Hush Ep 8 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Hush Episode 8 Part 3, Yuk gaes baca juga selengkapnya untuk daftar link ada di tulisan yang ini. Pastikan Kalian juga harus mengetahui kalau tersedia juga Episode sebelumnya baca di sini.

Ji Soo dan Kyung Woo tiba di kantor mereka. Ji Soo menatap spanduk permintaan maaf Harian Korea.

Ji Soo : Kau tahu itu Harian Korea, kan? Luar biasa, bukan? Ada keraguan di balik setiap pintu.

Kyung Woo : Itulah Harian Korea kita. Meski tidak sempurna…

Ji Soo : Itu mungkin impian seumur hidup seseorang.

Ji Soo menatap ke arah tempat Soo Yeon jatuh bunuh diri.

Dia masih sedih.

Ji Soo lalu berkata, untung teman Kyung Woo mendapat kompensasi meskipun sudah terlambat.

Kyung Woo : Apa?

Ji Soo : Temanmu yang memberimu informasi.

Kyung Woo : Entahlah. Itu tidak sepenuhnya kabar baik baginya. Jika tidak ada perekrutan ilegal, dia akan lebih dari sekadar dipekerjakan. Tapi akhirnya dia menjadi bagian dari kasus penanggulangan. Semua orang tahu dia sangat memenuhi syarat. Tapi dia pasti didiskriminasi dibandingkan mereka yang dapat pekerjaan melalui jalur normal. Meski awalnya dia sudah didiskriminasi.

Mendengar kata-kata Kyung Woo soal diskriminasi, Ji Soo jadi ingat kata-kata Joo Ahn padanya.

Joo Ahn : Diskriminasi, dia berbeda, tidak didiskriminasi.

Se Joon nyamperin Sung Han, sambil nepuk2 lehernya sama koran.

Se Joon : Kau ada janji minum sepulang kerja?

Sung Han : Tidak. Aku bukan pemabuk seperti seseorang yang kukenal. Lagi pula, kau pikir aku penjilat. Kenapa? Kau mau minum?

Se Joon : Tidak juga. Aku tahu restoran ikan skate fermentasi yang enak. Lupakan saja. Dengan situasi kita, seharusnya kita tidak makan-makan. Lain kali saja. Aku akan pergi sendiri.

Se Joon beranjak pergi. Sung Han menyusul Se Joon :

Sung Han : Redaktur Jung. Itu tidak diimpor, bukan?

Se Joon : Impor bokongku?

Sung Han : Bokongmu minta ditampar.

Se Joon : Jika kau mau, ikuti aku.

Sang Kyu melihat mereka dengan sinis, lalu stress sendiri.

Di ruangannya, Kepala Na lagi bicara di telepon sama anakanya.

Kepala Na : Ayah akan mencari pelajarannya. Belajar saja ke mana pun ayah mengirimmu. Usaha terakhirmu. Kau hanya perlu 20 poin lagi. Ya, ayah tahu. Semua orang juga melewati neraka.

Lalu Sang Kyu masuk dan Kepala Na langsung menyudahi teleponnya.

Sang kyu : Jika kau senggang, ayo makan malam bersama.

Kepala Na : Sayang sekali. Aku mau makan malam dengan CEO.

Sang Kyu : Baiklah.

Kepala Na : Kenapa? Ada yang ingin kau katakan?

Sang Kyu : Tidak.

Sang Kyu beranjak ke pintu tapi kemudian dia teringat kata-kata Chul Wook tadi.

Chul Wook : Para pria haus menggali sumur. Kepala Na tampaknya menentangmu. Aku tidak bisa hanya mengandalkanmu.

Se Joon dan Sung Han makan di warung fermentasi ikan skate.

Se Joon : Dasar penjilat. Kenapa kau tidak makan seperti dahulu?

Sung Han : Kau juga. Jangan membuatku kesal. Ikan skate rasanya sama, tapi organku tidak sama.

Se Joon : Bagaimana kabar ibumu? Apa dia baik-baik saja?

Sung Han : Ibuku sesehat kuda. Dia masih bisa mengangkat karung beras.

Se Joon : Sungguh wanita yang luar biasa.

Sung Han : Putra Amerika kita yang membanggakan, Parker Jung. Bagaimana keadaannya?

Se Joon : Apa kau gila? Parker bukan putramu.

Sung Han : Aku sangat terluka. Aku menggendongnya di punggungku saat dia masih kecil. Aku punya andil.

Se Joon : Parker kita belajar di Stanford, baik-baik saja.

Sung Han : Nama Stanford membuat jantungku berdebar.

