semi.”

Lalu Soon Young datang, membawa keju ke depan Bong Pil. Dia duduk dan mulai mengolah keju-keju itu. Bong Pil menyuruh Soon Young istirahat. Soon Young bilang, dia baik-baik saja. Menggerakkan tubuh akan membantunya mengalihkan pikirannya dari Ba Ram.

Bong Pil : Tunggu. Soon Young-ssi, dikatakan pelanggan yang ditunggu-tunggu akan datang.

Soon Young : Aku mengerti. Aku yakin. Rejeki harian selalu mengatakan hal yang sama.

Bong Pil : Ini akan menjadi kenyataan kali ini. Dikatakan, “Pelanggan seperti angin musim semi akan datang melalui pintu.”

Soon Young : “Pelanggan menyukai angin musim semi?”

Hmmm, rupanya Bong Pil lagi membaca ramalan.

Lalu Dae Bak masuk membawa makanan.

Dae Bak : Aku minta maaf karena tidak memperkenalkan diri sampai sekarang. Aku pemilik toko yang baru saja dibuka di depan.

Soon Young : Benar. Terima kasih.

Bong Pil : Karena kita tidak memiliki menu yang sama, aku rasa kita tidak akan kesulitan.

Dae Bak : Saya harap kita bisa menjadi tetangga yang baik.

Soon Young : Tentu saja. Itu tidak akan menjadi masalah.

Dae Bak : Datang kapan saja. Pasangan suami istri bisa mendapatkan minuman gratis.

Soon Young : Pasangan menikah? Aku hanya bekerja di sini. dia…

Bong Pil : Ya. Aku pemilik toko ini.

Mendengar itu, Dae Bak senang.

Dae Bak : Berarti kau jomblo? Itu keren. Aku senang mendengar itu. Wanita cantik sepertimu harus mendapatkan diskon 20 persen. Tidak, itu tidak benar. Tiga puluh persen. Kau dipersilakan kapan saja. Silakan datang.

Dae Bak ngasih Soon Young kupon gratis.

Soon Young : Astaga. Kau seorang pengusaha hebat, dan kau sangat murah hati. Aku yakin restoranmu akan sukses besar.

Dae Bak : Aku sudah sukses. Namaku Dae Bak. Itu berarti sukses.

Mendengar itu, Bong Pil langsung berdiri.

Bong Pil : Tidak mungkin. Apa kau Nam Dae Bak?

Dae Bak : Bagaimana kau tahu namaku?

Bong Pil : Kelas 27 lulusan SMA Ganma. Kelas 4 dari kelas 12. Wali kelas kita Dekan Kepala Besar Dae Sung.

Dae Bak : Apakah kau Na Bong Pil?

Soon Young : Astaga. Apakah kalian teman dari sekolah menengah? Astaga. Kebetulan sekali.

Bong Pil : Teman, kakiku. Lebih seperti musuh.

Dae Bak dan Bong Pil saling menatap penuh kebencian.

Kembali ke Jo Yi dan Tae Poong. Jo Yi bilang mereka menerima banyak laporan anonim tentang Pimpinan Le Blanc yang mencuri formula masker wajah dari perusahaan start-up.

Tae Poong : Judulnya harus, “Perusahaan Besar Menyalahgunakan Kekuatan Mereka untuk Mencuri dari Perusahaan Satu Orang.” Itu kuat dan provokatif. Sempurna.

Jo Yi : Itu perusahaan ayahmu. Apakah kau benar-benar ingin melakukan ini?

Tae Poong : Hari ini adik perempuanku berulang tahun. Memikirkan dia membuatku ingin menjadi orang yang terhormat.

Jo Yi : Ba Da pasti bahagia. Dia memiliki kakak laki-laki yang membimbingnya ke arah yang benar.

Tae Poong : Aku sudah menyerah padanya.

Jo Yi : Apa? Apakah kau memiliki adik-adik yang lain?

Tae Poong : Lupakan. Tolong terbitkan artikel yang bagus untukku.

