Hush Ep 10 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Hush Episode 10 Part 3, Yuk gaes baca juga selengkapnya untuk daftar link ada di tulisan yang ini. Pastikan Kalian juga harus mengetahui kalau tersedia juga Episode sebelumnya baca di sini.

Ji Yoon dan Pak Oh, di meja Joon Hyuk. Ji Yoon lagi ngobrol sama Joon Hyuk. Lah Sang Kyu nya kesel lihatnya.

Ji Yoon : Kau membuat jantungku berdebar. Tidak seperti kesan pertamamu, kau sakit (sick).

Pak Oh : Yang benar anggun (chic), Bu.

Ji Yoon : Apa?

Pak Oh : Sakit berarti tidak enak badan. Yang benar anggun. Anggun berarti beradab dan rumit.

Ji Yoon : Kau yang sakit. Keluarlah.

Pak Oh keluar.

Ji Yoon : Terkadang aku bingung dengan kata-kata. Omong-omong, Manajer Han. Aku berharap banyak kepadamu.

Joon Hyuk : Terima kasih.

Ji Yoon beranjak pergi.

Sang Kyu berdiri dan beranjak ke depan mejanya Joon Hyuk.

Sang Kyu : Aku tidak tahu apa rencanamu, tapi jangan lupa aku lebih tinggi darimu.

Joon Hyuk tersenyum, baiklah. Jika aku mengimbangimu, bahkan jika aku dipecat atau tidak, aku akan dapat hasil.

Sang Kyu : Tersenyum? Baiklah. Kita lihat berapa lama senyum itu bertahan.

Sung Han di ruangan Kepala Na.

Sung Han : Menurutmu Joon Hyuk serius? Aneh jika pemberontak seperti dia tiba-tiba… Menyebalkan sekali. Kukira kau akan menjadi Redaktur Eksekutif.

Kepala Na : Bukankah sudah kubilang? Jika aku tidak memberitahumu semuanya…

Sung Han : Ya. Lebih baik aku tidak tahu. Tapi sekarang, kurasa aku tidak tahu banyak.

Kepala Na teringat percakapannya dengan CEO Park.

Kepala : Bagaimana jika kita panggil Reporter Han dan Redaktur Yoon ke lantai 15?

CEO Park : Aku mengerti dengan Redaktur Yoon. Tapi bisakah aku memercayai Reporter Han?

Kepala Na : Dengan segala hormat, apa anda percaya kepadaku?

CEO Park : Tentu saja.

Kepala Na : Anda memercayai pengalaman dan wawasanku. Seperti anda, aku memercayai skala pemikiran Reporter Han.

CEO Park : Aku hanya bisa memercayaimu, Kepala.

Kepala Na : Anda terlalu baik.

CEO Park : Jika ini berjalan lancar, kau harus memimpin Harian Korea untukku. Kau menginginkan posisiku, bukan?

Kepala Na : Anda terlalu banyak bercanda, Pak. Aku terlalu tua untuk itu.

CEO Park : Katamu kau makin ambisius saat bertambah tua.

Kepala Na : Itu lelucon.

CEO Park : Aku ingin kau melakukannya. Pertahankan posisi ini dengan baik, dan serahkan ke Kyu Tae dengan lancar. Dari seorang jurnalis ke jurnalis lainnya. Terlihat alami, bukan?

Kepala Na : Baik, Pak. Jika itu yang anda inginkan, aku akan berusaha semampuku untuk mewujudkannya.

Flashback end…

Sung Han : Kepala, sejauh apa kau akan naik?

Kepala Na : Ke mana lagi aku akan pergi jika bukan ke paling atas?

Sung Han : Paling atas? CEO?

Kepala : Hush (Diam).

Sang Kyu berdiri di depan lift. Tak lama, pintu lift terbuka dan Kyu Tae keluar dari dalam.

Sang Kyu memeluk Kyu Tae.

Kyu Tae : Kau menungguku?

Sang Kyu : Tentu saja. Calon pemilik Harian Korea datang. Aku harus menyapanya.

Kyu Tae : Perjalananku masih panjang.