Se Joon : Jadi, bagaimana kabarmu? Kau dan Kepala…

Sung Han : Jangan bertele-tele. Langsung saja. Kau penasaran dengan MP Go, bukan?

Se Joon : Astaga. Bagaimana kau tahu?

Sung Han : Kau cenderung meremehkanku. Tapi aku Redaktur Utama dari Harian Korea Digital. Saat kudengar kau mengetik di pagi hari, aku tahu apa yang kau cari.

Se Joon : Lalu?

Sung Han : Aku mabuk, jadi, akan kuberi tahu satu kebenaran. Itu bukan laporan salah.

Se Joon : Benarkah? Kalau begitu…

Sung Han : Fokuslah pada hasilnya.

Se Joon : Apa itu? Insiden atau bisnis?

Sung Han : Bisnis. Untuk bisnis, harus ada untung. Siapa yang untung?

Kepala Na makan sama CEO Park.

CEO Park : Kenapa kau memesan laporan lanjutan?

Kepala Na : Kita harus tampak mengoreksi diri. Jadi, kita ubah opini masyarakat dan pers lainnya tidak bisa mengorek kita. Yang terpenting, kita dan MP Go bergantung pada pemerintahan saat ini. Dengan pemerintahan yang lain, kita mungkin akan rugi. Kita butuh senjata cadangan untuk berjaga-jaga.

CEO Park : Benar. Karena bunuh diri yang tidak terduga itu, kita harus menanggung risiko untuk tindakan kita ke depannya.

Kepala Na : Aku akan mengurus itu.

CEO Park : Fokuslah pada langkah berikutnya.

Ji Soo, Joon Hyuk dan Kyung Woo minum-minum di tempat biasa mereka minum.

Joon Hyuk menuangkan untuk Ji Soo dan Kyung Woo.

Joon Hyuk : Jadi reporter junior pemula melakukan wawancara. Dan yang dia wawancarai adalah seniornya yang baru. Terlalu rendah hati untuk gambaran besar.

Ji Soo hanya menunduk.

Kyung Woo : Tidak apa-apa. Liputan tidak harus menjadi sesuatu. Kenapa kau serius sekali?

Ji Soo : Bukan begitu. Perkataanmu membuatku memikirkan hal lain.

Kyung Woo : Hal lain? Apa?

Ji Soo : Baru-baru ini, seseorang mengatakan ini kepadaku. Diskriminasi dan perbedaan tidak sama. Seperti temanmu dengan informasi itu, beberapa orang gagal dengan kualifikasi yang tepat karena mereka tidak punya uang atau koneksi. Itu diskriminasi yang tidak adil. Tapi seperti Soo Yeon, beberapa orang tidak memiliki kualifikasi yang tepat. Itu perbedaan yang adil.

Kyung Woo : Jadi, tidak adil mendiskriminasi orang yang tidak punya koneksi, tapi adil mengevaluasi orang berdasarkan latar belakang pendidikan mereka?

Joon Hyuk : Setidaknya, itu fakta di Harian Korea .

Ji Soo : Soo Yeon tahu seperti apa itu. Lebih baik daripada orang lain. Dia pasti menderita lebih parah.

Joon Hyuk menyuruh Ji Soo menulis itu. Ji Soo kaget, apa?

Joon Hyuk : Jangan pikirkan laporan salah atau laporan lanjutan. Tulis apa yang kau rasakan hari ini. Jurnalis membuktikan dengan kisah. Bukan dengan mulut kita. Biarkan pembaca memikirkan diskriminasi dan perbedaan.

Ji Soo senang, benarkah? Aku bisa menulis tentang itu?

Joon Hyuk : Mata gila. Hei. Aku tidak bilang akan mengunggahnya. Aku bukan Redaktur Meja.

Ji Soo : Kau benar. Bagaimana denganmu? Katamu kau bertemu dengan Go Yu Seop.

Joon Hyuk : Ya. Aku bertemu dengannya. Ternyata dia orang tua biasa. Tapi…

Joon Hyuk teringat kata-kata yang dibisikkan Yu Seop tadi padanya.

Yu Seop : Orang-orang kaya menghubungkan anak-anak mereka agar tetap kaya. Harian Korea menjadi wilayah mereka. Di mana-mana juga sama.

Joon Hyuk bertanya-tanya, apa maksudnya?

Ji Soo : Bukankah dia hanya bilang “harian” dan “Korea”?

Tiba-tiba, Se Joon datang dipapah Ki Ha.

Se Joon mabuk berat.

Joon Hyuk : Apa-apaan ini? Masih pukul sebegini dan kau sudah mabuk berat.

Se Joon : Um Sung Han, si pecundang penjilat itu. Dia benar-benar menjaga kesehatannya.

Mereka duduk.

Joon Hyuk : Jadi, maksudmu CEO dan MP Go benar-benar punya bisnis rahasia, dan Kepala merencanakan semuanya?

Se Joon : Aku tidak tahu siapa yang merencanakannya. Tapi aku tahu siapa yang mengotori tangannya. Redaktur Yoon.

Joon Hyuk teringat kata-kata Yu Seop tadi.

Yu Seop : Tidak penting. Apa Redaktur Meja Kota mengirimmu?

Ki Ha kaget, Redaktur Yoon? Atas dasar apa?

Se Joon : Alibi.

Se Joon menceritakan apa kata-kata Sung Han tadi.

Sung Han : Ini kebetulan yang aneh. Sehari setelah Kyung Woo mendapatkan daftarnya, Redaktur Yoon mengambil cuti panjang. Katanya dia butuh pelatihan di luar negeri. Selama lebih dari sebulan.

Yoon Kyung datang.

Yoon Kyung : Apa maksudmu? Redaktur Yoon membantu membersihkan nama MP Go saat dia cuti?

Se Joon : Bukan begitu. Yoon Kyung, duduklah.

Yoon Kyung duduk.

Se Joon : Aku tidak bilang dia melakukan itu. Lihat waktunya. Ini terlalu direncanakan untuk menjadi sebuah kebetulan. Mencurigakan.

Ki Ha : Kapten, kau tahu di mana dia saat cuti?

Yoon Kyung : Kudengar Inggris.

Joon Hyuk : Inggris? Kenapa di sana?

Yoon Kyung : Dia mencari sekolah untuk anaknya. Aku tahu kau membencinya karena dia kejam. Tapi jangan mencurigainya tanpa bukti jelas.

Yoon Kyung yang kesal, beranjak pergi.

Se Joon : Seharusnya aku tidak mengatakannya. Aku terlalu mabuk.

Se Joon berdiri tapi nyaris jatuh karena mabuk. Ki Ha pun memegangi Se Joon dan langsung membawanya pulang.

Joon Hyuk menyusul mereka tapi sebelum pergi dia memberikan kartu kreditnya ke Kyung Woo.

Joon Hyuk : Kalian berdua bekerja dengan baik hari ini sebagai pewawancara dan orang yang diwawancarai. Minumlah lagi jika kalian mau.

Ki Ha dan Joon Hyuk memapah Se Joon.

Se Joon : Kau tahu? Mari minum sekali lagi di sana. Di sana.

Se Joon menunjuk ke coffee shop.

Mereka bertiga pergi minum kopi.

Se Joon menyeruput kopinya tapi karena masih panas, dia terkejut dan berdiri.

Se Joon : Terlalu panas.

Kopinya sampai tumpah ke mejanya. Ki Ha dan Joon Hyuk yang membersihkan tumpahan kopi.

Se Joon : Um Sung Han, si penjilat itu. Dia minum sebanyak aku, tapi tidak tampak mabuk sama sekali. Katanya dia butuh kopi untuk sadar.

Ki Ha membantu Se Joon duduk.

Joon Hyuk : Kopi sangat penting baginya. Hampir sama pentingnya dengan koran.

Se Joon : Dia minum puluhan cangkir sehari guna tetap terjaga untuk bekerja.

Ki Ha : Dia setia pada perusahaan. Tidak, aku rasa, setia kepada Kepala.

Se Joon : Menurutmu itu saja?

Di mejanya, Sung Han bicara sama ibunya di telepon.

Sung Han : Hai, Bu. Ini putra Ibu. Ibu sudah makan malam? Aku minum dengan Se Joon hari ini. Bedebah itu bukan temanku. Dia bawahanku. Posisiku jauh lebih tinggi darinya. Tidak, itu sudah lama sekali. Pokoknya, jangan cemaskan aku. Jaga diri Ibu. Ya. Baiklah. Tidur yang nyenyak. Aku akan menelepon Ibu lagi.

Sung Han menutup teleponnya dan menghela nafas.

Sung Han : Aku merindukan ibuku.

Se Joon bilang pada Ki Ha dan Joon Hyuk kalau Sung Han mungkin tampak seperti penjilat dari luar, tapi dia cukup substansial di dalam.

Se Joon : Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Bahwa itu bukan laporan salah dan Redaktur Yoon melakukan pekerjaan kotor. Dia memberi kita petunjuk untuk membantu proyek kita.