Jo Yi : Tae Poong. Kau kakak yang baik, tapi bukankah ini buruk yang kau lakukan sebagai anak? Kau anak yang buruk.

Tae Poong : Tidak bisakah kau melihat bahwa ini adalah caraku menjadi anak yang baik? Aku tidak bisa berdiri dan menonton sementara Le Blanc memainkan trik kotor untuk menghasilkan uang.

Jo Yi makin cinta sama Tae Poong.

Jo Yi : Astaga. Kau sangat keren.

Tae Poong : Astaga. Berhentilah semakin jatuh cinta padaku.

Jo Yi : Aku pikir impianmu adalah menjadi Pemimpin Le Blanc. Tapi kau bisa melepaskan kekayaanmu. Katakan. Mimpi apa yang dimiliki pria keren sepertimu?

Tae Poong : Aku tidak punya mimpi. Aku tidak pernah memilikinya. Lagi pula, kapan artikel itu akan diterbitkan?

Jo Yi : Bahkan jika kau seorang pelapor, aku masih perlu melakukan pengecekan fakta. Kau sangat keren, tetapi aku masih harus memisahkan kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Tae Poong : Seharusnya hanya ada bekerja di antara kita. Tidak ada yang pribadi di antara kami.

Jo Yi menutup telinganya.

Jo Yi : Apa? Aku tiba-tiba tidak bisa mendengarmu.

Baek San berdiri lama sekali di depan foto Il Seok dan Yoon Hee. Dia menatap foto Il Seok dan teringat pertemuannya dengan Pimpinan Cha di masa lalu, saat dia masih menjadi manajer pabrik Il Seok.

Flashback…

Pimpinan Cha memberikan Baek San uang. Dia bilang, Baek San hanya perlu membawakannya informasi pengembangan.

Baek San : Kau tahu sedikit tentangku. Pimpinan Jin Il Seok adalah teman lamaku. Apa aku terlihat seperti seseorang yang menikam temanku dari belakang?

Pimpinan Cha : Dengarkan di sini. Kau harus memulai bisnismu sendiri. Apa kau mau menjalani hidupmu diperintah oleh Pimpinan Jin? Dari apa yang kulihat, kau memiliki lebih banyak tulang punggung daripada dia. Pengembangan produk rowan baru Jepang. Itu saja yang aku minta. Setelah kau menyerahkannya, aku mungkin membayarmu dengan jumlah yang lebih banyak lagi.

Dan jadilah Baek San mencari-cari dokumen pengembangan itu di kamar Il Seok.

Sementara Il Seok lagi di jalan, dia membawa Yoon Hee menuju mobilnya. Yoon Hee akan melahirkan. Tapi dia ketinggalan kunci mobilnya. Dia bilang dia pasti gugup.

Yoon Hee tersenyum, masih ada waktu sebelum bayi kita lahir. Ambil kunci mobil dan jangan terburu-buru.

Il Seok mengerti dan kembali ke rumah.

Baek San akhirnya menemukan dokumen itu. Bersamaan dengan itu, Il Seok datang. Il Seok kaget melihat Baek San di kamarnya. Lalu Il Seok melihat Baek San memegang dokumen pengembangan. Il Seok minta Baek San mengembalikan dokumen itu.

Baek San gak mau. Dia bilang itu miliknya sekarang.

Il Seok : Maksudmu apa?

Baek San : Kau sudah memiliki segalanya. Bukankah adil jika aku setidaknya memiliki ini?

Il Seok : Penelitian rowan Jepang milik perusahaan kita. Dan kau adalah bagian dari itu. Apakah perusahaan lain menempatkanmu untuk ini? Kembalikan. Berikan padaku!

Il Seok berusaha mengambil lagi dokumennya.

Baek San mendorong Il Seok.

Lalu dia mencari-cari sesuatu dan melihat sebuah piala di atas meja. Dan piala itulah yang digunakan Baek San untuk membunuh Il Seok.

