Bloody Heart Eps 9 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Bloody Heart Episode 9 Part 3, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. EPISODE SEBELUMNYA DISINI.

Jung mengikuti Gye Won yang keluar dari istana Raja.

Jung : Anggota Dewan Park, apa yang kau rencanakan? Apa yang ingin kau capai dengan mengungkap perbuatanmu?

Gye Won : Aku ingin semua orang tahu bahwa aku tak melakukan apa pun. Kau yang memulai semua ini. Kau pantas tahu identitas pelaku sebenarnya.

Jung : Kau dan para pejabat membunuh mendiang Ratu. Ayahku dieksekusi setelah dijebak atas pembunuhan itu. Kau adalah musuhku.

Gye Won : Jika mendiang Ratu digulingkan, berikutnya giliran Putra Mahkota. Kau yakin bahwa pelengseran Ratu adalah tujuan akhir para pejabat? Selain itu, apa menurutmu mendiang Ratu tak tahu? Bahwa kematiannya adalah satu-satunya perisai yang tersisa untuk melindungi Putra Mahkota.

Sontak lah, Jung terdiam mendengar itu.

Gye Won bertanya, sekarang menurut Jung, siapa musuh Jung yang sebenarnya.

Jung mulai goyah.

Raja memikirkan malam itu, saat dia dan ibunya minum teh beracun.

Ratu : Ibumu tak akan menjadi ratu yang digulingkan. Aku akan mati sebagai ratu negara ini. Aku diracun sampai mati bersamamu, Putra Mahkota. Ingatlah itu seumur hidupmu dan manfaatkanlah. Satu-satunya yang akan membuatmu aman adalah simpati orang-orang untukmu sebagai anak dari ibu yang diracun.

Flashback end…

Raja menghela nafas.

Paginya, Gye Won olahraga memanah.

Sambil memanah, dia bertanya-tanya, jalan mana yang akan diambil Jung setelah menentukan pilihan. Apa tujuannya? Apa yang paling penting baginya? Dan dia harus mencari tahu.

Hari kembali malam.

Jung di kamarnya memikirkan sesuatu.

Tak lama kemudian, dia pergi menemui Raja.

Raja keluar dari kediamannya dan kaget melihat Jung ada diluar.

Raja bergegas mendekati Jung.

Raja : Sudah berapa lama kau menunggu?

Dia juga marah karena tak ada yang memberitahunya kalau Jung datang.

Jung bilang dia yang melarang Kasim memberitahu kedatangannya.

Raja khawatir kalau Jung harus menunggu lebih lama.

Raja dan Jung bicara di tepi danau.

Jung : Saat aku berkeliaran mencari mayat orang tuaku di luar Kwangheemun, aku selalu menyembunyikan belati dan siap membunuh siapa pun. Aku bahkan tak bisa membuat makam yang layak untuk mereka. Jika aku membuat makam, orang-orang akan meludahinya karena meyakini itu makam penjahat. Aku ingin dunia tahu bahwa ayahku tak bersalah dan dia hanya dijebak. Dengan membersihkan nama ayahku, kau akan dikagumi oleh Sarim. Jadi, apa yang menahanmu melakukan itu?

Raja terhenyak dengan pertanyaan Jung.

Raja lalu mengatakan ada yang mau dia katakan kepada Jung.

Raja : Selir Park.

Tapi Jung tak mau mendengar. Dia takut mendengar jawabannya. Raja kekeuh mengatakan alasan yang sebenarnya.

Tangis Jung keluar duluan.

Raja : Ibuku menelan racun untuk melindungiku. Ayahku mengorbankan keluargamu untuk melindungiku. Aku mendambakanmu. Aku ingin kau menjadi istriku. Keserakahanku adalah hal yang menghancurkan kau dan keluargamu.

Jung yang terpukul pun tak sanggup mengatakan apapun. Dia hanya mampu bilang kalau dia harus pergi.

Seobang mengejar Ttong Geum yang lari keluar rumah.

Seobang : Aku memberimu kesemek kering sesuai janjiku. Beri tahu aku.

