Hush Ep 11 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Hush Episode 11 Part 2, Yuk gaes baca juga selengkapnya untuk daftar link ada di tulisan yang ini. Pastikan Kalian juga harus mengetahui kalau tersedia juga Episode sebelumnya baca di sini.

Ji Soo pergi meliput dengan Kyung Woo.

Mereka dalam perjalanan.

Ji Soo : Pegawai paruh waktu berhenti tanpa pemberitahuan dan atasannya memegang pisau karena marah. Dua sisi yang sangat berbeda dalam satu insiden.

Kyung Woo : Kita harus memilih antara fakta dan tulisan yang bagus. Redaktur Um ramah Meja dan Kapten lebih suka penyelidikan. Jangan terlalu tertekan. Mari tulis apa yang kita temukan.

Ji Soo : Baik, tapi… kenapa Kepala memilih kita?

Joon Hyuk kaget pas Kepala Na bilang Ji Soo dan Joon Hyuk yang pergi meliput.

Kepala Na : Kau melatih mereka. Kenapa? Kau tidak memercayai mereka?

Joon Hyuk : Aku tidak bermaksud begitu. Aku juga tidak melatih mereka.

Kepala Na : Aku tidak bermaksud apa-apa lagi, jangan khawatir. Aku berharap banyak kepada mereka. Mereka berdua sangat pintar. Terutama, Lee Ji Soo menulis dengan sangat baik. Aku akan membuatkannya segmen baru. Aku berencana melatihnya sendiri. Aku juga butuh yang terpercaya di Mejaku.

Kepala Na lalu berkata ada seseorang mengiriminya paket aneh.

Kepala Na : Kontrak gajimu dan pengeluaran medis ayahmu. Aku melihatmu menutup asuransi tabungan 20 tahun.

Joon Hyuk : Siapa yang mengirimnya?

Kepala Na : Aku penasaran… Lucu, bukan? Sulit mendapatkan informasi pribadi seperti itu. Tapi kurasa itu mudah bagi tim penyidik.

Joon Hyuk : Tim penyidik?

Kepala Na : Ada tim yang mengurus pegawai lantai 15. Mereka bisa menemukan apa pun. Mungkin ada magnet terpasang padamu. Kau pikir mereka tidak akan mencurigaimu karena aku merekomendasikanmu?

Kepala Na lalu meminta Joon Hyuk berhati-hati.

Kepala Na : Jika kau datang dengan niat lain, mereka akan mengetahuinya sebelum kau.

Ji Soo dan Kyung Woo mendatangi restoran kari pertama kalinya. Mereka mewawancarai si pemilik resto.

Ji Soo : Pak, anda punya restoran kari di tempat lain, bukan?

Ahjussi pemilik resto berkata, itu masa-masa indah.

Kyung Woo tanya, kenapa si pemilik resto mengganti bisnis.

Pemilik resto bilang dulu tempat bisnisku menjadi populer dan tuan tanahnya menaikkan biaya sewa. Hanya restoran waralaba yang bisa bertahan dari itu dan dia tidak punya kesempatan.

Ji Soo mengerti.

“Aku harus mencari nafkah, jadi, berakhir di sini. Tapi menjalankan bisnis kecil tidaklah mudah. Aku menutup restoran kari yang berusia 30 tahun untuk bergabung dengan waralaba ini. Tapi penjualannya sangat buruk. Biaya waralaba dan biaya pengantarannya terus naik. Bahkan jika tidak ada boikot…”

Ji Soo menulis di ponselnya, boikot media sosial, waralaba, kari. Kenapa?

Pria itu melanjutkan dia memang akan bangkrut jika tak ada boikot.

“Jadi menurutmu ini semua karena waralaba, bukan karena boikot daring yang anda timbulkan?” tanya Kyung Woo.

“Jika bukan, lalu apa? Maksudmu ini semua salahku? Bocah itu berjanji satu bulan dan berhenti setelah tiga hari. Apa aku harus berterima kasih dan mengasihaninya?”

“Kami tidak mengatakan itu.” jawab Ji Soo.

Kyung Woo terus memojokkan pria itu.

“Tapi anda tidak membayarnya untuk tiga hari kerja. Anda juga tidak menandatangani kontrak apa pun.”

Pria itu emosi dan menunjukkan kontrak kerja mereka.

“Kubilang kami harus meneken kontrak. Dia tidak melakukannya karena bilang itu tidak nyaman.”

“Bagaimana dengan pisaunya?”

“Polisi menyelidikiku karena itu. Mereka memeriksa semua rekaman kamera pengawas.”

“Jadi, anda memang memegang pisau.”

“Aku tidak memegangnya. Aku meletakkannya. Aku tidak akan pernah memegang pisau, selamanya. Wajar saja memegang pisau di dapur. Apa itu kejahatan?”

“Ya. Memegang kemudi saat mengemudi bukanlah kejahatan, tapi jika anda mengintimidasi mobil lain, itu kejahatan.”

Selanjutnya, mereka mewawancarai si pekerja part-time.

Si pekerja part-time bilang kalau atasannya menaruh pisau dengan keras dan berkata, “Kau ingin mati?”

“Bagaimana bisa aku tidak takut?”

Ji Soo kembali menulis di ponselnya, meletakkan pisaunya? Menghantamkan pisaunya?

Ji Soo : Ya, tapi kami sudah memeriksa rekaman kamera pengawas. Polisi bilang tidak ada masalah.

Pria muda itu bilang Ji Soo seharusnya melihat wajah atasannya.

Gantian Kyung Woo yang nanya.

“Jadi, anda tidak bisa mengunjunginya untuk meminta bayaran anda karena anda takut. Benar, bukan?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan kontraknya? Dia bilang anda tidak menandatanganinya karena tidak nyaman.”

“Apa? Itu bukan apa-apa. Kenapa aku tidak mau menandatanganinya? Aku merasa bersalah karena berhenti kurang dari sepekan, tapi aku tidak bisa menyerahkan bayaran tiga hari.”

Kyung Woo dan Ji Soo sudah di parkiran Harian Korea sekarang.

Saat Kyung Woo mau turun dari mobil, Ji Soo bilang Kyung Woo terlihat aneh hari ini.

Kyung Woo : Kenapa?

Ji Soo : Kau lebih agresif daripada biasanya. Sejujurnya, kupikir kau akan memihak atasan.

Kyung Woo : Karena apa? Karena keluargaku kaya?

Ji Soo : Hanya… Ya. Kau bilang 50 besar.

Kyung Woo dan Ji Soo turun.

Kyung Woo : Atasannya mengabaikan kesalahannya sendiri dan membuat alasan yang tidak berkaitan dengan biaya waralaba dan biaya pengiriman.

Ji Soo : Itu memang menjijikkan.

Kyung Woo : Bagaimana denganmu? Apa kau di posisi pegawai?

Ji Soo : Tidak. Kupikir itu lebih seperti masalah kesenjangan generasi.

Kyung Woo : Kesenjangan generasi? Apa maksudmu?

Ji Soo : Saat orang berkuasa menghadapi kritik, mereka selalu mengatakan ini. “Anak muda” zaman sekarang hidup mudah. Semuanya karena “internet”.

Kyung Woo : Benar. Mereka pernah muda dan mereka selalu mencari di ponsel mereka.

Ji Soo : Aku berharap atasan mengakui kesalahannya. Tapi semuanya terlihat jelas.

Kyung Woo : Jelas? Apanya?

Ji Soo : Terlihat jelas dari generasi kita. Kepala pasti tahu itu. Dia tahu dan tetap menyuruh kita meliputnya. Dia mungkin punya niat lain.

Kyung Woo : Niat? Maksudmu, Kepala punya niat tersembunyi?

Ji Soo : Tapi aku tidak tahu apa itu. Ada pertanyaan di balik setiap pintu.

Sekarang Kyung Woo dan Ji Soo di lift.

Kyung Woo : Apa pun niatnya, aku akan menulis semua yang kurasakan.

Ji Soo : Aku tidak akan tertipu kali ini.

Kyung Woo : Apa? Kali ini aku serius. Kenapa? Kau menentangnya? Bisakah kau mengecualikan semua emosi dan hanya menulis fakta?

Ji Soo : Tidak juga. Aku tidak akan bilang begitu.

Ponsel Ji Soo berdering. Telepon dari Reporter Goo.

Ji Soo buru-buru mematikannya.

Tapi Kyung Woo keburu melihat.

Kyung Woo : Reporter Goo? Apa ada Reporter Goo di Harian Korea?

Ji Soo gelagapan menjelaskannya, itu… Dia bukan reporter sungguhan. Ini julukan temanku. Dia melaporkan semuanya, berpikir dia seorang reporter. Jadi, aku menyimpannya namanya…

Kyung Woo tertawa. Pintu lift terbuka. Kyung Woo keluar duluan. Ji Soo lega Kyung Woo gak curiga.

Bersambung ke part 3…

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like