Flashback end…

Baek San kemudian menatap foto Yoon Hee.

Adegan pun berpindah ke Mo Yeon yang lagi menyeduh teh.

Jo Yi datang, kau minum teh?

Mo Yeon : Ya, teh herbal. Kau mau?

Jo Yi : Tentu.

Lalu Mo Yeon mencium bau alkohol di tubuh Jo Yi.

Mo Yeon : Kau minum?

Jo Yi : Bisakah kau menciumnya?

Mo Yeon memberikan teh pada Jo Yi.

Mo Yeon : Jadi apakah kau pergi berkencan dengan Tuan Kang Tae Poong?

Jo Yi : Aku pikir itu kencan jadi aku bergegas. Tapi ternyata dia menyuruhku bekerja. Le Blanc sedang mengalami sesuatu yang buruk.

Mo Yeon : Le Blanc sedang melakukan sesuatu yang buruk? Apa hal buruk itu?

Jo Yi : Mereka mencoba mencuri produk yang dibuat oleh bisnis satu orang.

Mo Yeon : Ya ampun. Itu sesuatu yang sangat serius. Apa kau yakin itu benar?

Jo Yi : Aku akan tahu jika aku menggali lebih dalam. Tapi ibu. Bagaimana jika petunjuk Tae Poong ternyata benar? Semakin aku bertemu dengannya, semakin menawan dia. Yang aku khawatirkan adalah keluarganya. Bagaimana jika mereka bukan orang baik?

Mo Yeon : Benar. Jangan biarkan perasaanmu mengendalikanmu dan mendorong segalanya ke depan. Mengapa kita tidak mengambil waktu kita dan pikirkan baik-baik tentang pernikahan?

Jo Yi : Meski begitu, mataku tertuju pada Tae Poong. Aku akan menikah dengannya bagaimanapun caranya.

Mo Yeon : Astaga, sayang.

In Soon sudah duduk di depan kue ulang tahun Ba Da,

Dia menatap Baek San.

In Soon : Apa yang membuatmu begitu lama? Cepat dan putuskan di mana kau akan duduk.

Nyonya Park memarahi In Soon : Apa? Apakah kau bahkan perlu bertanya? Dia jelas akan memberi hormat kepada mereka.

In Soon : Jangan lupa bahwa kau adalah ayah Ba Da. Kau harus duduk di sini.

Nyonya Park : Gadis itu punya banyak keberanian untuk berbicara kembali.

In Soon : Ini pesta ulang tahun.

Nyonya Park : Itulah masalahnya.

Nyonya Park menghancurkan kue ulang tahun Ba Da,

In Soon marah, ya ampun! Ibu! Astaga! Aku tidak tahan lagi!

In Soon beranjak ke meja perayaan, tapi Baek San menghentikannya.

Baek San : Hentikan!

San Deul di depan rumah Seo Yeon, membawa kalung itu. Dia tidak sabar bertemu Ba Ram.

San Deul kemudian meraih ponselnya dan mengontak Ba Ram.

Ba Ram sendiri duduk di halte. Dia kemudian berdiri dan mencari-cari ponselnya. Dan dia terkejut ponselnya gak ada.

In Soon minum wine dan terus menatap Baek San dan Nyonya Park. Dia marah.

In Soon : Mereka gila. Mereka benar-benar. Bagaimana kau bisa mengadakan upacara peringatan mereka?

Ba Da pulang dan melihat kue ulang tahunnya rusak.

Ba Da : Apa semua ini?

Nyonya Park menyuruh Ba Da ganti baju dan memberikan penghormatan pada Il Seok dan Yoon Hee.

Ba Da marah, kau sangat kejam, Nenek. Bagaimana kau bisa melakukan ini setiap tahun pada hari ulang tahun ku! Apa artinya mereka bagi kita?

In Soon : Mereka? Mereka meninggal karena ayahmu, dan mereka masih tidak bisa beristirahat dengan tenang.

Ba Da kaget, apa maksud ibu?

