Rose Mansion Eps 10 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Rose Mansion Episode 10 Part 2, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. YUK Cek episode sebelumnya DISINI.

Min Soo dan partnernya di depan kantor polisi.

Min Soo : Segera serahkan laporan investigasimu setelah kau tulis.

Mereka lalu melihat banyak reporter disekeliling mereka.

Partner Min Soo berkata, kalau dia merasa ada kekacauan tapi gak tahu ada apa.

Para reporter lalu melihat Ji Na keluar.

“Itu Song Ji Na! Dia keluar!”

Mereka pun bergegas mengerubungi Ji Na.

Min Soo kaget melihat Ji Na, Ji Na-ssi?

Min Soo langsung lari ke Ji Na.

Para reporter ingin tahu perasaan Ji Na setelah diselidiki sebagai tersangka.

Min Soo melindungi Ji Na dari para reporter.

Dia menyuruh para reporter minggir.

Reporter terus nanyain perasaan Ji Na diperiksa sebagai tersangka.

Min Soo marah, dia bukan tersangka.

Di apotek, Dong Hyun terdiam memandangi foto2nya bersama Ji Na.

Selingkuhannya melihatnya, lalu mendekatinya.

“Ada apa? Kau terlihat kurus.”

“Kau lihat. Aku pikir aku bisa mengendalikan emosiku, tapi itu tidak mudah.

“Perasaan tidak berubah seperti yang kau inginkan. Tetap saja, jangan melewati batas. Mari bersenang-senang di zona aman.”

Wanita itu memegang tangan Dong Hyun.

Dong Hyun menarik tangannya lalu beranjak. Dia bilang dia akan ke Seoul.

Wanita itu protes, kau baru saja pulang. Kau mau bertemu pacarmu? Aku benar?

Dong Hyun tak menjawab. Lalu rekan mereka datang membawa tteokbokki.

Dong Hyun : Ini bukan taman bermainmu.

Dong Hyun pergi.

Nam Young bekerja keras menemukan rumah yang cocok dengan kunci yang sempat ditelan ibu Charlie. Dia baru saja selesai menemui seorang satpam.

Nam Young lalu mengeluh karena cuaca sangat terik.

Nam Young : Ada terlalu banyak gedung apartemen di sini. Kuncinya pasti sudah diganti.

Nam Young terus berjalan.

Tapi dia melihat satpam lain lagi adu mulut sama ibu2 komplek apartemen.

Satpam marah karena ibu2 itu masih aja membuang sampah di dekat apartemen.

Satpam : Layanan kebersihan tidak menerima daur ulang.

Ibu2 sewot, lalu haruskah kita menyimpan sampah atau apa?

Satpam : Buang makanan dan sampah umum saja. Botol plastik, plastik, kaleng, dan logam tidak dapat diterima. Itu karena kontraknya habis. Bersabarlah hanya minggu ini.

Para ibu2 bubar. Nam Young mendekati satpam. Dia memberikan satpam camilan, biar si satpam mau buka mulut. Satpam tanya, Nam Young mau apa.

Nam Young : Mereka hanya tidak mendengarkan, bukan? Layanan kebersihan mana yang menerima daur ulang di sini?

Satpam : Mengapa kau bertanya?

Satpam akhirnya memberitahu dimana layar daur ulang itu.

Tampak pemilik tempat tengah bekerja membereskan sampah.

Nam Young teriak memanggilnya, sajangnim!

Mereka bicara.

Nam Young : Semua ini dari apartemen terdekat?

Sajangnim : Kami tidak mengkategorikannya berdasarkan dari mana asalnya, melainkan berdasarkan jenisnya. Semoga beruntung, kalau begitu.

Sajangnim pergi.

Nam Young kesal, astaga! Ini membuatku gila! Akhir pekan tidak seharusnya melelahkan. Sialan.

Nam Young mulai mencari diantara banyaknya sampah.

Ji Na di kereta. Televisi di kereta memutar berita Ji Hyun.

“Setelah 13 hari sejak dia hilang. Song Ji Hyun ditemukan tewas. Reporter Beom Eun Jung dari departemen berita lokal ada di sini untuk membicarakan kasus ini dengan kami.”

Ji Suk mendorong kursi roda ayahnya, melintas di koridor. Dan, mereka mendengar berita tentang Ji Hyun di televisi. Ji Suk terus mendorong ayahnya, membawa ayahnya ke lift dan tak mempedulikan berita itu, tapi Pak Song nampak terdiam marah mendengar berita itu.

Kapten Choi ikut menyelidiki. Dia membaca hasil autopsi Ji Hyun dan menelpon tim forensik.

Kapten Choi : Dikatakan dari perutnya, sejumlah kecil nitrogen, asam fosfat, kalium, ditemukan asam humat dan asam amino. Apa artinya ini?

Tim forensik : Mereka adalah bahan pupuk.

Kapten Choi : Dan itu ditemukan dari mayatnya?

Tim forensik : Ya, namanya NPK1 2. Jenis yang mahal. Ini sering digunakan untuk menanam tanaman. Bersamaan dengan itu, kami menemukan beberapa biji capensis, umumnya dikenal sebagai Cape sundew. Biji kecil ini menempel di bajunya dan masuk ke perutnya, kami kira.

Udah fix ini mah pelakunya Min Soo. Plot twist banget gk sih??

Won Seok di lobi NFS. Dia duduk membaca hasil autopsi Ji Hyun.

Sementara Detektif Bae lagi ngobrol sama petugas yang lagi istirahat.

Di laporan tertulis, benih cape sundew atau yang dikenal juga dengan nama capensis ditemukan di bawah kuku Ji Hyun.

Won Seok memanggil Detektif Bae.

Won Seok : Tertulis di bawah kuku Song Ji Hyun, Cape sundew?

Detektif Bae : Maksudmu, capensis?

Won Seok : Ya, itu. Bijinya ditemukan. Apakah kau melihat tanaman ini di rumahnya?

Detektif Bae : Aku tidak berpikir begitu.

Won Seok : Kau tidak berpikir begitu?

Detektif Bae : Tidak, Pak.

Won Seok : Lalu dia mendapatkan benih itu dari pelakunya. Berpikir secara rasional. Apakah si pembunuh menyukai tumbuhan? Itu terlalu satu dimensi.

Detektif Bae : Ini aneh sekalipun. Ingat situs web yang digunakan Song Ji Na untuk mengobrol dengan orang-orang dengan nama saudara perempuannya? Dia sering mengobrol dengan seseorang dengan nama pengguna, Capensis.

Won Seok : Apa?

Detektif Bae : Tidak heran itu terdengar akrab. Sekarang aku ingat melihatnya di hasil otopsi. Capensis.

Won Seok : Song Ji Na sering berbicara dengan orang ini?

Detektif Bae : Pada hari dia pindah ke Apartemen Rose, dan selama dia tinggal.

Won Seok : Aku ingin sejarah percakapan mereka, dan kenali orang Capensis ini. Siapa yang tahu? Mereka mungkin telah merencanakan pembunuhan ini bersama-sama.

Ji Na masih di kereta. Hari sudah malam.

Si Capensis mengirimi Ji Na pesan.

Capensis: Mengapa Anda belum masuk?

Mawar: Aku sudah mati.

Capensis: Permisi?

Mawar : Aku berbohong seolah-olah aku sudah mati.

Capensis: Apakah sesuatu terjadi?

Mawar : Tidak, aku harus mulai lagi sekarang dan tinggalkan semuanya. Ini akan menjadi percakapan terakhir kita. Terima kasih atas segalanya.

Capensis: Apa itu? Ceritakan apa yang terjadi, pelan-pelan.

Ji Na tak membalas lagi.

Nam Young masih mengaduk2 sampah.

Tak lama, dia menemukan gagang pintu. Nam Young mencocokkannya dengan kunci. Cocok!

Nam Young senang, aku menemukannya!

Nam Young memasukkan gagang pintu ke dalam kantong plastik barang bukti.

Nam Young : Tunggu saja, Unit Kejahatan Kekerasan! Aku datang!

Nam Young pun segera ke forensik, tak lupa dia membawakan kopi untuk mereka semua.

Si petugas kebauan.

“Kotor, apakah kau tidak mandi selama berhari-hari atau apa?”

“Aku harus mampir ke suatu tempat.”

Petugas melirik gagang pintu yang dibawa Nam Young.

“Apa itu?”

“Bisakah kau memeriksa apakah ada sidik jari di atasnya?”

“Kami sibuk. Lihat file-file ini menumpuk?”

“Tapi ini tentang kasus yang sangat penting.”

Si petugas langsung meminta anak buahnya memeriksa barang bukti yang dibawa Nam Young.

Nam Young senang bukan kepalang.

Ji Na baru saja kembali ke rumahnya di Busan.

Dia tampak lelah.

Dong Hyun di depan rumah Ji Na. Dia di Seoul. Tapi rumah kosong. Dong Hyun coba menghubungi Ji Na tapi tak dijawab.

Ji Suk baru pulang melihat orang asing mengintip rumahnya.

Ji Suk : Siapa kau?

Dong Hyun : Kau adik Ji Na, kan? Senang melihatmu. Aku pacarnya. Aku bertengkar dengannya hari ini, dan sekarang aku tidak bisa menghubunginya. Aku baru tiba dari Busan. Jadi aku ingin melihatnya. Mungkinkah ada jalan?

Ji Suk : Tapi dia pergi.

Dong Hyun : Dia pergi? Untuk kemana?

Ji Suk : Busan.

Dong Hyun : Kapan?

Ji Suk : Di sore hari.

Dong Hyun : Di sore hari?

Ji Suk masuk.

Dong Hyun : Dia tidak ada di sini?

Ji Suk : Tidak.

Dong Hyun : Tapi…

Ji Suk : Tidak, tidak ada.

Dong Hyun : Oke, masuk ke dalam.

Nam Young, Kapten Choi dan Min Soo reuni!

Nam Young senang. Untuk bersama kalian lagi, rasanya sangat aneh.

Kapten Choi : Aku merasa sedikit sedih, jadi aku ingin kita bertiga berkumpul untuk minum dalam waktu yang lama.

Kapten Choi lalu membahas tentang Rose Supermarket.

Kapten Choi : Apakah kau membantu pencarian mereka?

Min Soo mengangguk.

Kapten Choi : Kita bukan lagi unit kejahatan kekerasan. Kita beberapa tim bantuan atau apa pun.

Min Soo : Kau terlalu santai sehingga semua orang menginginkan bantuan kami sekarang. Aku benar-benar benci permintaan bantuan ini.

Kapten Choi : Apa kau berandal? Izinkan aku memberi tahumu sesuatu yang sangat tidak biasa. Istriku tiba-tiba mengatakan rumah terasa terlalu sepi dan menyarankan agar kami membeli tanaman dalam pot. Tapi aku tahu apa-apa tentang tanaman. Aku lebih seperti pria binatang. Jadi aku tidak tahu apa yang harus aku dapatkan.

Nam Young : Sunbae adalah ahli tanaman.

Min Soo : Tanaman? Jika kau menginginkan sesuatu yang mudah tumbuh, kacang saba akan menjadi pilihan yang baik. Ini memberikan getaran elegan, dan menghilangkan debu halus. Atau jika kau ingin melihat daun tumbuh,strelitzia akan menyenangkan. Sangat mudah untuk tumbuh juga. Tapi memikirkan istrimu, aku ingin merekomendasikan sesuatu seperti Monstera. Daunnya terbelah saat mereka tumbuh. Ini cukup cantik.

Kapten Choi pun meminum sojunya sambil menatap Min Soo dengan tatapan curiga.

Min Soo menyarankan Nam Young menanam tanaman juga.

Min Soo : Ini baik untuk kesehatan mental.

Nam Young : Tapi semua tanaman yang aku dapatkan akhirnya mati.

Min Soo : Orang sepertimu harus mulai dengan kaktus.

Nam Young : Aku coba, tapi mati juga.

Dong Hyun keluar dari gedung Apartemen Mawar sambil merokok.

Dia lalu mengumpat, sial!

Tak lama, dia melihat Min Soo turun dari taksi.

Min Soo menghubungi Ji Na, sambil menatap ke arah unit Ji Na.

Tapi Ji Na gak menjawab.

Min Soo : Kau tiba dengan selamat? Tanpamu Ji Na-ssi, rasanya begitu canggung. Aku baru saja berpikir untuk meninggalkan pesan ini. Aku harap kau baik2 saja di Busan.

Dong Hyun salah paham.

Dong Hyun : Ya ampun, Song Ji Na. Kau menjawab telepon pria lain dan mengabaikan teleponku? Mengapa berandal itu berkeliaran di sekitar sini?

Min Soo terus beranjak ke rumahnya. Tapi sepertinya, bukan rumahnya yang biasa sih kayaknya. Ini rumahnya yang lain, karena jalan menuju ke rumahnya yang ini, dipenuhi dengan pohon besar.

Dong Hyun mengikuti Min Soo.

Min Soo yang tahu diikuti, menoleh ke belakang.

Dong Hyun langsung putar arah dan pura2 sibuk menelpon.

Sook Ja mendatangi temennya Min Soo. Temennya Min Soo membawa Sook Ja ke studionya. Sook Ja melihat temennya temen Min Soo.

*Biar cakep, temennya Min Soo kita panggil Tuan Napi aja yaa, karena dia pernah di penjara 5 kali.

Tuan Napi menyuruh temennya menyapa Sook Ja.

Sook Ja tanya, apa Tuan Napi menyimpan apa yang dia minta.

Tuan Napi : Ya, di sini.

Tuan Napi menyuruh temennya menunjukkan ke Sook Ja.

Temennya Tuan Napi : Perbuatan ilegal wanita kontraktor itu. Aku telah mengatur semua file di folder ini. Aku juga mencadangkan semua file tentang Ji Na. Mana uangnya?

Tuan Napi : Ya ampun. Dia sedikit gila.

Sook Ja : Tidak, tidak apa-apa. Kau harus dibayar untuk pekerjaanmu.

Sook Ja memberi mereka segepok uang.

Mi Yeon yang lagi bertemu dua petinggi, ditangkap 3 detektif.

Detektif : Kami dari unit kejahatan ekonomi. Anda ditahan karena dicurigai melakukan penipuan dan pemalsuan dokumen. Anda memiliki hak untuk berkonsultasi dengan pengacara–

Mi Yeon marah saat dia akan diborgol.

Mi Yeon : Apa? Aku ditahan? Apa yang kau bicarakan?

Detektif : Kita akan bicara di kantor polisi.

Mi Yeon diborgol dan dibawa paksa ke kantor polisi.

Ji Na kembali ke hotel. Tentu saja, rekan2 Ji Na kaget dia datang.

Tapi mereka semua tidak menyukai kehadiran Ji Na.

Won Seok dan tim nya baru datang dan mereka melihat Detektif Bae ketiduran di meja.

Won Seok : Apakah dia begadang semalaman lagi?

Detektif Bae bangun.

Won Seok : Hei, temukan seseorang untuk berkencan.

Detektif Bae : Ya, Pak.

Detektif Bae lalu memberitahu Won Seok bahwa dia telah melihat Capensis, teman mengobrol Ji Na. Won Seok pun langsung melihat layar komputer Detektif Bae.

Di sana, ada data2 serta foto Capensis.

Detektif Bae : Itu adalah seorang pria bernama Park Hyung Chul. Foto ini saat dia jauh lebih muda. Dia lahir pada tahun 1965.

Won Seok : Apa? Capensis setua itu? Anonimitas memang menakutkan. Dengan seseorang usia putrinya?

Won Seok : Ya, situs web ini tidak melakukan verifikasi ketat.

Won Seok melihat alamat rumah Capensis.

Won Seok : Apakah ini alamat yang benar?

Detektif Bae : Aku cek, dan ternyata palsu.

Won Seok : Kita lebih baik menemukan orang ini kemudian.

Detektif Bae : Sudah kutemukan. Aku menggeledahnya di daftar mantan narapidana. Dia hilang lebih dari 10 tahun yang lalu.

Won Seok : Orang hilang muncul setelah 10 tahun, menyembunyikan identitasnya di balik nama pengguna, Capensis, dan bertukar obrolan dengan Song Ji Na?

Detektif Bae : Ya, jadi seseorang meniru pria ini. Begitulah seharusnya kita menafsirkan ini.

Won Seok : Lihat apakah Park Hyung Chul memiliki unit Apartemen Rose, tinggal di sana, atau telah menyewa unit di sana.

Detektif Bae mengerti dan langsung bergerak.

Won Seok : Betapa menariknya. Aku pikir kami telah menemukan pelakunya.

Kapten Choi menatap Won Seok dengan cemas karena dia curiga Capensis adalah Min Soo.

