Red Shoes Ep 55 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Red Shoes Episode 55 Part 2, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cara lain untuk cari cerita spoiler Episode sebelumnya cek disini….

Jin A berdiri di belakang Hye Bin, menatap tajam Hyeok Sang yang lagi makan.

Nyonya Choi bertanya, bagaimana makanannya. Apa Hyeok Sang suka.

Hyeok Sang bilang santa lezat.

Nyonya Choi memberitahu, kalau Jemma lah yang membuatnya.

Hyeok Sang menatap Jin A dan tersenyum.

Jin A membalas senyum Hyeok Sang.

Setelah itu, dia berbalik dan senyumnya langsung menghilang.

Ki Seok melihat Jin A. Dia terkejut melihat Jin A mengambil garpu.

Jin A menyimpan garpunya ke dalam saku celemeknya dan berbalik menatap tajam Hyeok Sang.

Jin A bicara dalam hatinya.

Jin A : Jika kau menghukumku, aku akan terima. Aku akan masuk penjara jika kau berkata begitu. Tetapi aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.

Jin A mengambil mangkuk salad. Perlahan dia berjalan ke arah Hyeok Sang.

Ki Seok melihat Jin A terus menatap tajam Hyeok Sang.

Jin A menaruh mangkuk salad di dekat Hyeok Sang.

Yang lain tidak menyadari apa yang akan dilakukan Jin A karena asyik makan.

Jin A mengeluarkan garpunya dan siap menusuk Hyeok Sang. Ki Seok terkejut dan langsung menghentikan Jin A.

Ki Seok menatap Jin A. Dia menggeleng, meminta Jin A tidak melakukannya.

Jin A menatap Ki Seok dan berkata dalam hatinya, kalau dia harus membunuh Hyeok Sang.

Jin A lalu membuang garpunya ke lantai.

Sontak semua terkejut dan langsung menatap mereka.

Ki Seok : Maaf, ini kesalahanku.

Ki Seok mengambil garpu yang jatuh dan menaruhnya di meja.

Ki Seok : Jemma-ya, mau kah kau membantuku?

Ki Seok membawa Jin A keluar dari ruang makan.

Hye Bin teringat saat Jin A bilang, ada orang yang pengen dia bunuh.

Hye Bin terkejut.

Ki Seok menarik Jin A ke kamar.

Jin A melempar celemeknya ke meja rias.

Ki Seok : Apa itu tadi? Apa kau…? Tidak, kan?

Jin A berbalik, menatap marah Ki Seok.

Jin A : Itu benar. Aku ingin membunuhnya. Aku bisa saja membunuh tikus itu, Kwon Hyeok Sang! Kenapa kau menghentikanku!

Ki Seok : Kim Jemma!

Jin A : Jika bukan karena kau, aku bisa saja membunuhnya! Aku bisa membuatnya terbakar di lubang api! Dia bisa saja membayar dengan penderitaannya karena membunuh ayahku! Kenapa kau menghentikanku!

Sontak Ki Seok kaget mendengar kata-kata Jin A.

Nyonya Choi, Hyun Seok, Hye Bin, Hyeok Sang dan Hee Kyung ngeteh selesai makan malam.

Nyonya Choi : Ada apa dengan Ki Seok? Dia dan Jemma pergi dan belum kembali.

Hyun Seok : Mereka pasti ingin berdua.

Hye Bin ngajak Hyun Seok ke kamar juga.

Hye Bin : Aku ingin berbicara denganmu.

Hee Kyung : Aku yakin kau juga ingin berdua. Apakah itu baik-baik saja, Nyonya Choi?

Nyonya Choi : Tentu saja. Lanjutkan.

Hye Bin dan Hyun Seok pergi.

Ki Seok masih mendengar cerita Jin A.

Ki Seok tanya, apa Hyeok Sang yang menabrak ayah Jin A.

Jin A bilang dia punya bukti.

