The Road : The Tragedy of One Eps 4 Part 1

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Road : The Tragedy of One Episode 4 Part 1, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek juga episode sebelumnya disini.

Sebelumnya…

Di episode sebelumnya, Eun Soo berada di dalam kamar hotel dengan Jang Ho.

Jang Ho duduk di ranjang, hanya dengan baju handuk.

Eun Soo perlahan melepaskan kancing kemejanya.

Jang Ho menatap Eun Soo dengan tatapan penuh hasrat.

Tapi… Jang Ho tiba-tiba memanggil Eun Soo dengan nama ‘Eun Ho’.

Jang Ho lalu berdiri dan menciumi Eun Soo.

Tapi Eun Soo diam saja.

Jang Ho menatap Eun Soo, ada apa Eun Ho-ya?

Lalu Jang Ho lanjut menciumi Eun Soo.

Eun Soo marah dan menampar Jang Ho.

Jang Ho terkejut ditampar Eun Soo.

Eun Soo : Lihat aku apa adanya.

Jang Ho tak mau menerima kenyataan dan berkeras bahwa Eun Soo adalah Eun Ho.

Eun Soo menampar Jang Ho sekali lagi.

Eun Soo : Bahkan sekarang?

Raut wajah Jang Ho mulai berubah sedih. Dia lalu memeluk Eun Soo dan bilang kalau dia mencintai Eun Soo.

Jang Ho lantas terduduk dan memeluk kaki Eun Soo.

Jang Ho : Kumohon, jangan lakukan ini kepadaku. Kumohon jangan. Kumohon. Tolong jangan lakukan ini. Jangan lakukan ini.

Eun Soo beranjak pergi.

Diluar, dia jatuh terduduk dan menangis.

Tapi tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Eun Soo pun berdiri dan menjawab ponselnya. Telepon dari Seo Young.

Seo Young menyuruh Eun Soo datang. Eun Soo minta maaf dan berkata dia tak bisa, tapi Seo Young ngancam akan bunuh diri jika Eun Soo tak datang.

Tentu saja Eun Soo kaget.

Seo Young lalu memberikan alamatnya dan Eun Soo langsung pergi.

Seo Young yang berdiri di depan jendela, teringat kata-kata Eun Soo.

Eun Soo : Kurasa semuanya tergantung pola pikirmu.

Seo Young kesal, itu semua tergantung pola pikirmu.

Eun Soo keluar dari lift dan terus berjalan dengan terburu-buru menuju kamar Eun Soo.

Bersamaan dengan itu, Soo Hyun juga menuju kamar Seo Young.

Eun Soo pun tiba di kamar Seo Young.

Dia langsung masuk begitu mendapati pintu kamar hotel tidak terkunci.

Tapi dia tak mendapati siapapun di sana.

Tak lama kemudian, Soo Hyun masuk dan terkejut mendapati Eun Soo ada di sana.

Eun Soo juga kaget melihat suaminya di sana.

Lalu Eun Soo melihat Soo Hyun memegang kunci kamar hotel.

Soo Hyun yang gugup, langsung meremas kunci itu.

Soo Hyun juga melihat kancing kemeja Eun Soo yang terbuka.

Keduanya saling menatap curiga.

Eun Soo : Yeobo, kenapa kau disini?

Soo Hyun bingung menjawabnya.

Eun Soo lalu melihat ponselnya dan celingukan mencari Seo Young.

Soo Hyun pun bisa menebak kalau Eun Soo dihubungi Seo Young.

Soo Hyun : Kau ditelepon?

Eun Soo : Ya. Dia terdengar sangat gelisah.

Soo Hyun : Aku juga berpikir begitu.

Pandangan Eun Soo lalu kembali mengarah ke kunci kamar hotel di tangan Soo Hyun.

Soo Hyun mau menjelaskan, tapi ponsel Eun Soo tiba-tiba berbunyi.

Eun Soo menjawab, Seo Young-ah. Baiklah.

Usai bicara dengan Seo Young, Eun Soo memberitahu Soo Hyun bahwa Seo Young sudah tenang dan pergi.

Soo Hyun lega mendengarnya, lalu dia menjelaskan, kalau dia sengaja meminta kunci kamar hotel ke resepsionis untuk berjaga-jaga.

Soo Hyun : Jika dia meneleponmu dengan kondisi seperti itu lagi, beri tahu aku dahulu. Dia merasa gelisah sejak berita itu dirilis.

