Bloody Heart Eps 8 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Bloody Heart Episode 8 Part 2, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. EPISODE SEBELUMNYA DISINI.

Cendekiawan Kim marah-marah, dia kesal karena Menteri No ingin Raja melanggar masa berkabung.

Cendekiawan Kim : Adat pemakaman telah diabaikan sejak zaman raja makzul, dan kini kau ingin Paduka Raja melanggar masa berkabung!

Nam Sang datang.

Cendekiawan Kim : Jika kau datang untuk membujukku, sebaiknya kau kembali.

Nam Sang : Bagaimana mungkin aku tak memahami keinginanmu untuk menegakkan adat istiadat Konfusianisme? Aku hanya khawatir Paduka Raja akan tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang mengabaikan petisi cendekiawan.

Cendekiawan Kim : Aku tak percaya kau melibatkan Paduka Raja.

Nam Sang : Mungkin kau dan Paduka Raja harus tunduk pada cendekiawan, tapi ada cara agar kau tetap mengikuti adat.

Jung berdiri menghadap jendelanya. Tak lama, Gye Won datang.

Jung dingin, kau terlambat.

Gye Won : Apa Paduka Raja juga mengetahui identitas ayahmu?

Jung : Jika Paduka Raja tahu, apa kau akan diuntungkan atau apa sebaiknya aku mengatakan bahwa aku merayu Raja yang tak tahu apa-apa?

Gye Won : Apa pun kondisinya, sama saja. Aku akan tetap melakukan penyelidikan.

Jung : Tentu saja. Karena kau masih belum melaporkan putri pengkhianat ke Pengadilan Negara, berarti aku cukup berharga bagimu.

Gye Won : Aku akan memutuskan berdasarkan jawabanmu.

Jung menatap Gye Won.

Jung : Aku akan mengajukan kesepakatan. Ini menyangkut rakyatku yang kau incar dan rakyatku yang kau tahan. Bisakah kau membebaskan mereka?

Gye Won : Kesepakatan ini mustahil. Kau justru memberiku informasi tambahan yang akan menguntungkan diriku. Obsesimu terhadap keselamatan mereka membuatku semakin yakin untuk tetap menahan mereka.

Jung : Kalau begitu, keadaan ini akan berlanjut?

Gye Won : Tak ada yang berubah di antara kita.

Jung : Sebenarnya, semuanya sudah berubah. Aku bisa merenggut keinginan hatimu yang terdalam. Dinobatkan sebagai ratu adalah hal yang sulit, tapi tak dinobatkan sebagai ratu bukanlah hal yang sulit.

Cendekiawan Kim menemui Raja.

Raja : Kepala Cendekiawan, apa kau kemari untuk memintaku menobatkan Ratu?

Cendekiawan Kim : Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku meminta anda membatalkan keputusan yang anda buat? Upacara penobatan harus diadakan setelah masa berkabung tiga tahun, tapi tak akan ada salahnya memutuskan calon Ratu agar dia bisa menangani urusan Istana Dalam.

Raja : Solusimu hanya bersifat sementara. Apa istana dan cendekiawan akan setuju?

Cendekiawan Kim: Jika anda menyatakan akan mengambil keputusan sendiri pada akhir bulan ini selagi Ibu Suri memulihkan diri, para pejabat dan cendekiawan tak akan punya alasan untuk menolak.

Raja : Dengan ketiadaan Ibu Suri, aku harus membuat keputusan sepihak?

Cendekiawan Kim : Benar, Yang Mulia.

Raja tertawa, Kepala Cendekiawan, kau abdi paling setia.

Cendekiawan Kim : Aku tersanjung, Yang Mulia.

Pembicaraan Gye Won dan Jung terus berlanjut.

Gye Won : Kami akan memilih Kepala Dayang Istana Dalam. Apa tak perlu saran dari dayang berpangkat tertinggi?

Jung : Kau yang menyebabkan hal ini terjadi.

Gye Won : Dengar, Selir Park. Apa benar kau berniat menyerahkan gelar itu kepada Nona Cho?

Jung : Kau masih tak mengerti kedalaman kata-kataku.

Gye Won : Aku bisa dengan mudah membunuh semua rakyatmu.

