The Road : The Tragedy of The One Ep 3 Part 4

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Road : The Tragedy of One Episode 3 Part 4, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek juga episode sebelumnya disini.

Sebelumnya…

Gi Tae bersama Yeo Jin di ruang jagalnya.

Yeo Jin ngeri melihat apa yang dilakukan Gi Tae pada seekor burung besar.

Gi Tae mencongkel mata burung. *Kejaaaam.

Dia lalu melihat mata burung itu dengan kaca pembesarnya.

Gi Tae : Sudah berapa lama kita tidak bertemu?

Yeo Jin : Kita bertemu di pesta ulang tahunmu tahun lalu.

Gi Tae : Benarkah? Astaga, itu artinya hubungan kita sangat dalam.

Yeo Jin : Ya.

Gi Tae : Kau menerima telepon dari Gedung Biru?

Yeo Jin : Ya, benar.

Gi Tae lalu mendekati Yeo Jin.

Gi Tae : Sudah saatnya kau juga mulai menggeluti politik, Bu Kwon. Hewan sangat mirip dengan manusia. Mereka kehilangan gigi dan bulu saat bertambah tua. Paruh dan cakar mereka bengkok, jadi, mereka gagal berburu. Jadi, mereka diam-diam menunggu di tepi jurang. Lalu, mereka mati kelaparan. Tapi terkadang, beberapa dari mereka, meski sangat langka, melakukan hal-hal luar biasa. Mereka menghantamkan paruh sekeras mungkin ke batu dan benar-benar menghancurkannya. Dengan gigi kecil yang tersisa, mereka mencabuti bulu dan cakar mereka, dan itu membuat mereka berdarah. Lalu, mereka menunggu dengan tenang sampai semuanya tumbuh kembali.

Yeo Jin : Begitu rupanya.

Gi Tae : Dengan senjata baru, mereka terbang lagi dan bertekad untuk berburu sampai mereka mati. Bagaimana menurutmu? Kau mau mati kelaparan atau akan berburu sampai mati?

Yeo Jin yang takut, memilih berburu.

Gi Tae senang, aku pandai menilai karakter. Tapi mulai sekarang, satu-satunya senjatamu adalah keheningan.

Yeo Jin mengiyakan cakap Gi Tae. Dari sorot matanya, kita bisa melihat bahwa dia ketakutan.

Soo Hyun ke rumah sakit, membawa ransel si Kepala Keamanan yang isinya barang-barang si Kepala Keamanan yang dia ambil dari mess si Kepala Keamanan.

Ternyata pria yang jatuh dari lantai dua rumah putih adalah si Kepala Keamanan dan dia masih hidup!!

Pria itu bilang, dia jatuh karena tersandung dan tak ada yang bisa dia katakan pada Soo Hyun.

Soo Hyun kesal dan menyerakkan isi ransel ke atas kaki Kepala Keamanan.

Si Kepala Keamanan beralasan, dia terkejut karena Soo Hyun.

Soo Hyun : Laptop, diska keras, dan kamera pengintai. Haruskah kuserahkan ini semua ke polisi? Atau haruskah kuberikan rekaman videonya kepada mereka?

Soo Hyun duduk di ranjang kosong di sebelah Kepala Keamanan.

Dia membuka laptop Kepala Keamanan dan minta kata sandinya.

Soo Hyun : Pikirkan mana yang akan memberimu hukuman lebih berat.

Soo Hyun lalu bertanya soal pemadaman listrik malam itu, di sengaja atau tidak.

Kepala Keamanan : Seseorang memotong kabelnya.

Soo Hyun : Apa yang terjadi setelah itu?

Kepala Keamanan : Aku sibuk mengaktifkan generator darurat.

Soo Hyun : Rekaman kamera pengawas benar-benar dihapus?

Kepala Keamanan : Kami kehilangan semua rekamannya! Kami mendapat kamera pengawas baru keesokan harinya!

Soo Hyun memperhatikan ekspresi Kepala Keamanan saat berbicara.

Soo Hyun lalu melihat rekaman video di laptop si Kepala Keamanan.