Joon Hyuk : Redaktur Yoon mengancamku. Dia sangat mencurigakan.

Ki Ha : Dia juga mengancamku.

Joon Hyuk : Ini aneh. Dia dibantu CEO, jadi, tidak ada alasan baginya untuk takut kepada kita.

Se Joon : Ini waktunya dia jatuh. Burung yang terbang lebih tinggi melihat lebih jauh. Tapi lebih menyakitkan saat mereka jatuh.

Mereka lalu tertawa.

Kepala Na mengantarkan CEO Park ke mobil.

CEO Park : Kau akan menangani Redaktur Yoon?

Kepala Na : Pak, soal Redaktur Yoon, aku akan mengurusnya sendiri. Jadi, tolong lihat ke arah lain.

CEO Park : Baiklah.

Joon Hyuk, Ki Ha dan Se Joon beranjak meninggalkan kedai kopi.

Se Joon udah sadar kembali sehabis minum kopi.

Ki Ha : Kurasa Redaktur Yoon tidak akan menyerah semudah itu.

Begitu mereka pergi, Sang Kyu masuk ke kedai kopi itu.

Tapi dia malah melamun dan memikirkan kata-kata Kepala Na pas dia berlutut tadi.

Flashback…

Sang Kyu ke ruangan Kepala Na. Dia mengajak Kepala Na makan malam tapi Kepala Na nya sudah punya janji dengan CEO Park.

Sang Kyu mau pergi, tapi dia teringat kata-kata Chul Wook.

Sang Kyu lantas berlutut, aku bodoh karena bertingkah di depanmu. Aku ingin putraku belajar di luar negeri. Itu salahku.

Kepala Na : Jadi, kau ingin aku mempertahankanmu? Kau tidak tahu apa yang akan kau lakukan jika dipecat?

Sang Kyu : Apa? Bukan begitu.

Kepala Na : Aku tidak pernah tahu kau pemecah masalah atau pembuat masalah. Tapi sampai sekarang, kau bukan keduanya. Jadi, mari kita pikirkan lagi. Mengerti?

Flashback end…

Pelayan memanggil Sang Kyu, anda tidak mau memesan?

Sang Kyu : Satu cafe latte. Aku mau kopi reserve.

Pelayan bilang mereka kehabisan kopi reserve dan menawarkan kopi standar ke Sang Kyu.

Sang Kyu marah, standar? Kepadaku?

Sang Kyu pun pergi.

Ji Soo makan malam dengan Kyung Woo.

Kyung Woo : Seekor anak ayam bisa berakhir selain digoreng atau dibumbu. Ayam semur elegan dengan keju.

Ji Soo : Itu lezat.

Kyung Woo : Saat kita lahir, semuanya acak. Tidak ada standar. Tidak ada gunanya menganggap itu diskriminasi.

Ji Soo : Bagaimana dengan perbedaan?

Kyung Woo : Kau bisa membuat perbedaan dengan usaha. Tapi pikirkanlah. Tidak membanggakan jika menyombong soal itu.

Ji Soo : Kini kau tahu apa yang bisa disombongkan.

Kyung Woo : Sombong? Apa itu terlihat seperti menyombong? Aku hanya lebih baik.

Ji Soo : Saat melihatmu, kau tampak sangat riang bahkan saat berkecil hati.

Kyung Woo : Benar. Aku menjalani hidup yang mudah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Ji Soo : Apa keluargamu kaya?

Kyung Woo : Ya. Bukan lima konglomerat terbesar. Lebih tepatnya 50 besar.

Ji Soo : Astaga. Benarkah? Tanpa kekhawatiran, tanpa kerendahan hati. Aku sangat iri kepadamu.

Kyung Woo : Ji Soo-ya, orang kaya sepertiku tidak perlu rendah hati. Itu lebih tidak menarik.

Ji Soo : Aku setuju. Kau tampak sangat menarik sekarang.

Bersambung ke part 4….

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like
The Penthouse 3 Ep 1
Read More

The Penthouse 3 Ep 1

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Penthouse Season 3 Episode 1, Jika Kalian ingin melihat full recapnya tersedia lengkap di…
Read More

Red Shoes Ep 68 Part 1

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Red Shoes Episode 68 Part 1, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan…
Mr Queen Ep 7
Read More

Mr Queen Ep 7

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Mr Queen Episode 7, Simak rekap Episode sebelumnya baca di sini. Bagi yang penasaran daftar…
Read More

Red Shoes Ep 25 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Red Shoes Episode 25 Part 2, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan…