The Road : The Tragedy of One Ep 7 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Road : The Tragedy of One Episode 7 Part 3, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek juga episode sebelumnya disini.

Sebelumnya…

Jung Wook menepikan mobilnya di tepi jalan.

Lalu dia turun dan muntah-muntah.

Setelah itu, dia dihubungi oleh sang ibu. Dia kesal dan memilih tak menjawab.

Usai sang ibu, giliran Se Ra yang menghubunginya.

Dia semakin kesal dan tidak menjawab panggilan Se Ra.

Jung Wook lantas melihat spanduk ‘Tempat Rongsokan Misung’ di depannya.

Hmmm… ternyata Jung Wook ada di tempat itu.

Maka Jung Wook bergegas masuk.

Tanpa dia sadar, Young Shin masih mematainya.

Jung Wook marah-marah sama pemilik tempat itu.

“Sial. Katakan di mana tempatnya! Aku harus melihatnya sendiri!”

“Berapa kali harus kukatakan? Sudah dihancurkan dan dibawa pergi ke pusat limbah!”

“Kau memberikannya kepada polisi, bukan? Kau tahu siapa aku? Tidak ada yang menentang keluargaku dan hidup untuk membicarakannya! Jangan coba-coba mencari masalah!”

Jung Wook mencengkram kerah pemilik tempat itu.

Pemilik tempat itu melawan, dasar anak muda brengsek!

“Buktikan kau tidak menyerahkannya kepada mereka! Sekarang!”

Lalu Young Shin datang bersama Seok Hoon.

Jung Wook bilang Seok Hoon gak bisa menangkapnya.

Jung Wook : Ini melanggar hukum. Kau punya bukti?

Seok Hoon lebih pintar. Dia menyuruh Jung Wook menghembuskan napas.

Awalnya Jung Wook gak mau dan mengatai Seok Hoon aneh.

Seok Hoon : Kubilang hembuskan napas.

Jung Wook yang kesal, menghembuskan napas.

Jung Wook : Bagaimana? Seperti ini?

Dan Seok Hoon langsung mengarahkan alat pengetes kadar alkohol ke mulut Jung Wook begitu Jung Wook menghembuskan napas.

Seok Hoon : Ini buktinya.

Seok Hoon lalu memeriksa mata Jung Wook.

Seok Hoon : Mengemudi dalam keadaan mabuk dan kabur dari TKP. Kau sudah teler lagi?

Jung Wook : Aku mau pengacaraku.

Seok Hoon : Seo Jung Wook. Kau ditangkap karena pelanggaran lalu lintas.

Young Shin lantas membawa Jung Wook pergi.

Se Ra kesal karena ponsel Jung Wook mendadak gak aktif.

Se Ra : Kenapa pecundang itu tidak menjawab?

Sementara itu. Jung Wook di mobil sama Young Shin.

Tangan Jung Wook diborgol.

Seok Hoon menanyai pemilik tempat Rongsokan Misung.

Dia bilang, Jung Wook adalah tersangka utama dalam kasus penculikan.

“Kau dibayar untuk menghancurkan mobil yang mungkin digunakan untuk menculik.”

Pemilik tempat terdiam. Lalu tak lama kemudian, dia bilang wanita paru baya datang setelah tengah malam. Dan wanita itu sangat cantik.

Seok Hoon pun meraih ponselnya dan mencari artikel Kyung Sook yang ada foto Kyung Sook nya.

Setelah itu, dia menunjukkan foto Kyung Sook ke pemilik tempat rongsokan.

“Ini orangnya?”

“Ya, benar dia.”

Gi Tae masih memeriksa CCTV nya.

Moon Do kemudian datang dan melaporkan bahwa Jung Wook berulah lagi sampai ditangkap polisi.

Gi Tae : Kita tidak bisa membiarkan harga saham jatuh lagi. Hubungi kantor. Suruh mereka membuat pengumuman publik. Dia bertindak sendiri. Grup tidak berkaitan dengan hal ini dan dia akan menerima hukuman penuh.

Moon Do : Baik, Pak. Bagaimana dengan Direktur Bae?

Gi Tae : Masih perlu kita pikirkan. Awasi dia. Begitu meninggalkan lapangan, bola itu bukan lagi milik kita.

Moon Do : Baik, Pak.

Di layar tv yang terpasang di dinding gedung, ada berita Jung Wook dengan judul ‘Skandal Lain Orang Kaya’.

Dilaporkan bahwa pewaris Jegang mengemudi saat mabuk dan Jegang Group meminta hukuman tegas.

Eun Soo di taksi, masih berusaha menghubungi Soo Hyun.

Dia resah karena Soo Hyun tak menjawab juga.

Dia lantas menghubungi Seo Young.

Seo Young sendiri di kamar Jun Young.

Kamar Jun Young berantakan banget.

Sepertinya dia lagi mencari sesuatu.

Seo Young bilang dia tak bisa hubungi Jang Ho dan minta nomor lain.

Lalu panggilan Eun Soo masuk dan Seo Young pun berkata pada pihak River kalau dia akan menghubungi pihak River lagi nanti.

Seo Young lantas menjawab panggilan Eun Soo.

Seo Young : Kau pasti sangat gelisah. Kau langsung menelepon kembali.

Eun Soo : Kau tahu di mana Soo Hyun? Kau sudah mendengar kabar?

Seo Young : Apa maksudmu?

Dan Seo Young kaget mendengar dari Eun Soo kalau Soo Hyun menghilang.

Eun Soo lantas tanya, apa Seo Young tahu sesuatu.

Seo Young lalu merasa diatas angin. Dia bilang dia tak tahu apa-apa dan tidak mendengar apa-apa tapi dia bisa mencari tahu.

Eun Soo minta tolong.

Seo Young pun minta imbalan.

Eun Soo mengerti dan meminta Seo Young segera menghubunginya.

Yeo Jin di bar, sedang memperbaiki kalungnya yang dirusak Seo Young.

Tapi kemudian dia kesal dan meletakkan kalung itu di atas meja.

Lantas dia mau menenggak minumannya tapi tiba-tiba, ponselnya berbunyi dan dia langsung pergi dan meninggalkan kalungnya gitu aja di atas meja.

Yeo Jin ke toilet dan memastikan tidak ada orang lain di sana.

Setelah itu, barulah dia menjawab ponselnya.

Sepertinya telepon dari Gi Tae, karena suaranya mirip suara Gi Tae.

Gi Tae : Satu bulan lagi kau akan bergabung di Gedung Biru.

Yeo Jin : Ya, terima kasih.

Gi Tae : Tidak akan ada masalah sampai hari terakhirmu menjabat ketua, bukan?

Yeo Jin : Maaf aku bertanya, tapi apa maksudmu dengan masalah?

Yeo Jin lantas mengerti dan berkata tidak akan ada laporan lanjutan lagi di News Night.

Gi Tae : Kau sudah memutuskan siapa penerusmu?

Yeo Jin : Aku masih memikirkannya.

Eun Soo mendatangi Seo Young.

Eun Soo : Kau sudah tahu?

Seo Young : Kau pasti terburu-buru. Berikan dahulu yang kau janjikan.

Eun Soo : Beri tahu aku dahulu.

Seo Young : Bukankah seharusnya kau mencari Soo Hyun dahulu alih-alih membuang waktumu dengan bertengkar?

Seo Young duduk di sofanya, layaknya bos.

Eun Soo pun terpaksa mengembalikan obat Seo Young.

Seo Young : Dia pergi ke psikiater hari ini. Dia juga diresepkan banyak obat. Salah satu dokter di sana dekat denganku. Aku meminta rekaman kamera pengawasnya untuk memeriksa ke mana dia pergi.

Eun Soo terkejut, kenapa aku tidak memikirkannya?

Seo Young : Kau tidak merasa ada yang janggal beberapa hari ini? Seseorang seperti Soo Hyun pingsan dan hampir membuat kesalahan di berita. Kau tidak merasa aneh soal itu? Kamu istrinya.

Eun Soo : Itu karena terlalu banyak bekerja. Tidak lebih, tidak kurang.

Seo Young : Mungkin saja kau tidak sadar karena fokus kepada hal lain. Sunbae mungkin membuat pilihan buruk.

Eun Soo : Kenapa bicara seperti itu? Bagaimana kau bisa mengatakannya semudah itu?

Seo Young : Karena begitulah dia di mataku dua hari terakhir ini. Kau yakin kamulah yang paling mengenal Soo Hyun, bukan? Jangan menyanjung dirimu sendiri. Aku lebih mengenalnya. Kami bekerja di tim yang sama selama tujuh tahun. Aku mengalami banyak hal dibanding kau yang hidup bersamanya lebih dari 10 tahun.

Eun Soo : Aku harus mengatakan hal yang sama kepadamu. Yang kau alami bukan apa-apa.

Seo Young tertawa, begitukah?

Seo Young lantas berdiri dan mendekati Eun Soo.

Seo Young : Kalau begitu, kau tahu ini? Mimpi buruk apa yang dia alami setiap malam?

Eun Soo : Apa?

Seo Young : Kau tahu seperti apa emosi Soo Hyun saat melihat Pimpinan Seo, ayahmu?

Eun Soo : Apa maksudmu?

Seo Young : Pertemuan pertama mereka bukan sebagai mertua dan menantu. Kurasa kau bahkan tidak tahu itu.

Eun Soo : Aku tanya, apa maksudmu? Katamu kau yang paling mengenal Soo Hyun. Tanya saja sendiri. Itu pun jika dia kembali.

Kesal, Eun Soo pun beranjak pergi.

Setelah Eun Soo pergi, Seo Young menatap catatan panggilan terakhirnya.

Ada 3 nama di catatan panggilan terakhirnya. Yakni, Eun Soo, Yeo Jin dan Soo Hyun.

Dan Seo Young pun menghubungi Yeo Jin.

Yeo Jin di ruangannya, memikirkan kata-kata Gi Tae.

Gi Tae : Satu bulan lagi kau akan bergabung di Gedung Biru. Tidak akan ada masalah sampai hari terakhirmu menjabat ketua, bukan?

Ponsel Yeo Jin berdering.

Yeo Jin menjawabnya dengan malas.

Yeo Jin : Pasti ada yang kau butuhkan dariku. Kau meneleponku lebih cepat dari dugaanku.

Seo Young : Kau masih kesal?

Yeo Jin : Kapan kau pernah memedulikan perasaanku? Kau hanya meneleponku saat membutuhkan sesuatu.

Seo Young : Nanti kutelepon lagi. Kurasa sekarang belum waktunya.

Yeo Jin : Tidak, lupakan. Ada apa? Katakan.

Seo Young : Kau tahu di mana Soo Hyun?

Yeo Jin : Apa maksudnya?

Seo Young : Dia membangun jembatan di antara kita.

Sung Ja tengah mengobati lengan Anggota Dewan Hwang yang terserempet peluru.

Anggota Dewan Hwang sendiri lagi ngomong ama Yeo Jin di telepon.

Anggota Dewan Hwang : Jadi, maksudmu begitu Baek Soo Hyun tidak muncul untuk berita, aku harus menyangkal pernyataan resmi tentang interogasi polisi itu dan menuntutnya atas pencemaran nama baik, bukan?

Yeo Jin : Ya. Jika kau melakukannya, aku akan menggunakannya sebagai pembenaran untuk membesar-besarkannya dan segera mengadakan rapat komite pendisiplinan.

Anggota Dewan Hwang : Bagaimana jika ada masalah?

Yeo Jin : Astaga.

Anggota Dewan Hwang : Haruskah aku menanggung semuanya sendiri?

Yeo Jin : Pikirkan baik-baik. Meskipun dia tidak dihukum berat, tidak akan mudah baginya untuk melanjutkan laporan itu begitu komite selesai rapat. Selagi kita mengulur waktu, laporannya akan ditolak.

Anggota Dewan : Jadi, kesimpulannya, kau butuh proses, bukan?

Yeo Jin : Maksudku, ini saatnya kau memutuskan. Kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi.

Anggota Dewan Hwang : Bagaimana jika berkas aslinya tiba-tiba muncul?

Yeo Jin : Bukankah sudah kubilang? Aku mengambil banyak asuransi.

Anggota Dewan Hwang : Salah satu asuransimu bukan berkas asli itu, bukan?

Yeo Jin : Mengecewakan. Setidaknya kau bisa memercayaiku.

Anggota Dewan Hwang : Baiklah. Semoga Baek Soo Hyun tidak pernah muncul lagi.

Yeo Jin : Hubungi aku saat kau siap.

Dua petugas mengambil barang2 yang ada di basement, ditemani Kyung Sook.

Setelah beres, mereka pergi.

Kyung Sook menatap lemari penyimpanan.

Lalu dia teringat kata-kata Sung Ja.

Sung Ja : Basemen itu terhubung ke gerbang belakang, bukan? Pada malam putra Bu Cha meninggal, banyak orang di sana sampai cukup larut.

Kyung Sook lantas memikirkan percakapannya dengan Sung Ja di ruangannya setelah mereka berkelahi kemarin.

Kyung Sook : Langsung ke intinya saja. Berhentilah mencampuri urusan orang lain.

Kyung Sook menatap Sung Ja yang berdiri menatap lukisan.

Sung Ja lalu berbalik dan mendekati Kyung Sook.

Sung Ja : Aku mengatakannya karena ini juga urusanku. Yayasan ini, maksudku.

Kyung Sook : Yayasan ini? Tentang pencucian dana gelap itu? Kau ingin mengeksposnya?

Sung Ja : Ini sebabnya aku menyukaimu. Kau cepat tanggap.

Kyung Sook : Kenapa aku harus melakukannya?

Sung Ja berjalan ke belakang Kyung Sook.

Sung Ja : Kau tahu Pimpinan Seo sangat peduli dengan kerabatnya, bukan? Apa pun perbuatannya, dia hanya akan mengambil hartanya, bukan nyawanya. Tapi bagaimana denganmu?

Sung Ja berbisik mengatakannya, membuat Kyung Sook merinding seketika.

Sung Ja lalu duduk di sebelah Kyung Sook.

Sung Ja : Hidup kita sangat menyedihkan, bukan? Tapi saat kita hidup, putramu dan suamiku juga bisa hidup. Jadi, sadarlah.

Jung Wook di ruang interogasi, didampingi pengacaranya.

Seok Hoon mendekati Jung Wook. Dia menggebrak meja, bikin Jung Wook dan pengacaranya kaget.

Seok Hoon : Kau mabuk narkoba dan mengejarnya. Kau menabraknya dengan mobil, secara sengaja atau tidak, lalu kau mungkin menghubungi ibumu dan memohon bantuannya.

Lalu Seok Hoon mencengkram leher belakang Jung Wook.

Seok Hoon : Seseorang melihatmu mengemudikan mobil itu, pemilik tempat rongsokan itu juga sudah bersaksi. Kau masih akan menyangkalnya?

Jung Wook tetap menyangkal. Dia bilang bukan dia.

Jung Wook : Aku bersumpah berkata jujur kali ini.

Pengacara Jung Wook mencoba membela Jung Wook.

Pengacara : Saksi yang melihatnya mengemudikan mobil itu dikecualikan.

Seok Hoon : Kita mendapatkan kesaksian baru. Buatlah keputusan yang bijaksana. Sekarang, kau menjadi tersangka kasus penculikan itu. Tergantung seberapa kooperatifnya kau, sisa hidupmu akan berubah.

Lalu Seok Hoon menunjukkan beberapa foto. Dua diantaranya, foto Se Ra dan jasad Jun Yeong.

Sontak lah melihat jasad Jun Yeong, Jung Wook terpukul dan membalikkan foto itu.

Seok Hoon emosi. Dia mencengkram kerah Jung Wook.

Pengacara mencoba memisahkan mereka tapi ikutan dicengkram Seok Hoon dengan sebelah tangannya.

Seok Hoon : Kasus pembunuhan anak berbeda dari kasus biasa. Akan kutunjukkan seperti apa perbedaannya.

Seok Hoon menghempaskan mereka berdua, lalu beranjak pergi.

Jung Wook terdiam. Dia mulai takut.

Pengacara : Kau baik-baik saja?

Jung Wook mendengus kesal.

Nam Kyu di studio foto.

Tak lama kemudian, pemilik studio datang, membawa foto Jun Yeong.

“Aku tidak bisa menghubungi istrimu. Aku menelepon nomor lain yang dia tinggalkan. Aku turut berduka.”

“Aku tidak tahu putraku bisa tersenyum secerah ini.”

Nam Kyu lantas membawa foto Jun Yeong yang sudah dibungkus rapi. Awalnya, dia meletakkan foto itu di bagasi nya. Tapi kemudian, dia mengambil foto Jun Yeong lagi dan menaruhnya di kursi depan disampingnya.

Nam Kyu masuk ke mobil.

Di mobil, dia memeluk foto Jun Yeong dan tangisnya pecah lagi.

Sekarang, Nam Kyu sudah di rumahnya. Dia meletakkan foto Jun Yeong di dekat jendela.

Tak lama kemudian, Seo Young datang. Dia sudah berpakaian rapi dan mau pergi.

Nam Kyu : Bukankah kita punya jadwal wawancara malam ini?

Seo Young : Ada hal mendesak, jadi, aku membatalkannya.

Nam Kyu : Seharusnya kau memberitahuku. Aku menunda rapat penting di kantor.

Seo Young : Kita akan lakukan banyak wawancara, jadi, bersiaplah.

Nam Kyu mulai kesal, kau pikir semua ini lucu? Apakah kau bahkan memikiran Jun Yeong?

Seo Young melawan, kenapa? Kau jijik karena aku hanya peduli tentang kesuksesanku?

Nam Kyu : Kau tahu? Aku bodoh jika berharap kau merasa bersalah.

Seo Young : Kenapa aku harus merasa bersalah padahal pelakunya orang lain!

Nam Kyu : Obat yang dia minum! Wadahnya!

Seo Young : Kau bahkan tidak pernah tertarik!

Nam Kyu : Jadi, apa yang ingin kau katakan?

Seo Young : Jangan coba-coba membuatku merasa bersalah hanya karena kau merasakannya.

Seo Young mulai beranjak ke pintu.

Nam Kyu : Aku…

Seo Young berhenti melangkah.

Nam Kyu : Aku bahagia saat dia lahir. Saat memegang tangan kecilnya, aku tahu hidupku akan berubah. Aku bertekad untuk hidup secara berbeda. Itulah yang kupikirkan.

Mendengar itu, Seo Young tertawa. Lalu dia berbalik menatap Nam Kyu dan bertepuk tangan.

Seo Young : Apa ini? Monodrama? Jika kau tidak mau diwawancarai, lupakan saja. Aku bahkan tidak tahan melihat setercela apa dirimu!

Nam Kyu pun lepas kontrol.

Dia mencekik Seo Young.

Nam Kyu : Kau tidak tahu apa-apa. Kautahu apa yang kulakukan setelah Jun Yeong meninggal? Bahkan saat dia sekarat, aku…

Seo Young : Apa yang kau lakukan? Kautidur dengan wanita muda? Itukah alasanmu bersikap seperti ini?

Mendengar itu, Nam Kyu terdiam dan teringat malam itu saat Jun Yeong meninggal.

Flashback…

Nam Kyu marah. Dia memukul setir mobilnya berulang kali.

Hujan turun sangat lebat.

Lalu Nam Kyu keluar dan membuka bagasinya.

Dia menatap ke dalam bagasi. Ntah apa yang dilihatnya.

Flashback end…

Nam Kyu akhirnya melepaskan tangannya.

Seo Young terjatuh dan terbatuk-batuk.

Nam Kyu masih terdiam.

Tak lama, Seo Young berdiri dan beranjak pergi. Sebelum pergi, dia bilang akan pulang terlambat.

Setelah Seo Young pergi, Nam Kyu menerima pesan dari seseorang.

“Kirimkan uangnya besok. Jika kau membaca ini, setidaknya balaslah”

Membaca pesan itu, Nam Kyu terduduk lemas dan menangis.

Gi Tae mematikan monitor CCTVnya sebelum ada yang memergokinya.

Setelah itu, dia menatap ke layar ponselnya yang menyala. Sebuah pesan baru masuk.

Lalu Moon Do datang.

Moon Do : Bapak memanggilku?

Gi Tae : Seorang teman lama bangkit dari kuburnya. Maksudku pria itu, Yoon Dong Pil.

Gi Tae pun memberikan ponselnya, menunjukkan pesan yang baru diterimanya.

Dalam pesan itu, Seok Pil mengaku dia memiliki berkas aslinya.

Seok Pil bahkan menunjukkan foto berkas aslinya.

Seok Pil : Akan kuberi tahu secara langsung apa yang kuinginkan. Pilihlah tempat untuk bertemu. Aku punya rencana cadangan, jadi, pastikan kau datang sendirian.

Gi Tae bilang dia tak sabar bertemu Seok Pil.

Gi Tae : Kosongkan galeri.

Moon Do : Aku akan menyiapkannya, Pak.

Gi Tae : Aku bisa melihatmu. Setelah monitor mati, aku bisa melihat kita berdua di layar gelap itu.

Moon Do pun menatap ke layar gelap monitor di depannya.

Dia kaget melihat ekspresinya.

Yeo Jin ke ruang siaran dan menyuruh yang lain keluar.

Tinggal lah Jae Yeol dan Yeo Jin di sana.

Jae Yeol : Bu Kwon, kenapa kau kemari?

Yeo Jin : Kau tidak tahu di mana Soo Hyun, bukan?

Jae Yeol : Apa maksudmu?

Yeo Jin : Aku sudah tanya istrinya.

Jae Yeol : Aku yakin dia dalam perjalanan.

Yeo Jin : Astaga, yang benar saja. Aku tahu kau peduli dengan kolegamu, tapi bukankah kau profesional. Kau akan membiarkannya mengacaukan beritanya?

Jae Yeol : Aku yakin dia akan datang. Tidak mungkin dia tidak datang. Soo Hyun seorang profesional.

Yeo Jin : Kau bisa mengatakannya bahkan setelah kondisinya belakangan ini? Seo Young akan mengambil alih. Siapkan semuanya.

Jae Yeol : Apa maksudmu? Seseorang dari News Night harus menggantikannya.

Yeo Jin : Kau mau semua orang tahu kalau Soo Hyun tidak masuk kerja? Jika kita biarkan Seo Young mengambil alih, setidaknya orang tidak akan terlalu memikirkan ketiadaannya. Putra Pimpinan Seo ditangkap. Apa pun kecurigaan yang ada, jika Cha Seo Young melaporkannya, bukankah kita akan menjadi acara yang paling banyak ditonton? Jangan seperti amatir.

Yeo Jin pun keluar.

Bersama Moon Do, Gi Tae pergi ke galeri.

Eun Soo tiba di rumah dan kepikiran sama kata-kata Seo Young tadi.

Lantas Eun Soo pun menghubungi ayahnya sambil nangis-nangis.

Gi Tae : Ada apa, Eun Soo?

Eun Soo : Bantu aku sekali lagi. Kumohon. Tolong cari Soo Hyun.

Gi Tae : Apa maksudmu?

Eun Soo : Produsernya menelepon. Dia tidak bisa menghubungi Soo Hyun. Tidak ada yang bisa menghubunginya dan sudah hampir waktunya berita. Semalam, dia tiba-tiba bilang kami harus berlibur setelah selesai. Dia ingin beristirahat.

Gi Tae : Baiklah, Eun Soo. Cobalah untuk tenang.

Eun Soo : Dia tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Aku tidak tahu apa artinya. Aku tidak tahu Aku tidak tahu apa-apa. Tolong cari Soo Hyun untukku. Tolong aku.

Gi Tae : Baiklah. Ayah akan mencarinya. Saat menemukannya, Ayah akan meneleponmu lebih dahulu Jangan lakukan apa pun, ya?

Eun Soo : Baiklah. Ayah.

Tapi kemudian, Eun Soo berusaha mengonfirmasi kalau itu bukan perbuatan ayahnya.

Gi Tae kaget dengan pertanyaan sang putri.

Gi Tae : Jangan terlalu khawatir. Soo Hyun tidak akan menghilang semudah itu. Dia akan kembali sebelum berita dimulai.

Eun Soo : Baiklah, maafkan aku. Aku akan menunggu.

Setelah itu, Gi Tae memberitahu Moon Do kalau Soo Hyun hilang.

Gi Tae : Sesuatu yang berarti nyawanya? Tepat saat berkas aslinya muncul Jika tidak bisa ditemukan, artinya dia sudah meninggal atau itu disengaja. Ayo, cepat.

Moon Do : Bapak bisa sendiri?

Gi Tae : Pergilah. Kau harus pergi sekarang jika ingin menemukannya sebelum berita dimulai.

Moon Do mengerti dan langsung pergi.

Bersambung ke part 4….

1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
18 Again Ep 15 Part 4
Read More

18 Again Ep 15 Part 4

Tentangsinopsis.com – Sinopsis 18 Again Episode 15 Part 4, Yuk baca juga daftar lengkapnya, pastikan lihat di tulisan…
Read More

Idol: The Coup Ep 5

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Idol: The Coup Episode 5, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang…