The Road : The Tragedy of One Ep 6 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Road : The Tragedy of One Episode 6 Part 3, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek juga episode sebelumnya disini.

Sebelumnya…

Sambil menuju ke mobilnya, Soo Hyun berbicara dengan dokternya. Dia bilang, dia ingin mengubah resepnya.

Soo Hyun : Gejalanya memburuk. Aku akan ke sana besok pagi.

Tapi begitu selesai bicara dengan dokter, dia kembali melihat sosok dirinya di masa lalu.

Sontak lah Soo Hyun merasa takut.

Soo Hyun lantas memberanikan diri berjalan, melewati sosok dirinya yang remaja.

Dan setelah itu, dia berlari ke mobilnya.

Tapi pas mau membuka pintu mobil, dia kembali melihat pantulan sosok dirinya di kaca.

Seseorang memegang pundak Soo Hyun dari belakang.

Soo Hyun : Tolong menghilanglah. Aku sudah berubah. Aku bukan orang yang sama!

Tapi saat berbalik, ternyata yang memegangnya Jae Yeol.

Jae Yeol heran sendiri, ada apa? Ini bukan soal masa lalu itu, bukan?

Soo Hyun : Nanti saja. Kita bicarakan nanti saja.

Soo Hyun masuk ke mobil.

Jae Yeol : Soo Hyun. Bicaralah kepadaku.

Tapi Soo Hyun terus melajukan mobilnya.

Dalam perjalanan, Soo Hyun memikirkan kata-kata Seo Young tadi.

Soo Hyun : Jangan lakukan apa pun. Memuakkan!

Kata-kata yang dulu juga pernah di dengarnya.

Lalu dia teringat masa lalunya.

Ternyata anak yang ditangkap dua pria waktu itu, anak yang sepertinya pernah masuk penjara bukanlah Soo Hyun, tapi temannya Soo Hyun. Dan ketika ditangkap, dia meneriaki Soo Hyun.

“Katakan kau pembunuhnya!”

Soo Hyun menjenguk temannya.

Temannya bilang, jangan katakan apapun. Memuakkan!

Eun Soo menghubungi Soo Hyun.

Saat mau menjawab panggilan Eun Soo, Soo Hyun teringat kata-kata Seo Young.

Seo Young : Kau mencurigainya saat melihatnya di hotel. Kau tidak akan bisa turun dari neracaku.

Dan Soo Hyun pun memilih tidak menjawab panggilan Eun Soo.

Eun Soo galau teleponnya tak dijawab Soo Hyun.

Lalu Eun Soo menghampiri ayahnya di ruang kerja sang ayah.

Gi Tae : Bagaimana bisa anggota keluarga saling mengarahkan pedang? Terlalu menegangkan. Ayah tidak mengatakannya untuk membuatmu khawatir.

Eun Soo : Baiklah.

Gi Tae : Meski merasa tidak nyaman, tetaplah di sini bersama Yeon Woo beberapa hari lagi. Yeon Woo anakmu, tapi dia juga cucuku satu-satunya. Kau juga anakku satu-satunya. Mungkin akan berisik di pagi hari. Ayah wajib melindungi keluarga. Bisakah Soo Hyun melakukan hal yang sama? Tunggu satu atau dua hari lagi. Semuanya akan segera beres.

Eun Soo : Ya. Baiklah.

Gi Tae : Bagus. Semuanya lancar belakangan ini?

Eun Soo : Ya. Semua baik-baik saja.

Tapi wajah Eun Soo sedih saat mengatakan semua baik-baik saja.

Gi Tae : Pastikan tidak ada berita yang merugikanmu.

Eun Soo : Tentu, itu tidak akan terjadi.

Jang Ho kembali menghubungi Eun Soo.

Gi Tae : Angkat teleponnya. Pasti terkait pameranmu. Sayang sekali pameran itu terus ditunda.