Ttong Geum : Aku tak tahu apa-apa. Bagaimana bisa aku tahu keberadaan Nona? Kau juga tak memberi tahu keberadaan Tuan Lim. Jangan harap aku akan memberitahumu. Aku tak tahu.

Seobang : Baiklah, baiklah.

Seobang menyuruh Ttong Geum makan pelan-pelan.

Seobang : Apa kau tak mengintip saat mengantarkan surat?

Seobang lalu ingat kalau Ttong Geum gak bisa baca.

Seobang balik ke dalam rumah.

Ttong Geum protes, aku bisa membaca beberapa huruf!

Seobang berbalik menatap Ttong Geum.

Seobang : Apa contohnya? Dua huruf pertama? Aku juga bisa.

Seobang masuk ke rumah. Tak lama dia keluar dan memberikan kotak pernikahan ke Ttong Geum.

Seobang : Ambil saja ini. Aku berniat memberikannya saat kau menikah. Siapa yang menduga kau masuk ke istana?

Seobang dan Ttong Geum duduk di beranda.

Ttong Geum : Ini mahal dan bukan makanan. Kenapa kau…

Seobang : Jika ini kehidupan yang kau inginkan, semoga berhasil. Harus kuakui, aku lega karena tahu kau tak akan kelaparan lagi.

Jung berdiri di depan istananya, mencari udara.

Tanpa dia sadari, ada seorang wanita yang mengintipnya. Wanita itu bersama Dayang Kim dan Yeon Hee.

Yeon Hee : Bibi, kau melihatnya?

Wanita itu kaget dan mengatakan kalau Jung memang wanita yang datang untuk menjual kotak bambu.

Yeon Hee marah dan menyuruh Dayang Kim memanggil Ttong Geum.

Ttong Geum berlari kecil masuk ke istana sambil memeluk kotak pernikahannya.

Tiba-tiba, dia dicegat semua teman-teman pelayannya. Sontak dia kaget.

Yeon Hee marah karena Dayang Kim belum membawa Ttong Geum juga.

Dayang Kim diam. Tak lama, Won Pyo datang. Yeon Hee kaget melihat ayahnya.

Sekarang, Yeon Hee di kamarnya bersama ayahnya, kakaknya dan juga wanita tadi yang adalah pengasuhnya.

Tak lama, Ttong Geum datang. Ttong Geum kaget melihat semuanya berkumpul.

Ttong Geum : Apa Nyonya memanggilku?

Yeon Hee ingin marah, tapi dia menahan diri karena ada ayahnya.

Yeon Hee : Bibi bilang dia ingin bertemu denganmu. Kau boleh pergi.

Ttong Geum : Aku akan menyapanya nanti.

Ttong Geum pergi.

Yeon Hee marah, dia lahir dan dibesarkan di rumahku. Dia tak lebih dari hewan peliharaan yang menipuku. Dia meremehkan wewenangku! Kenapa ayah menyuruhku menahan diri? Aku akan membunuhnya agar dia mengaku!

Won Pyo : Orang yang menyembunyikan masa lalu Selir Park adalah Paduka Raja.

Yeon Hee kaget mendengarnya.

Won Pyo tanya pada pengasuh Yeon Hee apa si pengasuh yakin bahwa Jung adalah wanita penjual kotak bambu.

Won Pyo : Apa kau akan mengatakan itu setelah disiksa di Pengadilan Negara?

Pengasuh : Aku hanya melihatnya beberapa kali, jadi, aku tak yakin.

Yeon Hee protes, imo!

Won Pyo : Tuduhan ini berisiko membuat keluarga kita diusir. Demi keamanan Selir Park, Raja dan Anggota Dewan Kiri mungkin bekerja sama. Ayah akan menyelidikinya. Tolong jangan membuat masalah lagi.

Won Pyo mau pergi.

Yeon Hee berkeras, dia palsu, Ayah! Wanita yang menggantikanku memalsukan identitasnya!

Tapi Won Pyo gak peduli dan terus beranjak pergi.

Yeon Hee nangis.

Won Pyo tanya ke Sa Hyung, apa Sa Hyung sudah menyelidiki mereka.

Sa Hyung : Ya. Mereka penjual kotak bambu dari Desa Hutan Bambu. Aku menyuruh orang mencari mereka, tapi mereka menghilang tanpa jejak.

Won Pyo : Desa Hutan Bambu?

Won Pyo beranjak pergi.

Ibu Suri senang dikunjungi Nam Sang dan Nyonya Yoon.

Sambil menuang teh ke cawannya, Ibu Suri bilang dia senang bertemu Nam Sang.

Ibu Suri : Tapi kau hanya berkunjung saat aku meminta.

Nyonya Yoon : Maafkan kami, Yang Mulia.

Nam Sang : Aku sibuk dengan tugas negara. Selain itu, kasus yang kuselidiki saat ini kebetulan melibatkan pekerja anda.

Nyonya Yoon menegur putranya, Inspektur Park.

Ibu Suri : Tidak apa-apa. Aku memahami karakternya. Aku memang mendengar kabar beberapa pelayanku berhubungan dengan Kasim Heo. Berkunjunglah setelah penyelidikan.

Nyonya Yoon : Terima kasih atas pengertian anda.

Ibu Suri menatap lembut Nam Sang.

Ibu Suri : Orang-orang yang kurindukan sibuk, dan aku dikelilingi orang-orang licik. Hanya beberapa orang yang bisa kupercaya.

Nyonya Yoon : Seluruh pemerintah melayani anda. Tolong jangan bilang begitu.

Ibu Suri : Pemerintah melayani Anggota Dewan Kiri, bukan aku. Lagi pula, kekuasaan bisa membuat pesaing cinta saling membungkuk.

Nyonya Yoon terkejut dengan kata-kata Ibu Suri.

Sekarang, Ibu Suri ada di tamannya bersama Dayang Han dan pelayannya.

Dayang Han : Mama, Kepala Komandan Pasukan Provinsi Hamgyong akan tiba beberapa hari lagi.

Ibu Suri kaget, pamanku? Kenapa tiba-tiba?

Dayang Han : Paduka Raja ingin memberinya jabatan di pemerintahan. Ini persis seperti perkataan biksu itu.

Ibu Suri melihat Gye Won datang. Sontak dia langsung menyuruh Dayang Han diam.

Dayang Han mengerti dan melangkah mundur.

Gye Won beranjak mendekati Ibu Suri.

Ibu Suri : Selamat datang, Anggota Dewan.

Gye Won : Tampaknya belakangan ini anda sering menghabiskan waktu di kebun belakang. Yang Mulia, anda pasti merasa terkurung di kamar.

Ibu Suri : Tentu saja. Aku menghabiskan separuh hidupku terkurung di kamar dan separuh lainnya di istana ini.

Gye Won : Aku telah memberikan beban berat di pundak anda. Politik bisa menjadi berbahaya dan kotor. Anda pantas hidup seperti bunga, tapi aku menyeret anda ke tempat berbahaya ini. Tapi suatu hari nanti, anda mungkin bisa lebih menikmati waktu.

Ibu Suri : Kau bicara seolah-olah ada orang yang bisa menggantikanku.

Gye Won : Aku berencana menguji Selir Park. Aku akan mengawasinya dan mencari tahu apakah dia mampu mengambil alih istana.

Sontak lah Ibu Suri langsung teringat kata-kata si biksu malam itu.

Flashback…

Ibu Suri yang marah, menyuruh pengawal menangkap biksu.

Biksu : Dia akan mengisolasi anda untuk menyelamatkan anggota keluarganya. Dia musuh anda yang sebenarnya. Salah satu anggota keluarga anda akan segera tiba di istana. Anda akan memercayaiku.

Flashback end…

Ibu Suri terdiam menatap Gye Won teringat hal itu.

Jung di perpus, ditemani Dayang Choi. Dayang Choi melihat Jung tengah mencari-cari buku.

Dayang Choi : Apa ada buku yang anda cari?

Jung : Aku ingin membaca tentang mendiang Ratu Inyoung.

Dayang Choi bilang tak ada dokumen resmi yang tersisa tentang Ratu Inyoung, tapi dia meminta Jung menunggu sebentar.

Jung duduk di kursi. Dayang Choi meletakkan beberapa surat di atas meja.

Dayang Choi : Mendiang Ratu menulis surat ini untuk para dayangnya. Surat-surat itu dibuang saat para dayang dieksekusi, tapi aku menyimpannya di perpustakaan karena itu tulisan tangan mendiang Ratu.

Jung mulai membuka salah satu surat.

Jung : Bagaimana kepribadian mendiang Ratu?

Dayang Choi : Aku tak pernah melayaninya secara langsung, tapi aku tahu dia tinggal di rumah pribadinya sampai kudeta dan dia sangat dekat dengan putranya.

Jung mulai membaca surat itu.

Ratu Inyoung : AKU SEDIH MENDENGAR PADUKA RAJA TAK BERSELERA MAKAN. DAHULU, AGAR-AGAR BIJI EK MEMBANTU MEMULIHKAN NAFSU MAKANNYA.

Sekarang, Jung sudah di kamarnya. Dia menatap semua surat-surat dari mendiang Ratu untuk para dayang.

Raja datang, tapi dia tak berani membuka pintu.

Jung melihat bayangan Raja. Tahu itu Raja, Jung mendekat ke pintu.

Raja : Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus kulakukan?

Jung : Aku membaca beberapa surat yang ditulis mendiang Ratu. Dalam setiap suratnya kepada para dayang, dia menunjukkan kekhawatirannya terhadap suami dan putranya. Aku mengerti alasannya mengambil keputusan yang tragis. Aku sendiri pernah mencoba melakukan hal serupa. Namun, dia kejam terhadap ayahku. Pada malam sebelum seleksi ketiga, ayahku menangis semalaman di luar kamarku. Karena dia mengambil keputusan sebagai pejabat, bukan ayah, dia meminta maaf kepadaku. Karena merasa dia membahayakan anaknya, dia menangis dan terus menangis. Kau bertanya apa yang harus kau lakukan? Jika kau berniat, kau pasti sudah melakukannya. Kau berencana menguburnya seumur hidupmu.

Raja : Perkataanmu benar. Aku masih tak bisa berjanji bahwa aku bisa membersihkan nama Yoo Haksoo.

Tangis keduanya mulai jatuh.

Paginya, Dayang dan Pelayan membantu Raja memakai jubah. Raja teringat kata-kata Jung saat mereka masih bertemu diluar istana.

Jung : Jika ada sawah di istana, kau bisa memahami situasi panen dan memberikan dukungan yang tepat. Kuharap itu akan terwujud suatu hari nanti.

Raja : Lagi pula, kantor kerajaan yang pertama tahu situasi panen. Begitu terjadi kekeringan, permintaan ritual pemanggil hujan langsung mengalir deras. Orang tak bisa menurunkan hujan dengan membuat sawah di istana dan melakukan ritual meminta hujan. Tanggul adalah ide yang jauh lebih baik.

Jung : Bukan berarti rakyat tak paham. Hanya saja mereka sangat putus asa hingga rela melakukan apa saja.

Jung kembali berada di tepi danau. Dayang Choi memberitahu, bahwa Raja hari ini sedang mengelola tanah bersama para petani.

Jung : Benarkah?

Dayang Choi : Kudengar itu permintaan anda.

Jung : Apa dia memanggilku?

Dayang Choi : Tidak.

Para petani tampak mengolah tanah. Tak lama kemudian, Raja datang. Para petani langsung bersujud.

Raja : Apa kau menambahkan lapisan tanah baru untuk meningkatkan kesuburan?

Kasim Jung : Ya, Yang Mulia.

Kasim Jung menyuruh salah satu petani menunjukkannya.

Petani itu menyahut, baik, aku akan melakukannya.

Raja : Petani di luar ibu kota pasti sibuk menyiapkan tanah.

Petani yang bersujud di posisi depan berkata, bahwa tanah mengering selama musim dingin.

Petani : Panen kami akan buruk lagi.

Raja : Apakah seburuk itu?

Petani : Ritual pemanggil hujan dilakukan di berbagai tempat. Hujan pasti segera turun.

Raja : Ritual pemanggil hujan? Kurasa aku juga harus melakukan ritual pemanggil hujan.

Para petani memuji Raja.

Raja : Tapi itu bukan jaminan.

Petani : Yang Mulia, itu tak benar. Jika anda berdoa dengan tulus, langit pasti akan menjawab. Anda berbeda dari kami, para rakyat jelata. Langit akan menjawab doa anda dan menurunkan hujan.

Raja berlutut dan menyuruh petani itu mengangkat kepala.

Si petani mendongak.

Raja miris menatap wajah dan tangan si petani. Petani itu memejamkan matanya. Tak berani menatap mata Raja.

Raja : Jadi, seperti ini wajahmu. Kenapa aku tak mencoba melihat wajah kalian lebih awal?

Raja lalu mengolah tanah bersama para petani.

Dia terlihat bahagia.

Jung dari kejauhan terdiam melihatnya.

Tak lama kemudian, Jung mulai beranjak.

Terdengar kata-kata Gye Won.

Gye Won : Aku akan mencari tahu dia ingin membalas dendam atau menyelamatkan orang-orang hingga rela mati demi membunuhku.

Nyonya Yoon mendekati Gye Won.

Gye Won : Kudengar Selir Park memanggilmu ke istana. Ada apa?

Nyonya Yoon : Ada seseorang yang menunggumu. Tempat ini terlalu sederhana untuknya. Kau harus menemuinya.

Sementara itu, Ibu Suri memikirkan kata-kata Gye Won tentang Jung kepadanya.

Gye Won : Aku berniat mencari tahu Selir Park mampu sebelum memutuskan untuk meninggalkan atau melayaninya.

Ibu Suri mulai takut.

Ibu Suri : Akankah dia melayaninya seperti dia melayaniku atau justru beralih melayaninya?

Jung dengan kudanya menunggu Gye Won di sebuah lahan kosong.

Tak lama, Gye Won datang. Mereka saling bertatapan.

Jung dan Gye Won turun dari kuda mereka.

Jung : Kau bertanya siapa musuhku sebenarnya.

Gye Won : Apa kau sudah menemukan jawabannya?

Jung : Sudah. Aku kemari membawa jawaban.

Gye Won : Setelah mendengarnya, aku juga ingin memberimu jawaban.

Jung : Mendiang Ratu mengorbankan nyawanya untuk melindungi Putra Mahkota. Mendiang Raja mengeksekusi ayahku karena membunuh Ratu demi melindungi Putra Mahkota. Kau membinasakan keluargaku demi menyelamatkan para pejabat. Dengan kata lain, mereka semua musuhku. Kau, mendiang Raja, dan bahkan Raja. Lalu siapa target balas dendamku?

Jung teringat saat dia berniat mencari jasad orang tuanya, tapi dicegah Jin Sa.

Jung marah, lalu siapa target balas dendamku?! Pejabat berjasa yang menghancurkan keluargaku demi memusnahkan Sarim? Atau mungkin Paduka Raja yang menjebak ayahku demi melindungi Putra Mahkota?

Flashback end…

Jung : Siapa yang harus menjadi target balas dendamku? Inilah jawabanku.

Tanpa mereka sadari, sebuah panah diarahkan ke Jung.

Seseorang ingin membunuh Jung. Siapa?

Bersambung…..

Next episode guys….

Gye Won menobatkan Jung sebagai Ratu.

Ibu Suri bekerja sama dengan Yeon Hee untuk membunuh Jung, tapi untungnya ketahuan Gye Won yang langsung menyelamatkan Jung.

Ibu Suri mengibarkan bendera perang pada Gye Won.

Gimana guys??? Makin seru dong yaaa ceritanya…. Park Gye Won ini sebenarnya punya tujuan baik, dia kagak pengen ada tirani tapi caranya salah…Sekarang, dia bekerja sama dengan Jung..

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Pachinko Ep 6

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Pachinko Episode 6, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. EPISODE…