The Road : The Tragedy of One ep 9 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Road : The Tragedy of One Episode 9 Part 3, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek juga episode sebelumnya disini.

Sebelumnya…

Jang Ho di rumah sakit. Dia melamun, menatap langit-langit kamar rumah sakitnya.

Tak lama, ponselnya berbunyi. Dia tersenyum menatap layar LCD nya dan langsung bangun.

Melihat ekspresinya, sudah jelas siapa yang menghubunginya. Eun Soo.

Jang Ho pede. Dia pikir Eun Soo mengkhawatirkannya, padahal enggak.

Eun Soo marah, ada apa denganmu dianggap si penculik?

Jang Ho : Soo Hyun langsung menyimpulkan, berasumsi tanpa alasan.

Eun Soo : Apa yang kau lakukan? Katakan sekarang.

Jang Ho marah karena Eun Soo cuma mempedulikan Soo Hyun.

Jang Ho : Bedebah itu mencoba membunuhku. Dia benar-benar sudah gila.

Eun Soo : Jaga ucapanmu.

Lalu Eun Soo tanya, Jang Ho di RS mana.

Jang Ho : Jangan khawatir, aku baik-baik saja.

Eun Soo tegas, rumah sakit mana?

Pembicaraan selesai.

Jang Ho terlihat kesal karena Eun Soo gak mempedulikan dirinya yang nyaris dibunuh Soo Hyun.

Soo Hyun mewawancarai staf River.

“Pak Oh? Dia bersama kami terus. Dia berada di Hanseo-dong seharian untuk merekam dokumenter tentang penderita gangguan visual.”

“Dia ikut pergi setelah itu? Sepanjang waktu?”

“Ya. Dia mentraktir kami makan malam yang sangat enak.”

Soo Hyun bingung.

“Dia punya alibi sepanjang malam sebelum insiden itu.” ucapnya dalam hati.

“Ini akan membantu mempromosikan dokumenter kami?” tanya staf River.

“Di mana syutingnya?” tanya Soo Hyun.

Soo Hyun pun langsung ke restoran itu. Restoran Dark Dining.

Soo Hyun mewawancarai manajer restoran.

“Kapan syutingnya?” tanya Soo Hyun.

“Selama waktu duduk kedua.” jawab manajer.

“Ini semua video yang kau miliki?” tanya Soo Hyun.

“Ya. Kami punya video sejak waktu duduk pertama, tapi kameranya mati di bagian kedua. Mereka memintanya karena ada masalah hak cipta. Restoran kami cukup kooperatif dengan acara TV.”

Manajer menunjukkan video rekaman CCTV.

Dan memang benar, Jang Ho disana sepanjang waktu.

“Saat mereka makan, gelap gulita, bukan?” tanya Soo Hyun.

“Kami memakai tirai hitam khusus untuk menghalangi cahaya agar bisa merasakan hal-hal yang tidak pernah kau sadari sebelumnya. Beberapa tamu kewalahan. Itu sebabnya kami mempekerjakan pegawai dengan gangguan visual.”

“Kau di sini selama syuting?” tanya Soo Hyun.

“Tentu saja. Itu akan membantu orang dengan gangguan visual.” jawab manajer.

“Oh Jang Ho juga terus berada di sini?” tanya Soo Hyun.

“Dia di sini sampai kami tutup, pukul 11 malam lewat dan bersama tim setelahnya.”

Soo Hyun tambah bingung.

“Oh Jang Ho tertangkap kamera di awal dan akhir. Saat dan sesudah ruangan menjadi gelap. Mungkinkah dia ada di sana selama itu?” tanyanya dalam hati.

Lalu Soo Hyun melihat Mi Do di rekaman CCTV.

Dia ingat Mi Do adalah gadis yang dibawa Jang Ho ke rumahnya. Jang Ho mengenalkan Mi Do sebagai kekasihnya.

Soo Hyun pun yakin, Mi Do tahu sesuatu.

“Ada masalahkah?” tanya manajer.

“Begini. Aku ingin membahas ini lebih lanjut. Lee Mi Do belum datang?”

“Dia tiba-tiba mengambil cuti. Dia bilang ada masalah keluarga.”

Mi Do datang menjenguk Jang Ho.

Jang Ho bilang dia gak suka Mi Do datang.

Jang Ho : Kubilang aku tidak menyukainya.

Mi Do : Kudengar kau ditembak dan dipukuli. Apa yang terjadi?

Jang Ho : Ada kesalahpahaman. Bukan apa-apa, kita bicarakan hal lain saja. Duduklah.