Eun Soo pun pergi dengan alasan mau menjawab teleponnya.

Jang Ho sendiri ada di mobilnya, tepatnya, dia menepikan mobilnya di depan sebuah restoran.

Eun Soo marah, sekali lagi muncul di hadapanku tanpa kabar, hubungan kita berakhir.

Jang Ho : Aku hampir gila, tapi kau terus menjauhiku. Tidak ada cara lain. Kau menyesalinya? Karena kau pikir satu kesalahan itu membesar?

Eun Soo : Aku tidak pernah berpikir itu kesalahan.

Jang Ho : Kalau begitu, kau tidak keberatan jika Soo Hyun mengetahui hubungan kita?

Eun Soo terdiam.

Jang Ho : Kutanya apakah kau keberatan.

Eun Soo : Mari hentikan semuanya. Aku juga lelah. Aku akan mengakui hubungan kita kepada suamiku. Maka semuanya akan berakhir dan kau tidak akan memilikiku.

Jang Ho : Tunggu. Halo?

Eun Soo : Mari kita hentikan. Aku terlalu lelah.

Jang Ho : Aku tidak bermaksud begitu. Rasanya hanya aku yang menginginkanmu. Tidak, maafkan aku. Tolong maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan menahan diri dan menunggu. Kumohon… Jangan tinggalkan aku.

Eun Soo : Tepati janjimu. Maka aku tidak akan meninggalkanmu.

Jang Ho : Baiklah. Aku pasti akan menepati janjiku. Maafkan aku. Kau tahu perasaanku, bukan? Perasaanku kepadamu…

Eun Soo memutuskan panggilan Jang Ho.

Jang Ho : Nyata.

Jang Ho pun resah.

Tiba-tiba, muncul Mi Do, mengetuk kaca jendelanya.

Jang Ho menurunkan kaca jendelanya.

Mi Do : Jang Ho-ssi.

Jang Ho : Kau mau masuk lebih dahulu? Aku akan segera menyusul.

Mi Do : Kenapa suaramu seperti itu?

Jang Ho : Kurasa aku harus menyunting naskahku. Investor meminta banyak hal.

Mi Do : Kau harus terus melakukannya, bukan?

Jang Ho : Harus. Masuklah lebih dahulu. Aku akan segera ke sana.

Jang Ho pun menaikkan kacanya.

Mi Do menurut dan beranjak pergi.

Gi Tae berdiri di depan jendelanya.

Tak lama, Moon Do datang.

Gi Tae : Jadi… kau tidak bisa menghubungi Jung Wook?

Moon Do : Sejak dia tinggalkan kantor polisi, aku tidak bisa menghubunginya. Maafkan aku.

Gi Tae : Bagaimana dengan Direktur Bae?

Moon Do : Aku memeriksanya lagi.

Gi Tae : Sepanjang hidupku, aku belajar hal yang tidak bisa dipercaya adalah mulut orang. Aku tidak bisa merobek mulut itu. Begitu Jung Wook kembali, aku harus mengasingkannya dengan ibunya. Campakkan dia di Amerika.

Moon Do : Baik, Pak.

Gi Tae : Juga… Mereka baik-baik saja, bukan?

Moon Do : Sekretaris Lee mengawasinya.

Gi Tae : Pastikan kau mengawasi Baek Soo Hyun. Sehancur apa pun keluarga itu, kita harus memaksimalkannya.

Moon Do mengerti dan beranjak pergi.

Anggota Dewan Hwang sedang menjamu para eksekutif.

Lalu dia meminta para eksekutif untuk memujinya di depan Gi Tae.

Anggota Dewan Hwang juga bilang, kalau dia sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik dari pencuci mulut untuk mereka.

Seseorang memasukkan paper bag ke dalam bagasi beberapa mobil.

Dan yang memasukkan paper bag itu adalah sopir Anggota Dewan Hwang.