Terdengar suara seorang pria yang berteriak, ‘kemarilah!’ dari rekaman itu.

Seok Hoon di ruang autopsi, baru saja menerima laporan hasil autopsi Jun Yeong.

Seok Hoon : Penyebab kematiannya kecelakaan mobil atau terjatuh?

Dokter menjelaskan bahwa fraktur tulang leher adalah alasan sebenarnya, tapi itu agak rumit.

“Aku melihat beberapa retak tulang di tubuhnya, termasuk kaki dan panggulnya. Tapi semua retakan itu di arah yang berbeda.”

Dokter menunjukkan hasil rontgen Jun Yeong.

“Aku juga melihat retakan di tengkoraknya, juga kemungkinan pendarahan otak.”

Seok Hoon gak habis pikir, kenapa ada yang tega menculik anak kecil dan membunuhnya kayak gitu.

Dokter juga bilang, jantungnya cukup rusak dan mungkin karena itu, otaknya bengkak.

Seok Hoon kaget, anak muda itu hidup dengan bom waktu?

“Aku memeriksa catatan medisnya. Dia sudah menemui banyak dokter, tapi mereka tidak bisa menemukan penyebab. Itu sebabnya sedikit trauma pun menyebabkan kematiannya. Tapi kenapa orang tuanya bergegas adakan pemakaman?”

“Aku juga penasaran. Satu hal lagi. Begini… Jasad Kim Seok Pil. Ada di kamar mayat?”

“Aku tidak melakukan autopsi rahasia. Ikuti protokol dan proses hukum. Ini mengesalkan, tapi benar. Jejak dari pakaian dan tubuhnya, laporan toksikologi darah dan analisis DNA butuh beberapa hari. Aku sudah mempercepatnya.”

Soo Hyun memasukkan kembali barang-barang si Kepala Keamanan yang tadi dia serakkan, ke dalam tas.

Soo Hyun : Kau menjual informasi itu sampai Kim Seok Pil tahu dan mengancammu? Jadi, kau biarkan dia masuk?

Kepala Keamanan mengiyakan.

Soo Hyun lalu membuka lemari kecil disamping ranjang Kepala Keamanan dan mencari-cari kunci utama.

Soo Hyun : Itu tidak cukup, jadi, kau memberinya kunci utama?

Kepala Keamanan tak mengaku, omong kosong apa itu?

Soo Hyun : Kau tidak memberinya kunci utama, tapi takut bicara. Seharusnya ada sidik jari di sini.

Soo Hyun mau pergi. Si Kepala Keamanan minta Soo Hyun menepati janji.

Soo Hyun : Aku hanya akan memberi polisi satu hal seperti yang dijanjikan.

Kepala Keamanan : Sisanya?

Soo Hyun : Akan masuk berita.

Kepala Keamanan : Hei!

Soo Hyun : Aku tidak bilang tidak akan melakukannya.

Soo Hyun pergi.

Si Kepala Keamanan sampai jatuh ke lantai karena berusaha mengejar Soo Hyun.

Soo Hyun lalu menelpon Seok Hoon.

Soo Hyun : Kurasa aku tahu di mana semuanya bermula. Aku akan mengirimkan alamatnya. Bagaimana dengan hasil autopsi?

Dan Soo Hyun pun kaget mendengar hasil autopsi Jun Yeong.

Soo Hyun lalu beranjak pergi.

Tanpa dia sadari, Sung Hwan juga ada di rumah sakit itu dan tengah menatapnya.

Seok Hoon mau pergi. Rekannya datang.

“Sunbae, kau mau pergi?”

“Ya, bagaimana di lokasi?”

Rekannya bilang tak ada yang tersisa, jadi dia memasang spanduk untuk mencari saksi.

Seok Hoon lalu menyuruh rekannya mencari Sung Hwan.

Seok Hoon : Entah itu kamera dasbor atau pernyataan, dapatkan yang kau bisa darinya.

Seok Hoon membuka pintu,, tapi terdiam melihat Nam Kyu sudah berdiri di depan pintu.

Seok Hoon pun keluar.

Nam Kyu : Aku datang lebih awal.

Seok Hoon : Upacara pemakaman berjalan lancar?

