Secret Mothers Ep 28 Part 1

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Secret Mother Ep 28 Part 1, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek Episode sebelumnya disini

Direktur Park kembali ke ruangannya. Dia terduduk lemas di kursinya setelah usahanya menyingkirkan Yoon Jin dari RS gagal total.

Tak lama, Yoon Jin menyusulnya.

Direktur Park berdiri, ini yang coba kau lakukan? Kau mengancam akan mengungkap kebenaran yang tidak pernah ada. Tujuanmu adalah menjatuhkan ibu?

Yoon Jin : Ini hanya bagian dari prosesnya. Ini bukan akhirnya, Bu.

Direktur Park : Sekarang kau mengancam ibu?

Yoon Jin : Kurasa ibu mengarang informasi palsu tentang aku bukan semata-mata untuk mempertahankan posisi sebagai direktur rumah sakit. Ibu mampu menjadikan rumah sakit ini sebagai milik ibu. tanpa memakai cara pengecut seperti itu.

Direktur Park : Ibu tidak tamak soal rumah sakit ini. Jangan lancang menilai ibu.

Yoon Jin : Bagiku tidak seperti itu. Ibu berusaha mengacaukan ingatanku. Ibu berusaha sekuat tenaga untuk membuatku melupakan Min Ji. Sepertinya sejak awal ibu sudah mengetahui semuanya. Pasien yang mengambil Min Ji berselingkuh dengan Jae Yeol dan ibu sudah tahu.

Direktur Park teringat masa lalu.

Dan memang benar, Direktur Park tahu semuanya sejak awal.

Dia melihat rekaman CCTV saat Hyeon Joo mendatangi RS.

Dia juga melihat ketika Hyeon Joo membawa kabur Min Ji.

Lalu dia menyuruh Pak Kang menghapus video itu.

Direktur Park udah salah, ngegas pula ke Yoon Jin.

Direktur Park : Jebal! Jebal! Mengingat masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Itu akan mempersulit hidupmu. Kenapa kau tidak tahu? Ibu sudah memberimu saran.

Direktur Park beranjak pergi.

Yoon Jin hanya diam, mencoba meredam emosinya. Dan saat mau pergi, dia melihat amplop cokelat di meja Direktur Park.

Dia mengambilnya. Itu amplop dari “Rumah Sakit Korea, Daerah Umyeon, Gyeonggi-do”

Yoon Jin teringat kata-kata Jung Wan tentang lokasi Hyeon Joo saat menelponnya.

Jung Wan : Ponsel itu dipakai dan dinonaktifkan di stasiun utama yang sama. Stasiun utama di Balai Kota Gyeonggi-do.

Yoon Jin pun bergegas ke ruang arsip. Dia menunjukkan amplop itu.

Yoon Jin : Ini ada di ruangan Direktur Park. Kau tahu tentang rumah sakit ini?

Sayangnya petugas tidak tahu. Petugas hanya bilang kalau Direktur Park menyumbang ke beberapa RS di pedesaan dan mungkin saja RS yang di Gyeonggi-do itu salah satunya.

Yoon Jin : Bisakah kau memberiku daftar rumah sakit yang dia sumbang?

Petugas bilang akan membutuhkan sedikit waktu karena dia harus memeriksanya. Yoon Jin mengerti dan mengucapkan terima kasih.

Se Yeon beranjak keluar dari ruangannya dengan wajah kesal.

Dia mau pergi tapi wanita yang disuapnya tiba-tiba menghadangnya.

“Apa yang kau lakukan? Minggir!”

“Aku tidak punya pilihan karena membutuhkan uang itu, tapi aku bersalah karena melibatkan anakku. Dengan cara ini, aku tidak akan terlalu malu menghadapi putriku.”

Wanita itu mengembalikan uang Se Yeon. Dia mencampakkannya ke lantai, lalu pergi.

Se Yeon mau pergi dan membiarkan uangnya gitu aja. Tapi Yoon Jin datang nyamperin dia.

Se Yeon masih aja natap Yoon Jin dengan penuh kebencian.

Yoon Jin : Kenapa kau menyia-nyiakan kemampuanmu seperti itu, Se Yeon?

Se Yeon : Aku tidak pernah memintamu untuk menilai kemampuanku.

Yoon Jin : Aku kasihan kepadamu. Mungkin kau meragukan dirimu dan merasa tidak aman hingga tidak menyadarinya, tapi kau dokter yang jauh lebih baik daripada dugaanmu. Semoga kau bisa bekerja lagi.

Yoon Jin beranjak pergi.

Hwa Sook membawakan minuman untuk tamunya. Hwa Sook bertanya, jika dia menjual rumahnya, apa harganya akan lebih tinggi dari harga saat dia membelinya.

“Tentu saja. Dibandingkan dengan tiga tahun lalu, harga pasar meningkat 5,8 kali.”

Hwa Sook kaget, omo!

Hwa Sook langsung mulai menghitung dengan kalkulator ponselnya. Tapi setelah itu, dia lemas.

Hwa Sook : Harganya meningkat pesat, tapi aku tidak mendapat sepeser pun.

“Kenapa? Semua orang menginginkan rumah ini. Kenapa kau berusaha menjualnya secepatnya? Apa suamimu terlibat masalah?”

Hwa Sook langsung memberikan tamunya tatapan sengit.

Tamunya langsung diam. Tamunya lalu bertanya, haruskah ia mendaftarkan rumah Hwa Sook untuk dijual.

Ponsel Hwa Sook berdering. Telepon dari “Konsultan Pendidikan Feynman”

“Bu Myung sudah tahu Ji Ho lolos tes seleksi?”

Hwa Sook kaget, astaga. Ji Ho lolos babak pertama?

“Kunjungi situs web-nya dan periksalah. Mereka memilih siswa sebanyak kuota pendaftaran. Jadi, dia akan masuk asalkan lancar dalam wawancara.”

Hwa Sook bahagia dan memikirkan ulang soal menjual rumahnya.

Di kos-annya, Seung Soo lagi berkemas. Lalu Hwa Sook datang membawa sesuatu.

Hwa Sook : Apa kau akan pulang?

Seung Soo : Aku akan mengosongkan rumah ini dan rumah bandar. Aku akan melunasi pinjaman dan mari memulai dari awal di rumah sederhana. Keluarga harus tetap bersama dalam situasi sulit. Ji Ho juga ingin ayahnya kembali. Aku akan berkemas dengan cepat. Mari kita rujuk.

Seung Soo memberikan Hwa Sook surat pendaftaran pernikahan.

Hwa Sook : Tidak perlu berkemas. Ji Ho diterima di tempat les untuk anak berbakat. Dia baru lolos tes seleksi, tapi asalkan wawancaranya lancar, dia akan diterima.

Seung Soo kaget, selama Ji Ho belajar di tempat les untuk anak berbakat, kita tidak boleh rujuk?

Hwa Sook : Tentu saja tidak boleh. Kami mendaftar sebagai keluarga orang tua tunggal. Tidak perlu berkemas dan tunggulah kami. Selagi menunggu, anggap tempat ini seperti asrama. Buatlah rencana untuk dirimu sendiri.

Hwa Sook memberikan apa yang dibawanya.

Ternyata beberapa buku tentang saham.

Hwa Sook : Saat pasar saham jatuh dan kau bilang ingin berhenti, seharusnya aku mencegahmu. Percuma menyesali masa lalu. Kau harus belajar lagi.

Seung Soo : Kau membeli semua ini?

Hwa Sook : Kau harus tetap di sini demi tempat les Ji Ho. Anak-anak pintar atau tidak, mereka pindah kemari untuk alasan yang baik. Demi menyediakan lingkungan belajar untuk mereka. Aku tidak bisa meninggalkan lingkungan ini.

Seung Soo : Jadi, kau akan meninggalkanku? Kau juga akan menjauhkanku dari Ji Ho? Karena situasinya seperti ini, pikirkan sekali lagi tentang keputusan yang lebih baik untuk Ji Ho, Hwa Sook.

Yoon Jin balik ke ruangannya sambil menatap amplop itu. Tak lama, ponselnya bunyi. Telepon dari Eun Young.

Eun Young : Kaumenerima telepon lagi dari nomor telepon yang sama.

Yoon Jin : Tidak. Kau juga tidak menerima telepon, bukan?

Eun Young : Ya. Aku akan meneleponmu begitu menemukan lokasinya. Aku dalam perjalanan mengambil USB itu. Nanti kutelepon lagi.

Eun Young bergegas ke kantor Fix Data.

Si pemilik kantor mengatakan kalau pekerja paruh waktunya lupa menghubungi Eun Young dan tak sengaja menghubungi Jae Yeol. Dia menyuruh Eun Young bergegas jika ingin mendapatkan datanya duluan.

Eun Young menunggu datanya disalin dengan gelisah.

“Masih butuh waktu lama untuk menyalinnya?”

“Tunggu sebentar.”

Jae Yeol tengah menuju Fix Data.

Bersamaan dengan itu, datanya selesai disalin. Eun Young kemudian mendengar suara Jae Yeol. Dia pun bergegas sembunyi.

Jae Yeol sekilas melihat Eun Young. Lalu dia mendekat dan melihat flashdisknya terpasang.

Jae Yeol marah pada si pemilik warnet dan langsung memburu Eun Young.

Eun Young berhasil kabur dengan taksi.

Jae Yeol yang gagal mengejar Eun Young menghubungi seseorang.

Di ruangannya, Yoon Jin gelisah menatap amplop RS Gyeonggi-do itu.

Lalu dia memikirkan kata-kata Jung Wan.

Jung Wan : Ponsel yang dipakai oleh Hyeon Joo milik Park Yeon Soo, usia 32 tahun. Alamatnya di Daejeon.

Yoon Jin : Park Yeon Soo.

Yoon Jin lalu menghubungi seseorang.

Bersambung ke part 2…

9 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like