Tak lama, Anggota Dewan Hwang keluar bersama para koleganya.

Anggota Dewan Hwang : Sudah semua?

Sopirnya mengangguk.

Para eksekutif pun pergi.

Sopir ke dalam, tak lama dia balik lagi dan membisikkan sesuatu ke Anggota Dewan Hwang.

Anggota Dewan Hwang kembali ke dalam dan makan makanan sisa perjamuan tadi dengan Yeo Jin.

Tapi hanya Anggota Dewan Hwang yang makan.

Anggota Dewan Hwang : Menurutmu tidak menggugah selera karena itu sisa?

Yeo Jin : Ikan busuk pun bisa disajikan kepada raja jika difermentasi baik. Ini bukan apa-apa.

Anggota Dewan Hwang : Sesuatu terus tersangkut di gigiku. Tidak mau keluar.

Yeo Jin : Ini sebabnya aku punya banyak asuransi gigi. Kau tidak tahu kapan gigimu akan rusak.

Anggota Dewan Hwang : Lihat dirimu. Aku bisa membereskannya sendiri. Kau tidak perlu datang jauh-jauh kemari hanya karena dipanggil untuk interogasi polisi. Kau tidak bisa diam saja karena akan bergabung dengan Gedung Biru?

Yeo Jin pun mengeluarkan flashdisk yang dinamai ‘Hwang’ itu.

Yeo Jin : Masalahnya bukan interogasi itu. Aku khawatir akan disalahkan atas semuanya. Yang tidak bisa diam sepertinya pinggangmu, bukan aku.

Melihat flashdisk itu, Anggota Dewan Hwang marah.

Anggota Dewan Hwang : Kau bicara seolah-olah sudah berada di puncak Gedung Biru. Haruskah kubalik mejanya?

Yeo Jin : Jangan memamerkan kekuatanmu di sini.

Anggota Dewan Hwang : Apa?

Yeo Jin : Aku penasaran kenapa belakangan ini kau tampak pulih kembali. Kau punya alasan yang unik. Hobi rahasia anggota dewan yang terpilih empat kali. Ini bukan hanya akan berakhir sebagai skandal.

Anggota Dewan Hwang : Hei! Jika kehidupan politikku berakhir, menurutmu kau akan baik-baik saja?

Yeo Jin : Kita harus bertahan bersama dan mengambil foto kenangan di Gedung Biru juga. Tolong urus itu untukku.

Anggota Dewan Hwang : Kau akan menangani Baek Soo Hyun?

Yeo Jin : Seperti kataku, aku mengambil banyak asuransi.

Anggota Dewan Hwang : Alkohol ini enak karena aku minum bersama rubah licik.

Yeo Jin : Berikan jalan sutra, maka akan menjadi lebih licik.

Yeo Jin menyimpan lagi flashdisk itu.

Anggota Dewan Hwang : Kau mengatakan hal-hal yang akan membuat si hebat kita sakit kepala. Itu artinya kau hanya mengatakan hal-hal yang merugikannya.

Nam Kyu menyudahi pertemuannya dengan para direktur.

Nam Kyu : Beri tahu aku begitu bank tutup besok.

Mereka keluar. Tinggal lah Nam Kyu bersama seketarisnya.

“Periksa investasi awal kita dan tukar dividennya dengan dana lain.” perintah Nam Kyu.

“Tingkat pendapatan kita menurun. Apakah ini tidak apa-apa?” tanya seketarisnya.

“Apa yang sebenarnya kau cemaskan? Bahwa kita memanipulasi hukum atau melanggarnya? Pastikan saja tidak ada rumor.” jawab Nam Kyu.

“Baik, Pak.”

“Kau sudah menunda audit internalnya?”

“Ya, untuk saat ini.”

“Bagus. Buatlah laporan terkait investasi Pimpinan Seo juga. Aku harus segera melapor kepadanya.”