Sang Kyu : Panjang? Itu di sana.

Mereka menatap pintu besar ruangan CEO.

Sang Kyu : Kau tahu. Saat berpikir berada di sana, kau akan menghadapi dinding.

Kyu Tae : Dinding?

Sang Kyu : Apa ada masalah?

Kyu Tae : Tidak.

Sang Kyu : Tapi jika ada, aku akan memperbaikinya. Jangan khawatir.

Di ruangannya, Joon Hyuk membaca artikel tentang Ji Yoon. Dia adalah Direktur Operasi Bisnis dan CEO V News.

“V News menandatangani perjanjian bisnis dengan Sports Daily.”

Ji Yoon di perjalanan, memikirkan Joon Hyuk sambil menatap tabletnya.

Ji Yoon : Han Joon Hyuk, bagaimana bisa seorang reporter memikirkan hal seperti itu?

Pak Oh : Kukira dia meniru ide anda. Sepertinya anda senang.

Ji Yoon : Ya. Akhirnya aku tidak perlu pura-pura bodoh di hadapan seseorang. Rencana kasarnya tidak terlihat begitu kasar. Itu terlihat cantik.

Pak Oh : Mungkin karena ini pekerjaan nonreporter pertamanya.

Ji Yoon : Kau tidak tahu cara kerja reporter? Niat mereka lebih dari sekadar menghapuskan halaman daring.

Pak Oh : Anda benar.

Ji Yoon : Kalau begitu… Entah dia terlahir sebagai reporter sampah, atau dia tiba-tiba menjadi ambisius.

Pak Oh : Anda mau aku menusuknya sedikit?

Ji Yoon : Tidak perlu. Jika tebakanku benar, dia akan mendekatiku lebih dahulu.

Hari sudah malam. Joon Hyuk berjalan di dalam gang, tapi langkahnya terhenti saat dia melewati bar tempat dia dan teman-temannya biasa minum. Joon Hyuk menoleh dan melihat temannya sedang berkumpul.

Kyung Woo : Kapten… Tidak.

Joon Hyuk beranjak pergi.

Se Joon minta maaf pada Yoon Kyung karena tidak bisa memberi ucapan selamat yang pantas.

Ki Ha : Dia benar. Kita harus merayakan kepergian Redaktur Yoon.

Yoon Kyung : Aku tidak menyingkirkannya. Dia berjalan keluar sendiri. Dan dia mendapatkan keinginannya.

Kyung Woo : Baiklah. Ini bukan situasi terbaik, tapi juga bukan yang terburuk. Faktanya, Kapten kita menjadi Redaktur Meja Kota. Dan kita hanya perlu merayakan itu. Mari bertepuk tangan!

Semua memberi ucapan selamat pada Yoon Kyung.

Ki Ha minta ditraktir.

Kyung Woo mau barbeque-an. Yoon Kyung tersenyum dan berkata akan mentraktir mereka semua barbeque lengkap besok.

Mereka bersulang. Setelah itu, mereka melihat ke kursi Joon Hyuk.

Se Joon : Kursi kosongnya sangat menonjol.

Ki Ha : Jika bukan karena dia…

Yoon Kyung : Tidak. Dia pasti punya alasan. Ada sesuatu.

Ji Soo : Sesuatu? Apa maksudmu?

Yoon Kyung : Sudah kubilang. Saat Soo Yeon meninggal, Joon Hyuk mencoba mengekspos ucapan Kepala. Aku berhasil menghentikannya saat itu. Tapi sekarang…

Se Joon : Apa maksudmu? Joon Hyuk naik ke sana untuk mengekspos kelemahan CEO?

Yoon Kyung : Kurasa itu lebih dari mungkin baginya.

Ji Soo : Tidak akan pernah!

Yoon Kyung : Kau mungkin tidak mengerti.

Ji Soo : Bukan karena ayahku. Jika sungguh punya alasan, dia tidak perlu membuat kalian salah paham tentangnya.

Kyung Woo : Benar! Dia melarang kita mengatakan apa pun sampai selesai. HUSH.