Jang Ho memegang tangan Mi Do dan membantu Mi Do duduk.

Mi Do : Bahkan ada luka di tanganmu.

Jang Ho pun langsung menarik tangannya dari tangan Mi Do.

Jang Ho kesal, Mi Do-ssi!

Jang Ho lalu menghela napas dan kembali memegang tangan Mi Do.

Wajah Mi Do tampak sedih.

Jang Ho : Aku terlalu sibuk dengan investasi film. Maaf jika aku membuatmu kesal.

Mi Do : Sekitar waktu ini tahun lalu, kita menonton film bersama di rumah. Kau ingat? Film yang tokoh utamanya buta. Film itu.

Jang Ho : Aku ingat.

Mi Do : Aku sangat menyukai film itu. Lebih tepatnya, momen saat kita menonton bersama sangat berharga bagiku. Kau menjelaskan setiap adegan kepadaku. Seolah-olah kau menjadi mataku.

Jang Ho : Benar.

Mi Do : Dahulu dan sekarang, aku tidak bisa melihat apa pun. Tapi itu tidak penting.

Mi Do lalu meletakkan tangan Jang Ho di perutnya.

Mi Do : Ini anak kita.

Sontak lah Jang Ho kaget. Tapi kemudian Jang Ho bilang, itu kabar baik.

Mi Do : Aku tidak akan memintamu bahagia.

Jang Ho : Aku… Mi Do…

Mi Do : Perasaan yang kau tunjukkan kepadaku sampai sekarang sudah cukup bagiku. Tapi… Setidaknya demi anak ini, tolong jangan pergi terlalu jauh. Bisakah kau menjanjikan satu hal untukku?

Eun Soo masuk ke kamar untuk mengambil blazernya.

Dia melihat Yeon Woo masih tidur. Lalu Eun Soo menangis.

Yeon Woo tiba-tiba terbangun, ibu?

Eun Soo bergegas menghapus tangisnya.

Eun Soo : Kau sudah bangun.

Yeon Woo : Kenapa ibu menangis?

Eun Soo : Tidak. Ibu tidak menangis. Ibu akan pergi untuk urusan mendesak. Bibi akan membantumu.

Yeon Woo : Baiklah.

Eun Soo mau pergi tapi Yeon Woo bicara lagi.

Yeon Woo : Tapi, Bu. Boleh kusentuh wajah ibu?

Eun Soo : Sekarang bukan waktu yang tepat.

Yeon Woo : Aku tidak ingat seperti apa wajah ibu. Aku juga tidak ingat wajah ayah. Aku tidak bisa membayangkannya.Seolah-olah aku belumpernah melihatnya.

Eun Soo : Itu pasti sementara.

Yeon Woo : Tapi… Aneh, bukan? Aku bisa mengingat wajah Jun Yeong dengan jelas.

Eun Soo lantas duduk disamping Yeon Woo.

Eun Soo : Besok, mari kita ke rumah sakit dan menanyakan detailnya.

Yeon Woo : Baiklah. Tapi sekarang sudah malam atau siang?

Eun Soo : Ini siang hari.

Yeon Woo : Begitu rupanya. Hati-hati di jalan.

Yeon Woo kembali tidur.

Di koridor RS, Eun Soo papasan sama Mi Do yang baru keluar dari kamar Jang Ho.

Karena Mi Do tak bisa melihat, Eun Soo memilih tak menyapa Mi Do dan berjalan diam-diam.

Tapi Mi Do mendadak berhenti berjalan, membuat Eun Soo juga berhenti berjalan.

Lalu Mi Do berjalan kembali tanpa menyadari ada Eun Soo di dekatnya.

Tapi benarkah Mi Do tak bisa melihat?

Seseorang membuka pintu kamar Jang Ho. Jang Ho pikir itu Mi Do. Dia marah.

Jang Ho : Aku menyuruhmu makan siang. Kenapa kau kembali secepat itu?

Tapi yang diajak bicara diam saja.

Jang Ho berbalik dan senyumnya langsung terukir melihat Eun Soo berdiri di depannya.

Eun Soo menangis melihat keadaan Jang Ho.

Jang Ho : Jangan menangis. Kalau kau menangis, aku… Maafkan aku karena telah menyakitimu. Aku juga tidak ingin menyakitimu.

Eun Soo marah, apa artiku bagimu hingga kau bertindak sejauh ini untukku? Kenapa kau harus mengalami ini karena aku? Bagaimana jika kau benar-benar mati?

Jang Ho : Berhentilah menangis.