“Maksudmu dua juta dolar yang kau sebutkan sebelumnya?”

“Ya.”

“Dia akan berinvestasi untuk apa? Untuk yang tidak diketahui lagi?”

“Sebaiknya kita tidak mencampuri transaksi keuangannya. Bukan uang yang banyak, jadi, lakukan saja seperti biasa.”

Nam Kyu beranjak keluar dari gedung kantornya.

Dan dia menghela nafas melihat mobil Anggota Dewan Hwang.

Nam Kyu pun menghampiri Anggota Dewan Hwang.

Anggota Dewan Hwang : Setidaknya berpura-puralah senang bertemu denganku.

Nam Kyu : Kenapa kau kemari?

Anggota Dewan Hwang : Aku baru kembali dari upacara beasiswa yang dikelola oleh yayasan lain. Kau tahu kenapa? Karena aku tidak punya uang karena Pimpinan Seo.

Nam Kyu : Kukira kalian sudah membicarakannya.

Anggota Dewan Hwang : Itu menurutmu. Jika kau mengatakannya seperti itu, berarti sudah kukembalikan kepadamu.

Nam Kyu pun marah, sudah kubilang urusan kita sudah berakhir.

Anggota Dewan Hwang : Lalu, kita harus bagaimana? Haruskah kita saling melaporkan ke polisi?

Nam Kyu : Kita sama-sama tahu tidak seorang pun yang bisa melakukannya.

Anggota Dewan Hwang : Benar sekali. Itu sebabnya kita bertemu di sini pada jam ini. Kau akan dipenjara meski mencuri dari perampok. Tapi begini, aku lebih takut kepada Pimpinan Seo daripada dipenjara. Setidaknya, itulah yang kurasakan.

Nam Kyu pun menghela nafas dan meminta Anggota Dewan Hwang memberinya waktu beberapa hari.

Anggota Dewan Hwang : Kau tidak akan kabur ke Makau seperti sebelumnya, bukan?

Nam Kyu : Pikirkan saja dirimu sendiri. Kau sudah lupa apa yang harus kita lalui karena kebiasaan burukmu?

Anggota Dewan Hwang : Aku bahkan tidak ingat apa yang kumakan 10 menit lalu.

Nam Kyu : Sebaiknya ini kali terakhir.

Anggota Dewan Hwang : Maaf, tapi kita akan bertemu lagi untuk waktu yang sangat lama.

Anggota Dewan Hwang lalu menyuruh supirnya jalan.

Setelah Anggota Dewan Hwang pergi, Nam Kyu meraih ponselnya dan melihat foto Anggota Dewan Hwang yang babak belur dipukuli anak buahnya.

Sementara itu di perjalanan, sopir Anggota Dewan Hwang berkali-kali menatap Anggota Dewan Hwang dari spion. Saat Anggota Dewan Hwang menatapnya balik, dia langsung mengalihkan pandangannya fokus ke depan.

Tapi kemudian, dia menatap laci dashboardnya.

Tiba-tiba, terdengar suara.

Panic, sopir Anggota Dewan Hwang pun buru-buru memegangi laci dashboard yang hampir kebuka.

“Kurasa glove box ini tidak tertutup dengan benar.” ucapnya.

Gi Tae di ruang jagalnya bersama Moon Do.

Dia baru saja selesai bicara dengan seseorang.

Lalu Moon Do memasangkannya celemek.

Gi Tae : Nenek moyang kita sering berkata, “Benci dosanya, bukan pendosanya.” Benar kalimat itu?

Moon Do : Ya.

Gi Tae : Maka aku harus mematuhi kearifan leluhur kita. Suruh Hwang Tae Seob menemuiku saat subuh.

Moon Do : Baik, Pak.

Gi Tae : Tapi tunggu. Leluhur kita tidak pernah menyuruh memaafkan dosa itu, bukan?

Moon Do tak menjawab.