Ji Na yang lagi di loker, mendengar dua obrolan rekannya dibalik loker.

“Song Ji Na sangat tidak tahu malu berada disini. Jika aku jadi dia, aku akan berhenti dari sini.”

“Dia benar-benar sesuatu. Jika tidak, dia tidak akan berbohong tentang ayahnya.”

“Apa kau melihatnya di internet? Apa yang ditulis teman sekolah menengahnya. Ji Na menyayat wajahnya dengan pisau, jadi Ji Na dikeluarkan, dan dia harus melakukan tujuh operasi plastik. Sepertinya dia telah memperbaiki seluruh wajahnya.”

“Dia bahkan menyerang seseorang di sekolah? Dia hanya sulit dipercaya.”

Yoon Ji yang mendengar itu marah, hei, tidak bisakah kau diam! Dan jangan bergosip tentang apa yang hanya spekulatif.

Ji Na pun menghampiri mereka. Dua temannya itu langsung diam.

Ji Na : Teman sekelas SMAku. Apakah dia juga menulis tentang alasannya kenapa aku melukai wajahnya?

Temannya bilang tidak.

Ji Na : Dia ketahuan berbicara di belakangku. Hati-hati. Jika kau tidak ingin melalui tujuh operasi plastik seperti dia.

Takut, dua teman Ji Na langsung pergi.

Yoon Ji menatap Ji Na.

Tiba2 aja, Yoon Ji mendengar suara Kepala Yang dari walkie-talkie nya.

Kepala Yang : Apakah ada yang melihat Song Ji Na?

Yoon Ji : Aku.

Kepala Yang : Katakan padanya untuk datang ke kantorku.

Ji Na pun pergi ke ruangan Kepala Yang.

Kepala Yang : cukup mengesankan. Itu tidak terduga. Kau mengalami kerugian besar, jadi izinkan aku membuatnya singkat dan langsung. Kebohonganmu dapat ditoleransi. Tapi kau mengarang resume mu dan bahkan latar belakang pendidikanmu. Kautahu kamu bisa dipecat karena itu, kan?

Ji Na : Ya, aku tahu. Aku kesini membawa surat pengunduran diri.

Kepala Yang : Mengapa kau mengundurkan diri?

Ji Na : Kau tidak langsung memecatku karena mau aku jadi saksi, kan?

Kepala Yang pindah ke dekat Ji Na.

Kepala Yang : Benar. Jika asosiasi karyawan wanita memilihmu untuk menjadi saksi, aku ingin kau bersaksi mendukung Manajer Ma.

Ji Na : Kau tidak perlu khawatir dengan kesaksianku. Tidak ada yang akan percaya padaku.

Kepala Yang : Aku akan menyiapkan bukti. Kau hanya perlu bersaksi. Hanya berbohong seperti yang selalu kaua lakukan. Manajer mungkin menugaskanmu ke cabang kami di Phuket. Bukankah bagus untuk pergi ke luar negeri saat ini? Semuanya terserah padamu. Pilihan ada di tanganmu.

Kepala Yang beranjak pergi.

Ji Na terdiam. Lalu Ji Suk menghubunginya.

Ji Suk : Pacarmu datang ke sini tadi malam.

Ji Na pun ke apotek, mencari Dong Hyun. Selingkuhan Dong Hyun langsung sewot melihat Ji Na.

“Kau pacarnya? Dia kehabisan kemarin dan belum datang sejak itu. Dia juga tidak menjawab teleponnya. Jika kau bisa bertemu dengannya, tolong beri tahu dia tidak mencampuradukkan urusan publik dan pribadi dan menjadi jelas tentang kapan harus memulai dan menyelesaikan.”

Ji Namenatap wanita itu. Dari suaranya, dia tahu itu selingkuhan Ji Na.

Ji Na pergi setelah menatap sinis wanita itu.

Min Soo ada di rumah itu! Ternyata benar, Ji Hyun memang disekap di salah satu unit di Apartemen Mawar. Jalan yang dilalui Min Soo tadi malam, dimana dia diikuti Dong Hyun, adalah jalan menuju ke rumah itu.

Min Soo masuk ke ruangan tempat dia menyekap Ji Hyun.

Terdengar suara teriakan Charlie. Charlie bilang dia tidak melakukan apapun. Charlie ketakutan.

Bersambung……

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like