Nam Kyu : Ya.

Nam Kyu lalu terdiam melihat foto-foto jasad Jun Yeong di papan investigasi.

Untuk menjaga perasaan Nam Kyu, Seok Hoon pun menutup markas investigasi.

Seok Hoon memberikan hasil autopsi Jun Yeong.

Nam Kyu juga memberikan tanda terima tempat dia menginap di hotel saat perjalanan bisnis.

Nam Kyu : Aku juga meninggalkan nomor pembeli yang menemaniku. Lokasi GPS ponsel istriku juga ada di sana.

Setelah itu, Nam Kyu pergi.

Seok Hoon kembali masuk ke markas.

Dia menutup foto-foto Jun Yeong, lalu menggebrak mejanya.

Dia kesal.

Nam Kyu ke lokasi, tempat jasad Jun Yeong ditemukan.

Dia lalu melihat laporan hasil autopsi Jun Yeong.

Tak lama kemudian,, dia berbaring di tempat jasadnya Jun Yeong.

Dan tangisnya seketika keluar.

Nam Kyu merasa bersalah.

Dia meminta maaf pada Jun Yeong.

Lalu dia ingat malam itu.

Hujan turun dengan deras. Dia menepikan mobilnya di tepi jalan.

Dia lalu marah dan memukul setir mobilnya.

Sementara itu, rekan Seok Hoon menemui Sung Hwan di RS.

Sung Hwan membenarkan kalau malam itu dia membuntuti Soo Hyun.

Sung Hwan berdalih, dia punya firasat kalau Soo Hyun punya sesuatu yang besar untuk dia tulis kisahnya.

Sung Hwan : Tapi saat itulah kecelakaan mobil itu terjadi. Seperti yang kau lihat, di sinilah aku sekarang. Aku tidak beruntung.

Rekan Seok Hoon bilang, itu yang tertulis di klaim asuransi. Lalu dia bertanya, sejak kapan Sung Hwan mulai mengikuti Soo Hyun karena setaunya, Royal The Hill adalah tempat yang sulit untuk dimasuki.

Sung Hwan : Aku rasa… Aku menunggunya di luar gerbang. Seperti katamu, tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.

Rekan Seok Hoon tanya, alasan Sung Hwan mengikuti Soo Hyun.

Sung Hwan pun memberikan kartu namanya.

Dia bilang tugasnya adalah mengikuti selebritas.

Rekan Seok Hoon bilang Soo Hyun bukan lah selebritas.

Sung Hwan : Jika tampil di TV, kau seorang selebritas. Selalu ada sesuatu untuk ditulis.

Rekan Seok Hoon tanya, tidak ada rekaman kamera dasbor?

Sung Hwan : Kamera dasborny, ya? Rusak karena kecelakaan itu, jadi, aku sedang memperbaikinya. Memorinya harus dipulihkan. Aku bahkan tidak bisa memberi perusahaan asuransiku salinannya.

Rekan Seok Hoon pun meminta Sung Hwan memberikan kamera dasbor itu padanya setelah memorinya dipulihkan.

Rekan Seok Hoon lalu pergi.

Sung Hwan membuka lacinya dan mengambil kamera dasbornya dari sana.

Entah apa yang dia rencanakan.

Sementara itu, Anggota Dewan Hwang digebukin beberapa orang sampai terluka parah.

Seseorang merekam saat Anggota Dewan Hwang digebuki.

Dan yang merekam adalah Nam Kyu!!

Ya! Nam Kyu menyuruh orang-orang itu menculik dan menggebuki Anggota Dewan Hwang.

Sung Ja menuruni tangga bersama Kyung Sook.

Sambil menuruni tangga, dia menghubungi suaminya tapi tak dijawab.

Akhirnya dia mengirimi pesan ke suaminya.

“Kamu sudah lihat berita? Angkatlah. Di mana kau?”

Sung Ja dan Kyung Sook ada di showroom.

Kyung Sook berniat membeli mobil. Dia tak peduli berapa harganya.

Sales mengerti dan langsung menyiapkan mobil baru untuk Kyung Sook.