Jin A : Aku mempekerjakan seseorang. Kami menemukan mobilnya yang dia sembunyikan di gedungnya. Dia menyembunyikannya selama ini setelah dilaporkan dicuri. Ada darah di mobil itu. Aku menjalankan tes DNA terhadap darah di mobil itu dan darah di baju ayahku dari kecelakaan itu.

Ki Seok : Hasilnya cocok?

Jin A mengangguk.

Ki Seok terkejut.

Jin A : Hari ayahku meninggal dalam kecelakaan tabrak lari, ibuku pergi dari rumah dan tidak pernah kembali. Aku pikir itu kebetulan, tapi tidak. Ibuku ada di dalam mobil Kwon Hyeok Sang. Tapi mereka berdua meninggalkan ayahku untuk mati dan melarikan diri. Aku bahkan memberi tahu polisi. Batas waktu berakhir, tapi aku meminta mereka untuk menyelidiki. Itu jika mereka tidak bisa menilai mereka oleh hukum, untuk menghukum mereka secara sosial atau secara etis. Tapi mereka tidak bisa. Orang-orang brengsek itu sudah memastikannya Mereka memastikan polisi bahkan tidak bisa menyelidiki. Mereka menggunakan uang untuk membuat koneksi dengan orang-orang yang berkuasa.

Ki Seok : Ini gila. Tapi tetap saja kau tidak bisa melakukannya sendiri? Kau sudah gila?

Jin A tertawa, lalu siapa yang akan melakukannya? Mereka telah hidup dengan nyaman dan dalam kemewahan setelah membunuh seorang pria. Mereka membunuh ayahku. Mereka tidak merasa bersalah atau menyesal. Semua yang mereka miliki adalah obsesi dengan uang. Mereka adalah sampah bumi. Aku ingin membunuh mereka dan membakarnya di dalam lubang yang berapi-api untuk itu. Jadi mengapa kau menghentikanku! Apa hakmu untuk menghentikanku?

Ki Seok : Kim Jemma, sadarlah!

Hye Bin menyenderkan kepalanya ke bahu Hyun Seok.

Hye Bin : Berapa lama kita harus tinggal di sini setelah kita menikah?

Hyun Seok : Aku tidak tahu. Mungkin sampai nenek meninggal?

Hye Bin langsung berdiri.

Hye Bin : Aku tidak mau. Orang-orang hidup begitu lama saat ini. Bagaimana jika dia hidup sampai usia 100 tahun?

Hyun Seok : Hye Bin-ah, kau terlalu jujur.

Hye Bin : Bagaimana kau bisa tersenyum? Aku serius sekarang.

Hyun Seok : Jadi berdoalah agar Ki Seok dan Jemma menikah. Jika dia menikah, nenek akan membiarkan kita pindah.

Hye Bin : Aku tidak mengerti. Tidak bisakah dia menikah dengan orang lain? Kenapa dia harus menikahi Jemma?

Hyun Seok : Kau bilang kau harus menikah denganku. Mengapa kau tidak bisa memahami mereka?

Hye Bin : Aku tidak bisa.

Hye Bin mau keluar.

Hyun Seok : Kau mau kemana? Kau bilang kau ingin bicara.

Hye Bin : Aku sengaja mengatakan itu karena ingin berdua denganmu. Aku akan ke kamar mandi.

Lah bukannya ke kamar mandi, Hye Bin malah nguping pembicaraan Ki Seok dan Jin A.

Jin A minta maaf pada Ki Seok karena membuat Ki Seok melihat kekacauan itu.

Ki Seok : Aku tidak bilang dia tidak bersalah, tapi kau tidak bisa melakukan ini sendiri. Dan bagaimana dengan Hye Bin?

Jin A : Hye Bin? Apa pentingnya dia? Aku baru berusia delapan tahun. Jin Ho baru berusia lima tahun. Kami tidak punya siapa-siapa. Kami adalah anak-anak. Kami tidak tahu harus makan atau memakai apa. Dna kau membandingkanku dengan Hye Bin, yang telah hidup sebagai seorang putri sampai sekarang?