Gi Tae : Aku akan sibuk besok. Pergilah beristirahat.

Anggota Dewan Hwang sibuk milih2 sepatu yang akan dipakainya untuk bertemu Gi Tae besok.

Lalu dia menyadari satu sepatunya hilang.

Anggota Dewan Hwang : Sung Ja, kau apakan satu sepatuku!

Sung Ja datang, berhentilah mencurigaiku.

Sung Ja lalu menunjukkan foto pergelangan tangan Anggota Dewan Hwang yang lebam saat berfoto bersama anak-anak penerima beasiswa.

Sung Ja : Foto apa ini?

Anggota Dewan Hwang : Itu foto pria tua yang memedulikan anak malang dan terlantar. Kenapa? Itu foto yang bagus.

Sung Ja : Kau yakin ini bukan hobi kotor pria paruh baya? Kau mau membaginya dengan seluruh negeri? Aku akan seperti Hillary Clinton. Setidaknya Bill Clinton berselingkuh dengan wanita muda, tapi kau…

Anggota Dewan Hwang sibuk nyariin sepatunya yang hilang.

Anggota Dewan Hwang : Jangan menceramahiku lagi.

Sung Ja : Kenapa kau harus dipotret begini setelah Jun Yeong meninggal? Kudengar polisi memanggilmu. Tolong lebih berhati-hati.

Anggota Dewan Hwang : Ke mana perginya?

Sung Ja : Carilah nanti. Bagaimana keadaanmu dengan Pimpinan Seo?

Anggota Dewan Hwang kembali memilih-milih sepatu yang bagus.

Anggota Dewan Hwang : Dia ingin aku datang besok. Apa kubilang? Sudah kubilang aku akan mengurusnya.

Sung Ja : Tunggu. Dia ingin bertemu denganmu setelah menerima telepon para pria tua itu?

Anggota Dewan Hwang : Dia mungkin tidak punya pilihan lain. Para anggota dewan itu sudah utarakan keinginan mereka, jadi, setidaknya dia harus berpura-pura bertindak.

Sung Ja : Tidak, firasatku buruk. Aneh juga dia terlibat dalam upacara peringatan.

Anggota Dewan Hwang : Upacara peringatan apa?

Sung Ja : Pimpinan Seo mengunggah notifikasi soal gerbang Royal The Hill akan dibuka untuk umum sebagai upacara peringatan mendiang anak itu.

Anggota Dewan Hwang : Kenapa dia tiba-tiba mencemaskan mendiang anak itu?

Sung Ja : Bagaimana aku tahu? Kau juga tidak seharusnya tahu.

Anggota Dewan Hwang : Sudah kubilang berkali-kali bukan aku pelakunya!

Sung Ja : Kau mungkin tidak membunuhnya.

Anggota Dewan Hwang : Kau bercanda? Dengar.

Sung Ja : Jangan katakan apa pun. Lebih baik aku tidak pernah tahu. Pokoknya, pastikan kau benar-benar menerima semua saat bertemu Pimpinan Seo. Jangan biarkan dia menyerangmu agar kau tetap hidup.

Anggota Dewan Hwang : Aku harus memakai sepatu yang bagus untuk melindungi diriku. Tidak, bukan ini.

Sung Ja : Aku akan memikirkan cara untuk mempersiapkan diri.

Soo Hyun melamun dalam kegelapan. Dia duduk di meja makan.

Tak lama, Eun Soo datang dan terkejut melihat Soo Hyun sudah pulang.

Soo Hyun : Kenapa tidak nyalakan lampu?

Eun Soo : Kau tidak mendengarku masuk? Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?

Soo Hyun : Kau menghubungiku?

Eun Soo : Sayang, kau alami insomnia lagi?

Soo Hyun : Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja setelah mengganti resepku.

Eun Soo lalu duduk di depan Soo Hyun.

Soo Hyun : Bagaimana Yeon Woo?