Kyung Sook : Kau sudah melaporkan pencurian mobil itu, bukan? Pada malam pemadaman listrik.

Sung Ja : Ya. Tapi bukankah itu aneh? Bagaimana mereka tahu ada pemadaman listrik di area kita dan mencuri mobil itu?

Kyung Sook : Siapa tahu? Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orang jahat. Omong-omong, bagaimana dengan tiket pesawat Jeong Wook?

Sung Ja : Aku baru memesannya untuk besok pagi.

Se Ra dan Jung Wook berantem lagi.

Se Ra : Kau yang melakukannya!

Jung Wook membekap mulut Se Ra.

Jung Wook : Diam. Seseorang bisa mendengarmu.

Se Ra mengigit tangan Jung Wook.

Jung Wook kesal dan menyuruh Se Ra lagi selagi masih ada waktu.

Se Ra : Kau pikir melarikan diri akan menghapusnya?

Jung Wook : Terserah. Aku akan pergi besok. Jangan meneleponku lagi.

Se Ra : Jika aku tertangkap lebih dahulu, tamatlah riwayatmu.

Jung Wook mencengkram Se Ra.

Jung Wook : Omong kosong apa itu? Kau yang akan mati. Seperti katamu, biar bagaimanapun aku pecundang. Aku tidak akan merugi apa pun, tidak seperti seseorang.

Jung Wook pun pergi.

Se Ra berbalik, tapi dia dikejutkan dengan kedatangan mobil polisi.

Eun Soo membuatkan Seo Young makan malam.

Seo Young makan dengan lahap.

Seo Young : Aku terus makan, tapi tidak kunjung kenyang.

Eun Soo : Beri tahu aku kapan saja jika kau menginginkan sesuatu. Aku akan segera datang.

Seo Young : Pameranmu sebentar lagi. Kau punya waktu?

Eun Soo : Aku selalu bisa meluangkan waktu.

Seo Young : Dahulu kau membuatku muak dengan kebaikanmu. Tapi aku mendapat manfaat darinya sekarang.

Se Ra tiba-tiba datang dari luar.

Se Ra : Kenapa ada mobil polisi di sini? Kau tahu sesuatu?

Seo Young : Aku lelah. Jangan rewel.

Se Ra : Apa yang terjadi?

Seo Young gak menjawab dan pergi ke ruang santai.

Eun Soo menyuruh Se Ra duduk. Dia bilang, akan menjelaskan sambil makan malam.

Eun Soo mengambilkan piring untuk Se Ra.

Eun Soo : Kau tahu rumah kosong di kompleks itu?

Se Ra : Kenapa?

Eun Soo : Ternyata, anak-anak pergi ke sana.

Mendengar itu, Se Ra panic dan langsung mencari tahu sesuatu di ponselnya.

Tanpa dia sadari, Seo Young melihatnya.

Seo Young pun mendekati Se Ra, dan dia merampas ponsel Se Ra.

Dia melihat apa yang dilihat Se Ra.

Ternyata Se Ra melihat artikel soal penangkapan narkoba di Royal The Hill.

Tentu aja Seo Young ngamuk.

Seo Young : Katakan. Apa yang kau tahu? Katakan sekarang juga.

Se Ra : Apa?

Seo Young : Kau tetap bungkam meskipun Jun Yeong meninggal?

Se Ra : Ini tidak seperti yang kau pikirkan.

Seo Young : Bukan? Kalau begitu, hubungi polisi sekarang. Saat itu kau akan bicara, bukan?

Se Ra : Lakukan sesukamu.

Seo Young : Di mana rumah putih itu?

Seo Young beranjak pergi.

Seok Hoon, Soo Hyun dan tim forensik sudah berkumpul di rumah putih.

Seok Hoon : Mereka memakai semuanya, mulai dari narkoba sampai afrodisiak. Tapi apa maksudmu, di sinilah awalnya?

Soo Hyun pun menunjukkan rekaman video yang ada di laptop Kepala Keamanan.

Ternyata itu video saat Jung Wook dan Se Ra pesta narkoba.

Flashback…

Ketika Jung Wook, Se Ra dan teman2 mereka pesta narkoba, Jun Yeong tiba-tiba muncul di tangga.

Jung Wook melihat Jun Yeong. Lalu dia tanya ke Se Ra, siapa Jun Yeong.

Se Ra menatap Jun Yeong, dia bilang riwayat Jun Yeong akan tamat jika mengadu ke ayah.

Jung Wook menyuruh Jun Yeong mendekat.

Jun Yeong yang takut, melarikan diri.

Jung Wook mengejar Jun Yeong.

Flashback end…

Soo Hyun : Menurut laporan autopsi, dia tertabrak mobil, bukan?

Seok Hoon : Meski Seo Jung Wook melakukannya, tidak ada yang mengaitkannya. Choi Se Ra tidak akan bingung. Semuanya menjadi aneh.

Soo Hyun : Kurasa lebih banyak orang yang terlibat daripada dugaanku. Ini kunci utama kompleks kami. Kurasa itu cara mereka masuk ke ruang kerjaku.

Seok Hoon : Mari kita lihat apakah ada sidik jari atau catatan. Kita juga harus bicara dengan mereka, tapi akan sulit mengidentifikasinya dengan video ini.

Soo Hyun : Seo Jung Wook. Dia dua kali jalani masa percobaan karena narkoba.

Seok Hoon : Jika mendapat pernyataan dari anak-anak lain di video itu, kami bisa menangkapnya. Mari kita panggil dan dengar apa yang dia katakan.

Pembicaraan mereka terhenti karena Seo Young merangsek masuk.

Seo Young : Ada apa ini?

Dan Soo Hyun pun bicara berdua dengan Seo Young.

Seo Young : Kita tidak bisa mengungkapkannya di berita. Malam ini tidak akan. Atau selamanya. Nama Choi Se Ra dan wajahnya tidak boleh berhubungan dengan kata “narkoba” di mana pun.

Soo Hyun : Kami sudah mendapat pernyataan dari orang lain yang ada di sana. Dia akan segera diselidiki. Setelahnya, perusahaan media lain akan beritakan meski kita tidak.

Seo Young : Aku tidak akan membiarkannya diselidiki. Aku akan mengirimnya jauh.

Soo Hyun : Kau tidak berpikir jernih. Kendalikan dirimu.

Seo Young : Fokus orang akan berubah!

Eun Soo diluar, kaget mendengar teriakan Seo Young dan langsung menatap ke ruangan tempat Soo Hyun dan Seo Young bicara.

Seo Young : Bukannya tragis, aku akan menjadi ibu yang salah membesarkan anak dan menyebabkan kematian anak lain. Begitu mereka tahu putri tiriku memakai narkoba, mereka akan menyalahkanku atasnya dan kematian Jun Yeong. Itu sebabnya tidak boleh diberitakan!

Soo Hyun : Menangkap pembunuh itu adalah yang terpenting saat ini, bukan citramu.

Seo Young : Polisi tidak bisa menangkapnya hanya karena itu tidak terungkap? Ya, bisa. Juga, mari kita saling jujur saja. Lagi pula, kau tidak peduli soal menangkap pembunuh sebenarnya. Kau hanya peduli soal berita. Benar, bukan?

Soo Hyun : Jangan berasumsi.

Seo Young : Sudah kubilang tidak seharusnya kau mengambil semua yang bagus.

Seo Young meletakkan sebuah pulpen di atas meja.

Soo Hyun kaget melihat pulpen itu dan tanya apa yang Seo Young rencanakan.

Seo Young : Aku ingin memberitahumu apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku suka melihatmu bingung. Itu sesuatu yang hanya bisa dilihat olehku.

Eun Soo yang penasaran, akhirnya membuat teh.

Lalu dia membawa teh itu menuju kamar tempat Soo Hyun dan Seo Young bicara.

Tapi Seo Young keluar dan bilang akan minum teh lain kali.

Eun Soo : Seo Young-ah.

Seo Young berbalik dan menatap Eun Soo.

Seo Young : Kau senang?

Eun Soo : Apa maksudmu?

Seo Young : Bukan apa-apa. Aku hanya bersikap bodoh.

Eun Soo : Seo Young-ah. Kurasa semuanya tergantung pola pikirmu.

Seo Young : Sekalipun kau berkhayal? Tidak perlu mengantarku keluar.

Seo Young beranjak pergi.

Setelah Seo Young pergi, Eun Soo di SMS si ‘Galeri’.

“Kau tidak bisa dihubungi seharian. Aku ingin tahu pendapatmu”
“Aku merindukanmu. Bolehkah aku ke sana untuk menemuimu?”

Eun Soo pun resah.

Seo Young beranjak keluar, tapi sampai di luar, dia menemukan bungkusan hitam dan kotak hitam.

Sementara itu, Mi Do baru saja selesai cek kandungan.

Dokter bilang bayi Mi Do sehat dan meminta Mi Do agar berhati-hati menjaga kandungan.

Suster mengantarkan Mi Do keluar.

Ponsel Mi Do berbunyi, telepon dari Jang Ho.

Jang Ho bilang dia tak bisa menemani Mi Do karena ada rapat.

Jang Ho : Mereka setuju menemuiku, jadi, kurasa aku harus pergi. Kurasa mereka menyukai naskahku.

Mi Do bilang tak apa-apa.

Mi Do : Akan kujelaskan kepada semuanya.

Jang Ho lalu memutus teleponnya begitu aja, membuat Mi Do kecewa.

Jang Ho sendiri beranjak pergi dari kantornya.

Soo Hyun muntah-muntah di kamar mandi.

Eun Soo datang.

Eun Soo : Ada apa, yeobo?

Soo Hyun : Bukan apa-apa. Biarkan aku membersihkan diri.

Eun Soo : Jangan terlalu memaksakan diri.

Soo Hyun : Maafkan aku.

Eun Soo pun beranjak keluar.

Soo Hyun pun pergi.

Dia berhenti karena kereta api akan lewat.

Soo Hyun teringat pembicaraannya dengan Seo Young tadi.

Seo Young bilang, yang dia inginkan adalah Soo Hyun.

Tapi Soo Hyun menolak.

Seo Young marah, setelah kejadian yang menimpa Jun Yeong, aku hanya bertahan karena janjimu, tapi janji itu akan segera dilanggar. Tidak pantaskah aku menerima penghiburan yang kuminta?

Seo Young juga bilang, dia akan membiarkan Se Ra ditangkap asal Soo Hyun mau tidur dengannya.

Seo Young meletakkan kunci kamar hotel di atas meja.

Seo Young : Tidur denganku atau lepaskan berita itu. Aku akan menunggumu. Jangan terlambat.

Seo Young sudah di kamar hotel.

Dia menyiapkan kamera kecil. Sepertinya dia berencana menjebak Soo Hyun.

Soo Hyun sendiri sudah tiba di lobi hotel.

Narasi Soo Hyun terdengar.

Soo Hyun : Seseorang bilang ada empat jenis persimpangan dalam hidup. Saat kau harus bisa membedakan yang benar dan salah. Saat kau harus memilih jalan yang mudah atau sulit. Saat kau terpaksa melakukan sesuatu. Saat kau merasa tidak puas meski tidak menyesal.

Seo Young mulai melepaskan bajunya.

Sementara Soo Hyun bersama Seo Young, Jang Ho bersama Eun Soo di kamar hotel.

Jang Ho duduk di ranjang, memakai baju handuk.

Eun Soo yang berdiri di depan Jang Ho, mulai membuka kancing bajunya perlahan-lahan.

Tapi Jang Ho memanggil Eun Soo dengan nama Eun Ho.

Saat Eun Soo melepaskan kancing bajunya, Soo Hyun masuk ke kamar hotel dengan kunci kamar yang diberikan Seo Young.

Tapi begitu masuk, dia mendapati Eun Soo bersama Jang Ho di dalam kamar.

Tapi, tentu saja Soo Hyun tidak benar-benar memergoki Eun Soo dan Jang Ho.

Karena saat Soo Hyun masuk, Eun Soo sudah mengenakan blazernya.

Sementara saat bersama Jang Ho, Eun Soo sedang membuka kancing kemejanya.

Bersambung…..

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like