Ki Seok : Jemma-ya.

Jin A : Kau sama saja. Kau sama seperti bajingan itu. Kau brengsek dangkal yang takut akan kehilangan apa yang kau miliki.

Ki Seok : Kaulah yang aku takut aku akan kalah!

Jin A : Berhenti berbohong padaku! Kau hanya takut bahwa apa yang kau miliki akan hancur. Aku tidak pernah bisa melupakan angin yang menakutkan. Kengerian yang kami rasakan malam yang menggelegar itu. Malam yang gelap itu ketika ayah dan ibu kita tiba-tiba menghilang.

Teringat malam itu, Jin A langsung histeris.

Ki Seok pun memeluk Jin A. Dia bilang dia mengerti perasaan Jin A.

Jin A berdiri dan menghapus tangisnya.

Jin A : Aku tidak mengharapkan pengertianmu atau bantuanmu. Jadi tolong, jangan campuri urusanku.

Ki Seok khawatir : Jemma-ya.

Jin A keluar. Hye Bin terkejut Jin A tiba-tiba membuka pintu. Dia langsung melangkah mundur.

Hye Bin : Aku sedang menuju ke bawah.

Jin A menatap tajam Hye Bin. Lalu dia pergi tanpa mengatakan apapun.

Ki Seok keluar, kau menguping?

Hye Bin : Apa? Tidak.

Ki Seok pergi.

Hye Bin penasaran ada masalah apa sama Jin A.

Hyeok Sang, Hee Kyung dan Hye Bin pulang.

Bersamaan dengan itu, Soo Yeon keluar dari dapur dengan pakaian hitam-hitam dan melewati mereka begitu saja.

Hyeok Sang memanggil Soo Yeon.

Hyeok Sang : Kapan kau pulang? Aku tidak bisa menghubungimu sepanjang hari. Kau bisa pergi bersama kami ke rumah Nyonya Choi.

Soo Yeon kesal, kau terlalu sibuk untuk mengingat peringatan meninggalnya ibu. Mengapa mencariku?

Soo Yeon beranjak ke atas, ke kamarnya.

Hyeok Sang dan Hee Kyung juga ke kamar. Sambil mencopot antingnya, Hee Kyung bertanya-tanya apa masalah Soo Yeon.

Hee Kyung : Kita hanya bisa mempersiapkan pesta peringatan besar.

Hyeok Sang : Apa kau pikir dia marah tentang beberapa peringatan bodoh?

Hee Kyung : Dia adalah ibumu. Kau adalah putranya. Kau seharusnya ingat. Coba dipikir-pikir, hari ini adalah hari peringatan kematiannya. Orang-orang yang hidup adalah orang-orang yang penting. Siapa yang peduli mengingat seseorang yang sudah meninggal? Akankah dia menangkal nasib buruk untuk anak-anaknya?

Hyeok Sang : Kenapa kau…

Hee Kyung : Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk.

Kesal, Hyeok Sang keluar dari kamar.

Hee Kyung membersihkan wajahnya tapi kemudian dia ingat sikap aneh Jin A tadi.

Hee Kyung : Dia telah bertingkah aneh. Ini mengerikan. Duri itu di sisiku.

Di kamarnya, Soo Yeon menatap foto ibunya dengan tatapan sedih dan kecewa.

Soo Yeon : Eomma, kau marah, kan? Kau harus marah. Aku juga marah tapi aku tidak mengerti harus berbuat apa.

Lalu Hyeok Sang masuk dan meminta maaf.

Hyeok Sang : Aku bilang aku akan ingat peringatan ibu, tapi aku lupa. Maaf. Aku tidak tahu apakah aku hidup atau mati akhir-akhir ini. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mohon pengertiannya. Itu tidak akan terjadi lagi.

Hyeok Sang mau keluar, tapi Soo Yeon menyuruh Hyeok Sang menatap foto ibu mereka.