Jung : Apa kau sudah lupa bahwa aku di sini sebagai keponakanmu? Proses aslinya mungkin berbeda, tapi sikap yang anggun adalah hal yang berharga bagi seorang Ratu. Aku belum pernah melihat selir yang menjadi ratu setelah menunjukkan kesombongan. Kesepakatan kita berakhir. Mulai sekarang, aku akan mengancammu.

Jung pergi ke Sekretariat Kerajaan. Kepala Sekretariat kaget.

Kepala Sekretariat : Selir Park, kenapa anda datang ke Sekretariat Kerajaan?

Jung : Untuk menegurmu, Kepala Sekretaris Kerajaan. Kecemasan membayangi Paduka Raja dan membuatnya menghindari kediamanku.

Kepala Sekretariat : Sebagai Kepala Sekretaris Kerajaan, aku menerima dan menyampaikan perintah…

Jung : Benar. Itu sebabnya aku datang untuk menemuimu.

Kepala Sekretariat : Mungkin anda harus bicara dengan dayangnya. Aku tak mengerti…

Jung : Ketidakmampuanmu adalah penyebab Paduka Raja tak menemuiku.

Gye Won datang menghentikan Jung. Gye Won menyuruh semuanya pergi.

Gye Won : Seberapa jauh kau akan bertindak?

Jung : Ini bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Pada upacara perayaan bulan ini, aku akan masuk ke aula dan meneriaki Paduka Raja di hadapan semua pejabat untuk menuntut alasannya menghindari kediamanku. Bukankah itu akan tercatat dalam sejarah? Pada tanggal 8 bulan ini, bawakan gubernur Desa Hutan Bambu. Waktumu hanya sampai tanggal 8.

Gye Won : Kau bisa memegang janjiku.

Raja bersama pengawalnya menuju tempat Ibu Suri.

Raja : Aku datang untuk mengobrol sebentar dengan ibu. Jangan membuat keributan.

Raja memprovokasi Ibu Suri.

Raja : Ibu sudah berhasil memprovokasi penobatan Ratu. Tapi apa ibu yakin? Begitu Ratu melahirkan seorang putra, rakyat akan lebih takut kepadanya dan tak akan terlalu takut pada ibu. Alih-alih ibu tiri Raja, mereka akan memuja ibu sang pangeran.

Ibu Suri : Kau mengambil langkah yang gegabah. Kau mencoba memecah belah kami, ya?

Raja : Memiliki kendali atas Joseon masih belum cukup bagi Anggota Dewan Park. Apa yang akan terjadi begitu dia mengendalikan Ratu dan putranya? Apa ibu masih berharap dia akan mendukung ibu? Sebagai putra ibu, aku mengatakan ini karena khawatir ibu akan kehilangan kekuasaan. Redakan kemarahan ibu.

Sebelum pergi, Raja ngasih tahu kalau dia akan memutuskan siapa yang akan menjadi Ratu karena Ibu Suri tengah memulihkan diri.

Ibu Suri marah, itu tak masuk akal! Ibu mertua tak bisa dikecualikan dari proses seleksi menantunya.

Raja beranjak pergi.

Dia bisa mendengar Ibu Suri menyuruh Dayang Han memanggil Gye Won.

Raja tersenyum senang provokasinya berhasil.

Raja sudah kembali ke istana. Dia sedang di balai istana, bersama para pejabat.

Raja : Kesalahanku adalah penyebab keributan ini. Badai harus mereda, jadi, aku akan mengambil keputusan. Tiga Kantor menuntut baktiku, jadi, aku akan terus berkabung untuk mendiang Ratu. Istana dan cendekiawan kerajaan menuntut tindakan yang benar, jadi, aku akan memilih seorang ratu dan memperlakukannya dengan hormat selagi dia mengelola urusan Istana Dalam. Dia akan dinobatkan setelah masa berkabung tiga tahun. Ratu tak boleh dipilih tanpa persetujuan Ibu Suri, tapi waktunya terbatas dan masalah ini tak bisa ditunda lagi. Jika Ibu Suri belum pulih dan tak kembali ke istana pada akhir bulan ini, aku akan menerima saran dari keluarga kerajaan dan para pejabat untuk membuat keputusan.

Raja menatap tajam Gye Won.

Gye Won diam saja.

Jangeui berterima kasih atas keputusan Raja.

Nam Sang pulang, menemui ayahnya. Dia melihat ayahnya tengah duduk sambil memegang pedang yang tertancap di lantai.

Gye Won : Kenapa kau kemari?

Nam Sang : Kudengar belakangan ini ayah kesulitan. Ibu sangat khawatir. Apa ini karena Selir Park? Kepala Sekretaris Kerajaan mengatakan sesuatu yang mengganjal, tapi rumor tak berdasar itu akan segera mereda, jadi, jangan khawatir. Selir Park bukan orang yang akan bertindak acak. Kebijaksanaannya membantu menyelesaikan masalah dengan para cendekiawan.

Gye Won kecewa, ternyata kau orangnya. Ternyata begitu. Tentu saja. Bahkan Kepala Cendekiawan akan menerima saranmu. Beri tahu ayah, apa kau sudah menyampaikan proposalnya sesuai perintah? Meski kau tahu bahwa hal itu bisa merusak peluang keluarga kita untuk berhubungan dengan Ratu.

Nam Sang : Ratu akan ditentukan oleh keluarga kerajaan dan Paduka Raja.

Gye Won : Kegagalan Ratu memberikan keturunan dari garis keturunan utama adalah akar dari kegilaan ini. Putra dari garis keturunan utama harus mendapatkan pendidikan yang layak agar dapat menjadi penguasa yang bijak. Bagaimana mungkin kita melayani raja yang mendapatkan takhtanya karena keberuntungan?

Nam Sang :Jadi, ayah juga menginginkan kekuasaan calon Putra Mahkota? Ayah terlalu serakah.

Gye Won : Ayah akan menjadi orang yang menobatkan calon raja. Kita tak akan pernah diperintah oleh seorang tiran lagi.

Nam Sang : Itu bukan tugas ayah.

Gye Won : Itu tugas Ayah! Hanya ayah yang mampu melakukan ini.

Nam Sang : Kenapa ayah tak sadar bahwa kesombongan ini membuat ayah tampak seperti orang yang haus kekuasaan?

Gye Won pun ngamuk. Dia mencabut pedangnya dan berdiri, lalu menebas pajangan di mejanya.

Gye Won : Dasar anak bodoh! Jika ayah haus kekuasaan, ayah pasti sudah mengambil alih Tiga Kantor!

Nam Sang syok melihat ayahnya.

Gye Won mencampakkan pedangnya.

Gye Won : Kau tak bisa disuap. Apa kau mengira itu karena kemauanmu sendiri? Bukan. Itu berkat izin ayah. Berkat ayah. Ayah yang memberimu izin!

Gye Won lalu terduduk.

Gye Won : Jika rajamu adalah seorang tiran, kau akan mengambil jalan yang jauh berbeda. Jalan yang jauh berbeda.

Setelah Nam Sang pergi, Gye Won memanggil seorang pelayannya.

Gye Won : Di antara semua pelayan, pilih dua orang yang tak punya mulut atau telinga. Selain itu, cari tukang suap. Setelah tugasnya berakhir, mulut mereka harus tetap terkunci.

Jung menemui Tae. Tae cuek dan terus membaca gulungannya.

Jung : Untuk mendoakan kesembuhan Ibu Suri di kuil, aku ingin pergi dari istana. Aku memohon dengan rendah hati agar anda mengizinkannya.

Tae : Beri tahu aku alasanmu ingin meninggalkan istana.

Jung : Sepertinya para perajin berada di Hanyang. Aku berharap bisa melihat mereka.

Tae akhirnya menatap Jung.

Tae : Apa itu alasan sebenarnya?

Jung : Untuk apa ada alasan lainnya?

Tae kembali cuek, aku tak tahu. Selama ini kau tak mudah ditebak, tapi belakangan ini makin mustahil. Pengawal istana akan mengiringimu. Segera kembali setelah menyampaikan doamu.

Jung : Apa kau begitu mencemaskanku?

Tae diam saja.

Jung : Maafkan gurauanku.

Tae kembali menatap Jung.

Tae : Aku selalu mencemaskanmu.

Jung : Aku pasti akan kembali dengan selamat.

Tae : Kapan tanggalnya?

Pelayan Gye Won bertanya kapan tanggalnya.

Gye Won bilang, bulan ini, tanggal delapan.

Jung juga bilang tanggal 8 bulan ini.

Hari itu, tanggal delapan. Dua tandu memasuki kuil.

Seorang biksu melihat salah satu tandu.

Biksu itu lalu memasukkan racun ke dalam teko teh.

Sementara tandu yang dilihat biksu itu adalah tandu Jung.

Terdengar perintah Gye Won yang menyuruh anak buahnya membunuh kedua pelayan setelah tugas selesai.

Gye Won : Ini racun yang bekerja lambat. Setelah menyaksikan Selir Park minum teh, segera kembali ke istana.

Tandu yang satunya adalah tandu Ibu Suri.

Dua pelayan Gye Won melihat Ibu Suri keluar dari dalam tandu.

Mereka bergegas memberitahu Gye Won.

Gye Won langsung memacu kudanya menuju kuil.

Teh beracun itu mulai disajikan untuk Ibu Suri dan Jung.

Ibu Suri : Menyenangkan bisa keluar dari dinding sempit dan menghirup udara segar.

Jung : Aku berharap mulai sekarang bisa lebih sering menemani nda keluar.

Ibu Suri mengangkat cawannya dan menghirup aroma tehnya.

Sementara Jung hanya diam menatap cawannya, seolah tahu ada racun di dalam teh itu.

Ibu Suri dan Jung hendak meminum teh itu, tapi Gye Won tiba-tiba datang dan membuang teh Ibu Suri.

Ibu Suri kaget dan menyuruh pelayannya mengambil air dingin untuk mengobati tangan Gye Won yang terkena teh panas.

Gye Won menatap kesal Jung.

Jung juga menatap Gye Won.

Ibu Suri : Anggota Dewan Park, kenapa tiba-tiba muncul dan melakukan ini? Kukira kau tak bisa datang.

Gye Won terkejut mendengar pernyataan Ibu Suri.

Gye Won : Kau tahu aku akan berada di sini?

Jung : Aku memberitahunya.

Gye Won kembali menatap Jung. Dia tak menyangka Jung tahu rencananya.

Gye Won : Apa alasanmu berada di kuil ini?

Ibu Suri : Menurut saran Selir Park, doa Buddha untuk melawan mimpi burukku dapat membantuku kembali ke istana.

Gye Won menatap tajam Jung lagi.

Ibu Suri bisa menangkap ada sesuatu diantara keduanya.

Ibu Suri mulai dibawa keluar dari Kuil Cheonwangmun.

Ibu Suri : Ada sesuatu di antara Anggota Dewan Park dan Selir Park yang tak kuketahui.

Gye Won dan Jung tinggal di kuil.

Jung : Aku tahu kau punya rencana lain saat tiba-tiba setuju untuk membawa gubernur kemari. Tapi aku sudah memprediksi tindakanmu. Kau bersedia membunuhku dan merelakan posisi Ratu. Aku pasti mengancam posisimu. Racun di teh hari ini, apa sama dengan yang dikonsumsi mendiang Ratu Inyoung?

Gye Won : Aku yang paling diuntungkan jika mendiang Ratu digulingkan. Namun, dia diracun dan tewas lalu keadaan memburuk bagiku.

Gye Won lalu berkata, akan membebaskan orang-orang Jung.

Gye Won : Akankah hal itu membuatmu mengakhiri ini?

Jung : Tidak. Aku tak lagi memercayai kata-katamu. Aku akan berusaha semampuku agar Paduka Raja memiliki alat untuk menentukan takdirmu. Begitulah caraku menyelamatkan rakyatku.

Gye Won : Tak seorang pun di negara ini yang memiliki kekuasaan untuk menentukan hidup dan matiku.

Jung : Kau salah. Siapa pun bisa memiliki kekuasaan itu. Aku memasuki istana tanpa niat untuk keluar. Itu sebabnya aku bisa bertindak sesukaku.

Gye Won semakin penasaran dengan Jung.

Jung kembali ke istana. Raja dan Yeon Hee sudah menunggu.

Jung minta maaf atas keterlambatannya. Dia bilang dia merasa malu.

Raja : Ibu Suri belum tiba, jadi, kau tak terlambat.

Raja dan Jung saling bertatapan.

Yeon Hee menatap mereka berdua dan heran sendiri.

Ibu Suri tiba.

Dia berhenti sejenak hanya untuk menatap Jung sebelum menuju ke kediamannya.

Ibu suri : Desak dukun untuk mendapatkan tanggal malam pertama.

Cenayang memberikan tanggal lahir Tae pada biksu.

Cenayang : Ini tanggal lahir bangsawan berpangkat tinggi. Kau melihat seorang putra di masa depannya?

Biksu membaca tanggal lahir di kertas itu.

TAHUN GYEONGSHIN, BULAN EULCHUK, HARI GABO, PUKUL MYO

Biksu : Aku melihat seorang putra.

Cenayang : Kalau begitu, beri tahu kapan dia akan dikandung.

Biksu : Siapa yang mencari tahu tanggal ini?

Cenayang : Ibu bangsawan.

Biksu : Berdasarkan ini, ibunya sudah meninggal. Dia pasti ibu tirinya.

Cenayang kaget biksu tahu.

Cenayang : Kau tahu siapa yang lahir di tanggal ini?

Biksu meletakkan kertas itu di lantai. Lalu dia bersujud, membuat si cenayang kaget.

Biksu kembali duduk.

Biksu : Tanggal ini pasti diminta oleh Ibu Suri.

Cenayang : Benar.

Biksu : Izinkan aku menemuinya langsung.

Cenayang : Tentu saja tak boleh. Permintaanmu tak masuk akal.

Biksu : Putra yang dikandung pada malam pertama akan menjadi Putra Mahkota. Aku tak berani menitipkan pesan ini.

Cenayang pun menyampaikan pesan biksu ke Ibu Suri.

Ibu Suri kesal, kau memintaku mengizinkan seorang biksu memasuki istana?

Cenayang : Dia memiliki firasat yang kuat, Yang Mulia.

Ibu Suri : Seseorang dengan kekuatan sebesar itu pasti tahu akibatnya jika dia memasuki istana. Istana dan cendekiawan kerajaan akan gempar.

Cenayang : Dia bilang Putra Mahkota akan dikandung pada tanggal itu. Tanggal sesuci itu tak bisa disampaikan dengan kata-kata rendahanku. Itu sebabnya dia ingin memberi tahu anda secara langsung.

Ibu Suri : Beri tahu aku mengenai kekuatan hebatnya.

Ttong Geum pergi ke sebuah rumah. Dia celingukan sebelum mengetuk pintu.

Seobang keluar dan langsung membawa Ttong Geum masuk.

Di dalam, Jin Sa sudah menunggu.

Ttong Geum senang melihat Jin Sa. Dia bahkan menghambur ke pelukan Jin Sa.

Jin Sa : Kau tak boleh seperti ini. Coba lihat. Aku tak ingat kau sekurus ini.

Ttong Geum : Aku tak bisa tidur karena khawatir. Tunggu sebentar. Ini. Nona memberikannya kepadaku.

Ttong Geum memberikan surat ke Jin Sa.

Seobang : Aku menyuruhnya membawa semua pemberian Nona Jung. Itu saja?

Ttong Geum : Ya.

Seobang membaca surat Jung.

Dia terhenyak.

Gye Won dapat informasi dari Pengawal Park bahwa Kasim Jung lah yang mengunjungi Desa Hutan Bambu.

Salah satu orangnya Jung bersaksi bahwa pria yang mengunjungi mereka disebut pendekar pedang oleh Jung.

“Aku tak melihat wajahnya tapi ada sesuatu yang kulihat. Itu pasti bukan julukan mengingat luka besar di tubuhnya.”

Gye Won langsung ke istana.

Bersamaan dengan itu, Kasim Jung keluar dari istana Raja bersama Kasim Heo.

Gye Won memeriksa tangan Kasim Jung. Dan benar, ada luka besar di sana.

Gye Won : Kau orangnya. Kau membawanya ke Jeolla untuk menyembunyikannya.

Kasim Jung kaget Gye Won sudah tahu siapa Jung.

Gye Won : Kepala Kasim. Kasim Jung akan meninggalkan kantor. Biarkan seperti itu.

Kasim Heo : Baik, Tuan.

Bersambung ke part 3….

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like
Hush Ep 1 Part 2
Read More

Hush Ep 1 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Hush Episode 1 Part 2, Selengkapnya untul full cerita lengkap tersedia di tulisan yang ini.…