Baek San menyuruh In Soon diam.

In Soon : Ba Ram yang malang. Aku merasa buruk untuknya.

Ba Da : Kenapa kau membahasnya? Jangan katakan pesta ulang tahun ini adalah untuk Ba Ram.

In Soon : Apa yang harus kulakukan? Apa aku berbohong atau apa?

Ba Da : Dan di sinilah aku, yang bersemangat untuk pesta ulang tahun pertamaku. Aku sudah gila.

Ba Da keluar. Diluar, dia menghubungi San Deul.

Ba Da : Oppa, aku pulang, tapi aku pergi sekarang.

Ba Da membuka pintu pagar dan kaget melihat Seo Yeon.

Ba Da : Bukankah kau dari Glam? Bukankah syutingnya sudah selesai?

Seo Yeon : Aku meninggalkan ponselku di sini.

Ba Da pun membiarkan Seo Yeon masuk.

Ba Da terus bicara dengan San Deul.

Ba Da : Aku akan gila. aku ingin mati. Kauada di mana? Mari kita mendapatkan beberapa minuman.

Ba Da pergi.

Wine In Soon sudah habis. Dia lalu berdiri dan memakan kue ulang tahun Ba Da yang sudah rusak. Lalu dia menyindir Baek San dan Nyonya Park.

In Soon : Ibu yang mengadakan upacara peringatan untuk orang yang dibunuh oleh putranya. Dan kau yang dengan sepenuh hati berpartisipasi dalam layanan itu Kalian berdua gila.

Baek San : Tutup mulutmu itu dan masuk ke dalam ruangan.

In Soon : Kau takut akan dosa-dosamu bukan? Bukankah itu sebabnya kau mengadakan layanan setiap tahun? Apakah Jin Il Seok mencekikmu setiap malam? Kau sudah benar-benar gila. Bagaimana aku bisa tetap waras? Tidakkah kau ingat hari aku melahirkan si kembar? Le Blanc adalah perusahaannya!

In Soon menunjuk foto Il Seok.

Seo Yeon melangkah menuju pintu kediaman Baek San.

In Soon : Kau benar-benar tidak punya hati nurani. Kau membunuh temanmu dan keluarganya dan mengambil perusahaannya!

Baek San : Tutup mulutmu! Itu kecelakaan!

In Soon : Kecelakaan, kakiku!

In Soon hampir jatuh. Nyonya Park memeganginya.

Nyonya Park : Kau mabuk. Kau harus masuk dan tidur. Mari kita bicara setelah kau sadar.

In Soon mendorong Nyonya Park.

In Soon : Kau tidak hanya membunuh temanmu. Kau juga membunuh Ba Ram.

In Soon mengambil foto Il Seok.

In Soon : Dengarkan di sini, Pimpinan Jin. Apakah kau senang melihat Ba Ram lagi? Apakah putrimu Ba Ram, di sana bersamamu sekarang?

Baek San : Hentikan!

Baek San membanting foto Il Seok.

Ba Ram sudah tiba di depan pintu. Dia mau masuk tapi gak jadi karena mendengar keributan di dalam.

In Soon : Lihat di sini, Tuan Kang. Apakah kau berpikir bahwa kau bisa menjadi dia jika kau memiliki Ba Ram?

Baek San : Aku menyuruhmu untuk menutup mulutmu.

In Soon : Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tidak memiliki putri Tuan Jin, Ba Ram. Kau sama sekali tidak dekat untuk menjadi sebaik dia. Bunuh saja aku sebagai gantinya. Bunuh aku! Bunuh aku!

Seo Yeon terkejut mendengarnya. Saking kagetnya, dia reflek menjatuhkan tas make up nya.

Baek San mendengar itu. Dia panic dan menyuruh In Soon diam.

Nyonya Park membekap In Soon.

Baek San mendekat ke pintu.

Baek San : Siapa di sana? Siapa di sana!

Seo Yeon kaget dan menyembunyikan dirinya.

Bersambung……

Rahmi Iza