Soo Yeon memperlihatkan foto ibu mereka.

Hyeok Sang berkaca-kaca menatap foto ibunya dan teringat masa lalu.

Hyeok Sang : Maafkan aku, ibu.

Hyeok Sang keluar.

Soo Yeon menatap Hyeok Sang dengan mata berkaca.

Soo Yeon : Benar, kau harus menyesal. Ibu hidup untukmu.

Di kamarnya, Ki Seok resah memikirkan Jin A yang ingin membunuh Hyeok Sang.

Flashback…

Ki Seok tanya, apa Jin A serius mau membunuh Hyeok Sang.

Ki Seok : Tidak. Kau tidak akan pernah bisa membunuh siapa pun. Kau terlalu baik.

Jin A : Tidak. Aku bisa membunuhnya. Aku akan membunuhnya. Seorang bajingan seperti dia perlu dihukum. Lupakan aku. Sudah berakhir di antara kita saat aku mengetahui Kwon Hyeok Sang membunuh ayahku. Karena aku akan membunuhnya tidak peduli apa yang diperlukan.

Ki Seok menasihati Jin A.

Ki Seok : Tidak, Gemma-ya. Kau tidak bisa melakukan itu.

Jin A : Itulah takdirku.

Flashback end…

Ki Seok menggebrak meja nya berkali, lalu dia berdiri.

Hyun Seok yang mendengar itu, masuk ke kamar Ki Seok.

Hyun Seok : Hei, apa yang salah?

Ki Seok tak menjawab dan keluar dari kamarnya.

Jin A ke dapur dan melihat Sun Hee lagi minum. Jin A minta air.

Sun Hee mengambilkan gelas.

Sun Hee : Apakah semuanya baik-baik saja di rumah Nyonya Choi? Min Hee Kyung dan seluruh keluarganya di sana.

Hee Kyung : Ya.

Sun Hee : Itu pasti sangat sulit bagimu. Tetap saja, jadilah kuat. Fokus pada hal yang positif. Tikus tercela. Dia harus terbakar untuk selama-lamanya.

Jin A : Bibi, aku punya permintaan.

Jin A mengajak Sun Hee ke kamarnya.

Jin A : Kau tahu aku tidak bisa mengirimnya ke penjara. Ibu dan Paman adalah saksinya dan aku punya bukti tapi apa gunanya? Ayah meninggal dan begitu banyak waktu telah berlalu.

Sun Hee : Jadi? Apa yang kau rencanakan?

Jin A : Aku akan mempekerjakan seseorang. Seseorang yang akan menghukumnya dengan benar. Makanya aku butuh uang. Ini keinginan terakhirku. Aku ingin membuat ayah tenang di sana. Jin Ho meninggal. Ibu yang mendukungku, tahu Kwon Hyeok Sang membunuh ayahku tapi dia menutup matanya. Malam hujan itu… Malam kecelakaan, ayahku mungkin melihat Kwon Hyeok Sang berlari meninggalkannya dan istrinya duduk bersama pria itu. Bayangkan betapa sedihnya. Bayangkan betapa kesepian dan ketakutannya. Aku tidak bisa mati dengan tenang sampai aku memberi ayahku kedamaian. Tidak, aku tidak bisa hidup. Aku lebih baik mati.

Sun Hee memegang tangan Jin A.

Dia kasihan pada Jin A, Jemma-ya.

Jin A bicara dalam hatinya. Sorot matanya penuh dendam.

Jin A : Ayah, berikan aku waktu. Aku akan melakukan apapun yang diperlukan untuk membalasnya.

Bersambung….

Next episode, Soo Yeon memberitahu Jin A bahwa Hee Kyung membunuh ibunya.

1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Replay: The Moment Ep 8
Read More

Replay: The Moment Ep 8

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Replay: The Moment Episode 8, Yuk lihatlah rekap lengkap di tulisan yang ini. Apabila Kamu…