Ki Ha : HUSH?

Yoon Kyung : Dia juga bilang ini kesempatan terakhirnya untuk menjadi reporter sungguhan.

Ji Soo meletakkan tulisan HUSH di atas meja.

Ji Soo : Maksudmu ini? Dia membuangnya. Katanya ini kesempatan terakhirnya menjadi reporter sungguhan dan dia melakukan ini.

Yoon Kyung pulang. Dia menyemprotkan pengharum mulut sebelum bertemu anak-anaknya agar mulutnya tak berbau alcohol.

Tapi entah kenapa, putrinya marah.

“Apa ibu sudah gila?”

Se Joon dibuatkan sup pereda pengar oleh istrinya.

“Sup pereda pengar itu mahal. Minumlah.”

“Bagaimana kalau kita berimigrasi?”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Kita bisa mengurus putra kita. Akan menyenangkan tinggal bersama.”

“Tentu saja. Tapi bagaimana kita akan mencari nafkah? Ada apa denganmu?”

“Yoon Kyung dipromosikan menjadi Redaktur Meja.”

Ki Ha cerita apa yang terjadi di kantor pada istrinya.

“Bagaimana Wakil Redaktur Jung?”

“Dia berusaha tidak menunjukkannya, tapi kurasa dia sengsara. Selain itu, Han Joon Hyuk si berengsek itu. Dia mengkhianati kami dan naik ke lantai 15. Dengan Redaktur Yoon.”

Istri Se Joon kaget, dengan Redaktur Yoon?

Se Joon : Karena itu, Ki Ha pasti marah pada Joon Hyuk. Manajer Kim bertahan.

Istri Se Joon minta Se Joon bertahan juga.

“Jangan lengah. Kau sudah lama menjadi Wakil.”

“Kau menghibur atau menyinggungku?”

“Kau harus bekerja sampai Parker lulus!”

“Kau benar.”

Ki Ha diizinkan istrinya untuk resign jika terlalu berat.

Kedua putri Ki Ha datang dan langsung menghambur ke pelukan ayahnya.

“Ayah mendapatkan banyak uang di kantor?”

“Tidak banyak?”

“Kenapa kau bilang begitu? Ayah membawa banyak uang!”

“Ayah, ayo bermain.”

Seo Jin marah karena Yoon Kyung menolak tawaran untuk menyekolahkannya ke LN.

Seo Jin : Soo Hyuk memberitahuku semuanya. Ibunya menawarkan kesempatan belajar ke luar negeri, dan Ibu menolak.

Yoon Kyung : Seo Jin-ah, ini…

Seo Jin : Tidak. Ibu selalu memedulikan diri sendiri, bukan aku.

Seo Jin ngambek dan masuk ke kamar.

Di ruangan Meja Berita Digital, semua membaca proposal No Gain, No Pain. Ki Ha tanya ke Sung Han, apa maksudnya itu.

Sung Han : Menurutmu apa? Artinya kita mulai sekarang, kita mendukung “Tanpa Hasil, Tanpa Derita”.

Se Joon : Apa maksudmu?

Sung Han : Jadi… Lupakan saja. Jika tidak kujelaskan secara detail, lebih baik kalian tidak tahu. Sudah kubilang berkali-kali.

Dong Wook : Kau tidak pernah memberi tahu kami.

Sung Han : Benarkah? Begitu rupanya. Aku baru saja melakukannya. Camkan itu. Aku menyewa pekerja paruh waktu untuk ini. Manajer Kim, ajari mereka tentang hal ini dengan baik.

Ki Ha sewot.

Sung Han : Apa yang mengganggumu?

Ki Ha : Kau bilang kepada kami bahwa di Harian Korea Digital, kita tidak akan melakukan ini lagi.

Sung Han : Ini pengecualian. Ini bukan untuk tingkat baca. Ini untuk tujuan yang baik. Sesuatu yang positif… Tidak.

Se Joon : Katakan saja, Redaktur Um. Sebelum mulai, kami harus tahu motif aslimu.