Eun Soo : Baiklah.

Eun Soo beranjak ke pintu, tapi Soo Hyun memanggilnya.

Eun Soo menoleh.

Soo Hyun : Lehermu.

Eun Soo bingung, leherku? Di mana?

Ternyata ada bekas kecupan di leher Eun Soo dan Soo Hyun melihat itu.

Tapi Soo Hyun tidak memperpanjangnya. Dia bilang lupakan, lalu mengajak Eun Soo pulang.

Seo Young sendiri ada di kamar lain.

Dia berdiri menatap keluar jendela.

Di belakangnya, seorang perempuan berdiri menatapnya.

Seo Young : Dari atas, semuanya terlihat seperti butiran debu. Ini semua sangat tidak berarti. Bukankah begitu?

Perempuan itu tanya, apa yang Seo Young rencanakan? Kenapa dia di sana.

Seo Young : Aku punya dua kartu. Kurasa aku akan memainkan yang satunya dahulu.

Dan ternyata perempuan itu adalah Yeo Jin.

Yeo Jin : Maksudmu itu aku?

Seo Young berbalik, cari seseorang untuk menggantikanku di berita tengah malam. Malam ini akan menjadi pertunjukan terakhirku.

Yeo Jin : Kenapa kau seperti ini? Kau tahu itu tidak bisa dilakukan begitu saja.

Seo Young melihat ponselnya.

Seo Young : Ini bukan diskusi atau negosiasi.

Yeo Jin : Jangan melewati batas.

Seo Young : “Baek Soo Hyun”, “Cha Seo Young”, “Penculikan Royal The Hill”, “News Night”. Itu kata kunci yang sedang tren saat ini. Bahkan ada harga apartemen Royal The Hill.

Seo Young lalu beranjak mendekati Yeo Jin.

Seo Young : Kau yang bilang begitu, bukan? Bahwa publik menyukai tarian wanita gila di kelas Konfusius. Wanita gila yang menari itu adalah aku. Kau mendapatkan keinginanmu. Aku menjual putraku agar lebih berhasil. Apa batasan yang tidak bisa kulewati?

Yeo Jin membelai rambut Seo Young.

Yeo Jin : Anggap saja aku menemukan penggantimu. Apa selanjutnya?

Seo Young berbalik dan bilang kalau dia sedang memikirkan permintaan berikutnya.

Tiba-tiba, Yeo Jin memegang tangan Seo Young.

Lalu Yeo Jin memeluk Seo Young.

Yeo Jin : Apa pun itu, bisa beri aku waktu?

Seo Young berbalik dan menatap Yeo Jin.

Seo Young : Kau dan aku tidak punya waktu. Ini kesempatan terakhir kita. Gedung Biru memanggilmu karena Soo Hyun. Apakah mereka juga tahu hubungan rahasiamu?

Yeo Jin : Kau bertekad untuk melakukannya sampai akhir.

Seo Young membelai kepala Yeo Jin.

Seo Young : Ya. Aku harus mendaki setinggi mungkin, meski harus jatuh dan mati.

Yeo Jin mau pergi, tapi langkahnya terhenti.

Seo Young pun mendekati Yeo Jin dan memeluknya.

Seo Young : Aku sudah memesan layanan kamar. Masih ada waktu sampai berita itu tayang.

Seo Young lalu mendudukkan Yeo Ji di atas kasur.

Setelah itu, dia beranjak menuju kamar mandi, melewati kamera kecil yang diletakkannya di sela-sela tanaman.

Soo Hyun menemani Eun Soo sampai mobil Eun Soo datang.

Tak lama, mobil Eun Soo datang dibawakan petugas valet.

Soo Hyun : Aku akan meneleponmu setelah berita.

Eun Soo : Baiklah.

Soo Hyun : Hati-hati di jalan.

Setelah Eun Soo pergi, Soo Hyun kembali teringat dengan bekas kecupan di leher Eun Soo.

Soo Hyun pun berusaha menepis kecurigaannya.

Di layar LCD sebuah gedung, menampilkan berita Seo Young yang berbagi perasaannya soal kematian Jun Yeong.

Tak lama kemudian, Soo Hyun menepikan mobilnya tak jauh dari gedung itu.

Dia turun dan memikirkan kata-kata Seo Young saat Seo Young tadi di rumahnya.

Seo Young : Fokus orang akan berubah! Itu sebabnya tidak boleh diberitakan! Tidak seharusnya kau mengambil semua yang bagus. Tidur denganku atau lepaskan berita itu.

Soo Hyun pun penasaran kenapa Seo Young tiba-tiba berubah pikiran.

Lalu Soo Hyun menatap ke layar LCD dan sadar kalau Seo Young punya kartu baru.

Ponsel Soo Hyun berbunyi. SMS dari Seo Young.

“Kuharap itu menjadi pelajaran. Sampai jumpa di kantor”

Dan Soo Hyun pun bergegas pergi.

Eun Soo kembali ke rumah.

Wajahnya terlihat sangat kesal.

Lalu, dia menatap ke arah mejanya.

Eun Soo pun bergegas ke mejanya, lalu dia membuka lacinya dan mengambil berkas dari dalam kotak.

Ternyata, hadiah yang Eun Soo terima sebelum malam amal bukan berkas asli, tapi skenario.

Skenario yang ditulis oleh Jang Ho.

Eun Soo lalu membaca nama ‘Eun Ho’ di pojok atas.

Eun Soo kemudian menghancurkan naskah itu.

Dia memotong naskahnya pakai pemotong kertas, sampai jarinya terluka.

Dia baru berhenti memotong saat mendengar bunyi bel.

Eun Soo menatap jarinya yang terluka.

Kamera menyorot tulisan yang ada di potongan naskah yang ternoda darah Eun Soo.

“Ini bukan kisah penculikan. Ini tentang kisah cinta seorang pria”

Moon Do masuk dan melihat Eun Soo tengah mengobati jarinya yang luka.

Moon Do : Kau butuh bantuan?

Eun Soo : Tidak.

Moon Do : Kau melukai jari yang sama lagi. Oh Jang Ho. Aku mengajukan surat perintah larangan mendekat lagi.

Eun Soo : Baiklah.

Moon Do : Pimpinan khawatir. Jangan datang terlambat.

Moon Do beranjak pergi.

Seorang wanita minum di tengah kegelapan rumahnya.

Wanita itu Mi Do.

Mi Do lalu berjalan normal, tanpa tongkat. Tidak seperti orang buta.

Tak lama, Jang Ho pulang.

Mi Do : Kau pulang lebih awal. Kau bilang akan terlambat. Rapat dengan perusahaan produksi berjalan lancar?

Jang Ho : Kurang lebih begitu.

Mi Do : Perusahaan asuransi menelepon tadi.

Jang Ho : Benarkah?

Jang Ho lalu menepuk tangannya dan lampu seketika menyala.

Jang Ho lantas menatap Mi Do.

Mi Do : Kau sudah makan malam?

Jang Ho : Aku sudah makan. Bagaimana denganmu?

Mi Do : Itu… Aku juga.

Jang Ho : Aku lelah. Kau juga harus beristirahat.

Mi Do : Tapi….

Jang Ho beranjak pergi.

Sepertinya Mi Do belum makan malam, tapi dia berbohong dan sepertinya dia juga ingin memberitahu Jang Ho soal kehamilannya.

Di kamarnya, Jang Ho menatap beberapa slide foto.

Foto pertama, adalah foto Jang Ho bersama seorang wanita berambut panjang.

DI foto itu, Jang Ho memeluk wanita itu.

Di foto kedua, foto Jang Ho bersama wanita berambut pendek.

Mereka saling bertatapan.

Di foto ketiga, adalah foto Eun Soo.

Tanpa di sadari, Mi Do membuka pintu dan melihat Jang Ho tengah menatap foto-foto itu.

Mi Do langsung menutup pintu. Wajahnya terlihat sedih, seakan dia bisa melihat foto-foto itu.

Mi Do lalu menghubungi seseorang.

Bersamaan dengan itu, Sung Hwan juga berbicara dengan seseorang di telepon.

Sung Hwan : Jangan terlalu memikirkannya. Ini demi keadilan. Jangan khawatir.

Bersambung ke part 2….

Makin pusing gak sih guys kalian nontonnya?

Itu di slide pertama sama kedua, ceweknya siapa ya yang sama Jang Ho? Kalo di foto ketiga kan, Eun Soo…

Terus si Mi Do kayaknya gak buta… Dia bicara sama siapa itu di telepon? Sama Sung Hwan???

Ni drama semua karakter nya punya rahasia…

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like