Eun Soo : Jang Ho-ssi, mari kita hentikan. Lepaskan aku. Relakan aku. Tidak, tolong buang aku. Kumohon.

Jang Ho : Ini tidak akan terjadi lagi. Jadi, kumohon jangan bicara seperti itu, ya?

Jang Ho kemudian marah, ini karena Baek Soo Hyun? Aku meminta pertimbangan yang menguntungkan, jadi, tidak akan terjadi apa-apa. Aku berjanji.

Eun Soo : Bukan karena itu.

Jang Ho : Kau lupa betapa istimewanya kita? Hubungan kita berbeda. Aku tidak bisa mengakhirinya seperti ini.

Eun Soo : Ini terlalu menyiksa. Terlalu sulit bagiku. Aku bahkan tidak bisa bernapas.

Jang Ho : Apa yang membuatmu semenderita itu? Karena Baek Soo Hyun? Atau aku?

Eun Soo : Aku. Karena aku dan Yeon Woo. Aku tidak bisa lagi melanjutkannya. Kumohon.

Eun Soo bahkan berlutut, memohon agar Jang Ho melepasnya.

Jang Ho gak mau.

Jang Ho : Kau hanya butuh waktu sekarang. Jangan menyerah.

Eun Soo : Jang Ho-ssi, kumohon.

Jang Ho : Aku tidak mau mendengarnya lagi. Kau tidak pernah datang ke sini, aku tidak mendengar apa pun. Kembalilah sekarang.

Soo Hyun di depan apartemen Jae Yeol dan Mi Do.

Dia coba menghubungi Mi Do tapi nomor Mi Do tak aktif.

Soo Hyun lantas kembali ke mobilnya.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dia fikir dari Mi Do, tapi dari Eun Soo.

Soo Hyun : Aku berniat meneleponmu, tapi lupa. Maaf sudah mengejutkanmu.

Eun Soo : Kau baik-baik saja?

Soo Hyun : Ya.

Eun Soo : Di mana kau sekarang?

Soo Hyun : Tidak jauh.

Eun Soo : Bisakah kita bicara?

Soo Hyun : Sekarang?

Eun Soo : Aku rasa ini saatnya bicara. Jangan menundanya lagi.

Soo Hyun : Sampai jumpa di rumah.

Sung Ja di kantor polisi. Dia menyuruh Seok Hoon menyelidiki Sopir Kim.

Sung Ja : Dia orangnya.

Seok Hoon : Ada alasan bagi kami untuk menganggapnya sebagai tersangka?

Sung Ja : Dia memeras kami. Ini. Ini catatan transaksi uang yang kukirimkan tiap kali dia memeras kami.

Sung Ja menunjukkan bukti dia mengirimkan uang ke Sopir Kim.

Seok Hoon : Anggota Dewan Hwang tidak pernah bilang dia diancam.

Sung Ja : Dia meneleponku. Tidak banyak awalnya, tapi dia mulai meminta lebih. Aku tidak ingin menodai karier politik suamiku, jadi, aku berusaha mengatasinya tanpa memberitahunya. Dia mungkin sekretaris, tapi sopir itu mantan narapidana. Orang tidak pernah berubah.

Seok Hoon : Aku akan menyelidikinya.

Sung Ja : Seharusnya kau memanggilku ke ruang interogasi.

Kyung Sook membakar daging.

Dia memasak dengan penuh semangat.

Setelah dagingnya masak, dia memindahkannya ke piring lalu menyajikannya ke Gi Tae.

Kyung Sook lantas duduk.

Kyung Sook : Selamat menikmati. Aku tahu kau suka daging.

Gi Tae : Terlihat lebih besar dari ukuran biasanya. Mungkin karena ini makanan terakhir yang kau masak untukku.

Kyung Sook lalu mengambil serbet tisu di depannya dan mengelap buah dadanya.

Gi Tae melihatnya.

Kyung Sook : Buah dadaku berkeringat. Sangat berliku seperti hidupku ini. Hidup sungguh tidak mudah. Memasak makanan saja sudah membuatku berkeringat sebanyak ini. Jadi, aku harus bekerja lebih keras agar anakku bisa memiliki kehidupan yang stabil.

Kyung Sook juga mencelupkan tisu bekas ngelapin keringatnya tadi ke air, lalu menghapus make up di wajahnya pakai tisu itu.

Setelah itu, dia mencabut bulu mata palsunya dan menaruhnya di delam gelasnya yang berisi air, lalu meminum air itu.

Gi Tae : Jadi, kau bertekad melakukan apa pun demi mendapat yang kau mau sebelum berakhir di penjara?