Sung Han : Turuti saja perintahku! Dasar orang-orang malas! Beraninya kalian menentang bos kalian? Sial!

Sung Han pergi.

Se Joon : Apa yang mereka inginkan?

Ki Ha : Mereka meredamnya. Menarik perhatian semua orang di internet dan membuatnya meledak sendiri.

Dong Wook lalu membaca siapa yang menulis proposal itu.

Dong Wook : Apa? Reporter Han menulis ini.

Semua langsung membaca dan menjadi kesal, terutama Ji Soo.

Di ruangannya, Joon Hyuk melamun di depan jendela.

Lalu dia melihat berkas yang ditulisnya, yg berjudul Solusi Untuk Situasi No Gain, No Pain.

Ji Soo cs mulai mengcopy-paste artikel klik bait dan ditaruh di halaman No Gain, No Pain.

Ji Soo lalu melihat ke arah seorang wanita di ruangan di depannya yang tengah sibuk bekerja.

Jae Eun mendekati Ji Soo.

Jae Eun : Mempekerjakan pekerja paruh waktu untuk mengubur pekerja paruh waktu.

Ternyata wanita itu adalah salah satu pekerja paruh waktu.

Jae Eun : Kenapa? Kau mengasihani mereka?

Ji Soo : Apa?

Jae Eun : Pekerja paruh waktu tiga bulan untuk menyalin dan menempel. Kau seharusnya melakukan itu juga. Sudah kubilang. Kalian sangat beruntung. Sejujurnya, kalian mendapat posisi tetap karena insiden itu. Beruntung sekali.

Se Joon kesal, dia berdiri mau mendamprat Jae Eun tapi keduluan Ki Ha.

Ki Ha : Reporter Lee!

Jae Eun : Ya?

Ki Ha : Apa yang kau lakukan?

Jae Eun : Apa maksudmu? Aku sedang bekerja.

Jae Eun nunjukin dokumennya.

Ki Ha berdiri, apa merundung merupakan pekerjaanmu?

Jae Eun : Itu bukan…

Ki Ha : Berhenti! Aku tahu pekerjaanmu payah. Tapi kau tidak bisa mengatakan itu kepada para junior yang bekerja keras.

Jae Eun : Aku tidak pernah…

Ki Ha : Lee Jae Eun-ssi! Berhenti di sana. Jangan menyelinap ke Meja lain kecuali soal pekerjaan! Reporter Jo, jangan lengah. Fokuslah pada pekerjaanmu!

Dong Wook : Baik, Pak.

Ki Ha : Dengar baik-baik. Setelah menyelesaikan sampah ini, kita lakukan rapat fokus besok pukul 08.00. Jika kalian tidak ingin tertinggal, siapkan kisah. Jangan ada kisah umpan klik dan salin tempel. Kita hanya akan menulis kisah nyata.

Ki Ha beranjak pergi. Jae Eun setengah kesal setengah mati dibentak-bentak Ki Ha.

Ji Soo ke kantor polisi. Di depan kantor polisi, dia bertemu Kyung Woo.

Kyung Woo : Sedang apa kau di sini? Mungkinkah… kau merindukanku?

Ji Soo tersenyum dan menggeleng.

Kyung Woo : Kau mau minum, bukan?

Kyung Woo dan Ji Soo ke kafe.

Tapi Ji Soo tampak murung.

Kyung Woo menebak, karena Joon Hyuk.

Kyung Woo : Aku tidak mengerti.

Ji Soo : Semua orang sama saja.

Kyung Woo : Tidak, justru sebaliknya. Bagaimana mereka bisa menyalahkannya?

Ji Soo : Apa?

Kyung Woo : Kau tahu. Dia yang terhebat di antara kita semua. Tapi bos kita mematikannya. Apa yang bisa kita lakukan? Dorong ke depan seperti orang gila? Apa bos kita akan setuju? Jika melakukan itu, sudah syukur kita bisa mempertahankan pekerjaan. Keyakinan dan kebenaran memang penting. Tapi menjadi reporter adalah pekerjaan. Tidak ada yang bebas dari pekerjaan mereka.

Ji Soo : Kau bebas.

Kyung Woo : Aku? Begini… Ada pengecualian di setiap peraturan.

Ji Soo : Kenapa kau bekerja di sini?

Kyung Woo : Kenapa? Dalam wawancara kerjaku, ini definisiku tentang seorang reporter. Seorang reporter menjaga keyakinannya dan membuat skenario terburuk menjadi yang terbaik.

Ji Soo : Orang tuamu pasti bangga. Mereka punya putra yang bisa bicara untuk lolos dari situasi apa pun.

Kyung Woo : Kurasa begitu. Itu sama sekali tidak tulus. Sepertiku. Aku menjalani hidup yang nyaman. Aku tidak tahu skenario terburuk.

Ji Soo : Redaktur Um… Dia menyuruh kami menyalin dan menempel artikel “Tanpa Hasil, Tanpa Derita”. Manajer Kim bilang itu disebut “meredam”. Mereka membuatnya meluap. Meja Berita Digital harus melakukan itu. Aku harus melakukan itu. Tapi berkat Soo Yeon…

Kyung Woo : Itu kejam. Siapa yang bilang begitu?

Ji Soo : Yang terburuk adalah orang yang menyarankannya. Itu Reporter Han.

Kyung Woo kaget, Reporter Han? Pekerjaan pertamanya di sana?

Ji Soo menganggu. Tak lama, ponsel Ji Soo berdering. Ji Soo menatap layar ponselnya dan terdiam.

Ji Soo menemui Reporter Goo.

Reporter Goo : Aku tidak mendengar kabarmu, jadi, aku khawatir. Apa maksudmu? Han Joon Hyuk masuk kantor eksekutif?

Ji Soo : Ya. Secara harfiah.

Reporter Goo : Kalau begitu…

Ji Soo : Reporter Han… Bukan. Manajer Han tidak bisa memberimu materi mulai sekarang.

Reporter Goo : Ada hal lain yang terjadi di Harian Korea?

Ji Soo teringat pesan suara yang dikirim Joo Ahn.

Teringat hal itu, Ji Soo buru-buru mengambil ponselnya dari atas meja dan menyimpannya.

Ji Soo : Reporter Goo, Reporter Han tidak menulis kisah ayahku. Dia menulisnya, tapi Kepala mengubahnya.

Reporter Goo : Sudah terlambat membahas siapa yang menulis dan siapa yang mengubah.

Ji Soo : Apa?

Reporter Goo : Maksudku, rekayasa dan penutupan kejahatan telah menjadi sangat umum. Kita berusaha mengekspos mereka. Kau harus melihatnya dari perspektif seorang reporter.

Ji Soo : Dari perspektifku, itu pengaduan, bukan pengeksposan. Dari perspektif seorang reporter, itu berita eksklusifmu, bukan punyaku.

Reporter Goo : Eksklusif?

Ji Soo : Kejadian yang menimpa ayahku sudah lama sekali. Tidak ada gunanya membedakan benar dan salah sekarang.

Reporter Goo : Ya, itu maksudku. Jadi, beri aku yang baru-baru ini.

Ji Soo : Apa? Yang baru-baru ini?

Reporter Goo : Ya. Contohnya, masalah pribadi Oh Soo Yeon yang membuatnya bunuh diri…

Ji Soo keceplosan karena dia emosi Soo Yeon dibilang bundir.

Ji Soo : Soo Yeon tidak bunuh diri.

Tapi sadar keceplosan, Ji Soo pamit.

Reporter Goo bilang dia paham itu sulit bagi Ji Soo. Dia menyuruh Ji Soo berhenti dari Harian Korea jika tidak tahan dan menawari Ji Soo posisi di tempatnya kerja. Dia bilang dia akan bicara pada Kepalanya.

Ji Soo tersenyum kesal lalu beranjak pergi.

Bersambung ke part 4….

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Grid Ep 9

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Grid Episode 9, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek…
Read More

All of Us are Dead Ep 6

Tentangsinopsis.com – Sinopsis All of Us are Dead Episode 6, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di…