Soo Hyun : Kurasa dia sedang kesulitan. Dia sakit setelah kami kembali dari peringatan hari ketiga.

Soo Hyun pun ingat kata-kata Seo Young.

Seo Young : Tanya Eun Soo tentang tamu tidak diundang di peringatan hari ketiga.

Maka Soo Hyun pun tanya, apa terjadi sesuatu di peringatan hari ketiga?

Eun Soo : Tidak.

Tapi Soo Hyun tahu Eun Soo bohong.

Eun Soo : Kenapa?

Soo Hyun : Kau bilang dia sakit setelah upacara peringatan itu. Yeon Woo, maksudku.

Eun Soo : Kurasa memikirkan Jun Yeong membuatnya stres.

Soo Hyun : Pasti.

Eun Soo : Kurasa kami harus menunggu sebentar lagi sebelum kembali. Sampai Yeon Woo merasa lebih baik.

Soo Hyun : Baiklah.

Eun Soo : Maaf aku tidak di sini untuk mengurusmu.

Soo Hyun : Yeon Woo harus jadi prioritasmu. Kau hanya mampir, bukan? Aku akan mengantarmu kembali.

Eun Soo : Nanti saja. Kau belum makan, bukan? Biar kumasakkan sesuatu. Itu akan membuatku merasa lebih baik.

Eun Soo pun bergegas ke dapur.

Soo Hyun mengajak Eun Soo liburan setelah pekerjaannya selesai.

Eun Soo : Liburan?

Soo Hyun : Ya. Saat itu, seharusnya semua sudah berakhir. Mari istirahat panjang. Dengan Yeon Woo.

Eun Soo : Baiklah. Sampai saat itun tiba, aku akan berusaha sedikit lebih keras.

Soo Hyun terperangah dengan jawaban Eun Soo.

Sementara Seo Young duduk di depan meja riasnya, menatap kalung dari Yeo Jin.

Ponselnya berbunyi. Telepon dari Yeo Jin. Tapi Seo Young tidak menjawabnya.

Seo Young tiba-tiba marah dan mencopot kalung itu.

Soo Hyun memikirkan kebohongan demi kebohongan Eun Soo padanya belakangan ini.

Curiga Eun Soo berselingkuh, maka Soo Hyun mulai memeriksa ruangan kerja Eun Soo.

Tapi tiba-tiba, dia kembali melihat sosok dirinya di masa lalu.

Hari keenam setelah insiden.

Yeon Woo dan Jun Yeong duduk di taman.

Yeon Woo menatap Jun Yeong.

Yeon Woo : Yang kau katakan di saat terakhir. Apa maksudnya? Aku tidak ingat apa pun tentang hari itu. Menurutmu kenapa aku tidak ingat apa pun?

Jun Yeong diam saja menatap Yeon Woo.

Yeon Woo kemudian panic karena tiba-tiba tak bisa melihat apapun.

Jun Yeong pun menutup mata Yeon Woo.

Tentu saja itu hanya mimpi Yeon Woo.

Eun Soo datang dan menyelimuti Yeon Woo.

Lalu dia membuka tasnya dan mengambil obat Seo Young dari dalam tas dan mulai curiga.

Seo Young ternyata di kamar hotel. Dia duduk dengan wajah kesal menatap keluar jendela.

Lalu Eun Soo menghubunginya.

Seo Young : Maaf, aku tidak di rumah. Akan kukirimkan alamatnya.

Saat mau pergi, Yeo Jin datang. Yeo Jin melihat kalungnya ada di lantai dan memungutnya.

Dia bilang akan membelikan kalung yang lebih bagus lain kali.

Seo Young pun berkata sudah punya rencana lain dan beranjak pergi.

Bersambung ke part 4…

18 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

The Penthouse 3 Ep 33

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Penthouse Season 3 Episode 33, Jika Kalian ingin tahun daftar spoilernya langsung di tulisan…