Kyung Sook : Kau mengenalku. Begitu memutuskan sesuatu, aku tidak pernah membiarkan orang lain memilikinya.

Gi Tae : Jadi, apa maksudmu?

Kyung Sook : Biarkan aku membantumu menyingkirkan Anggota Dewan Hwang dengan membuatnya bertanggung jawab atas semua penyimpangan yayasan. Aku juga akan meminta pertanggungjawaban istrinya.

Gi Tae : Kau akan membantuku menyingkirkan semua ranting?

Kyung Sook : Itu akan membantu pohon tumbuh bagus dan tinggi. Nutrisinya tidak boleh ke mana-mana.

Gi Tae : Apa syaratnya?

Kyung Sook : Aku tidak akan meminta terlalu banyak. Aku ingin kau mengubah wasiatmu. Berikan Jung Wook bagian yang adil dari warisanmu dan saham afiliasi perusahaan. Selain itu, beri dia setengah dari semua itu di muka. Dengan begitu, dia bisa bertahan tanpaku dan aku bisa dipenjara dengan tenang.

Mendengar itu Gi Tae tertawa.

Gi Tae : Aku tidak pernah menyangka akan melihat sifat aslimu lagi.

Kyung Sook : Hari pertama datang ke sini, aku bertekad untuk menjalani hidupku seolah terlahir elegan. Sayangnya, kurasa kau tidak bisa mengubah sifatmu.

Kyung Sook lalu mencoba daging steak nya.

Kyung Sook : Ini yang kumaksud. Daging ini memang yang terbaik. Kau setuju, bukan?

Gi Tae : Aku tidak akan pernah melupakan daging yang kau masak untukku.

Habis makan malam dengan Gi Tae, Kyung Sook pergi ke halaman belakang.

Dia mau merokok, tapi kesulitan mencari koreknya.

Moon Do datang menyalakan korek.

Melihat Moon Do, Kyung Sook menyimpan kembali rokoknya.

Kyung Sook : Aku melakukan banyak hal untuk kali terakhir hari ini.

Moon Do : Aku tidak akan bisa mengunjungimu.

Kyung Sook : Karena ini akan menjadi yang terakhir, bagaimana jika kita melakukan hal lain?

Moon Do : Tidak ada alasan untuk menolak.

Mereka lantas berciuman.

Young Shin memberikan catatan kriminal Sopir Kim ke Seok Hoon.

Young Shin : Dia punya catatan kriminal terkait penganiayaan. Tapi kejadiannya sudah lama. Itu mungkin terjadi saat dia masih menjadi aktivis.

Seok Hoon : Banyak mantan aktivis bekerja untuk politikus. Kini, mereka harus menggunakannya untuk melawannya.

Young Shin : Sepertinya suami dan istri itu sudah bersepakat mengatakan apa jika terjadi masalah.

Seok Hoon : Periksa Seo Jung Wook dan Choi Se Ra. Semoga kita dapat sesuatu.

Jung Wook masih di ruang interogasi sama pengacaranya.

Dia kesal, bukankah mereka menangkap seorang anggota dewan sebagai pelakunya? Lantas, kenapa mereka tidak mau melepaskanku? Aku bersumpah akan membunuh Se Ra begitu keluar dari sini!

Pengacaranya meminta Jung Wook menjaga sikap. Dia bilang mereka direkam.

“Bagaimana dengan ibuku? Kau belum bisa menghubunginya?”

“Ya.”

“Yang benar saja. Kau dibayar mahal untuk menangani kasus ini. Pikirkanlah ide bagus untuk mengeluarkanku dari sini.”

Jung Wook lalu menyuruh pengacaranya keluar untuk menelpon ibunya.

Pengacaranya nurut dan bergegas keluar.

Setelah pengacaranya keluar, Jung Wook beranjak ke depan jendela.

Dia mengetuk jendela.

Jung Wook : Ada detektif di sana?

Seok Hoon yang mengawasi dari balik jendela, menjawab.

Seok Hoon : Aku mendengarkan.

Jung Wook : Matikan kamera dan mikrofonnya. Jika kau lakukan, akan kukatakan yang sebenarnya.

Begitu Soo Hyun masuk, Young Shin langsung menyalakan kamera dan mikrofon.

Young Shin : Akhirnya.

Akankah Jung Wook mengatakan yang sebenarnya?

Bersambung ke part 4….

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Best Mistake Ep 1

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Best Mistake Episode 1, Nih gaes untuk spoiler lengkap disediakan pada recap di tulisan yang…