Bloody Heart Eps 12 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Bloody Heart Episode 12 Part 2, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. EPISODE SEBELUMNYA DISINI.

Dayang Ibu Suri mengantarkan biksu untuk menemui Ibu Suri.

Tapi saat dalam perjalanan ke istana Ibu Suri, para pejabat melihat mereka.

Kepala Kim : Bukankah itu biksu? Beraninya biksu rendahan masuk kemari? Mendiang Raja melarang biksu memasuki kota.

Menteri No : Ibu Suri pasti memanggilnya.

Biksu bertemu Gye Won dan Pengawal Park.

Gye Won : Ini menyedihkan. Tak mungkin orang sepicik dirimu.

Biksu memberi hormat pada Gye Won, lalu beranjak pergi.

Setelah biksu pergi, Gye Won nyuruh Pengawal Park mencari informasi tentang biksu itu.

Gye Won : Jangan lewatkan apa pun.

Biksu dan Daebi Mama bicara di taman.

Daebi Mama : Apa kau pernah ditelantarkan?

Biksu : Aku ditelantarkan saat lahir. Saat angin dingin berembus, ibuku menelantarkanku begitu aku lahir. Lalu ayahku gila judi dan menjualku.

Daebi Mama merasa kasihan, kau juga harus bertahan sendirian.

Daebi Mama lalu bilang kalau banyak orang di istana juga ditelantarkan.

Daebi Mama : Aku berencana mengumpulkan mereka. Orang-orang yang ditelantarkan. Orang-orang yang sendirian. Orang yang rela melakukan apa pun agar mereka tak ditelantarkan. Hyekang-ah,

Biksu : Ya, Yang Mulia.

Daebi Mama : Apa yang harus kulakukan?

Biksu : Musuh anda adalah Anggota Dewan Park Gye Won. Dia yang membuat anda menderita. Dia bilang akan melindungi anda tapi nyatanya dia melukai anda.

Ibu Suri terluka mendengar itu.

Jung kembali menemani Raja.

Jung memegang tangan Raja.

Jung : Yang Mulia. Ibu Suri pergi ke kantormu untuk mengeklaim perwalian. Dia mencoba mengambil token pengiriman pasukan, serta daftar pasukan dan catatan personel Kementerian Pertahanan. Ibu Suri yakin kau akan meninggal. Jika tidak, dia mungkin akan membunuhmu. Apa pun itu, sepertinya dia mengambil tindakan yang mencegahmu hidup kembali. Entah apa yang akan dia lakukan. Apa dia akan menggunakan pasukan untuk membunuhmu? Apa dia akan menggerakkan Istana dan mengirimkan berita kematian palsu?

Jung bingung. Apalagi Raja masih belum siuman juga.

Jung jalan-jalan di taman. Tapi kemudian, dia menoleh ke belakang karena tahu ada yang mengikutinya. Ternyata Raja.

Raja mendekati Jung. Dia tersenyum.

Jung memegang wajah Raja.

Jung : Apa ini mimpi?

Raja terdiam mendengar pertanyaan Jung.

Jung : Aku tak peduli jika ini mimpi. Aku akan kecewa saat bangun, tapi aku yakin suatu hari nanti kau akan bangun, seperti mimpi ini.

Raja memeluk Jung.

Raja : Apa kau takut?

Jung : Aku takut.

Jung melepas pelukan Raja dan menatap Raja.

Jung : Karena salah penilaian, kau dalam bahaya. Aku takut kehilangan dirimu.

Jung memeluk Raja.

Raja : Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap bersamamu selama aku hidup.

Jung : Aku juga akan mewujudkannya. Aku akan melindungimu. Aku akan melakukannya.

Jung terbangun. Ya, itu hanya mimpi.

Tapi kemudian, Jung kaget melihat jari-jari Raja bergerak. Tak lama, dia melihat Raja bangun.

Jung : Yang Mulia, kau sudah sadar?

Jung memanggil orang diluar, tapi saat melihat Raja lagi, Raja memejamkan mata. Jung terkejut.

Dayang Raja dan tabib masuk.

Tabib : Yang Mulia memanggilku?

Tabib melihat Raja belum siuman.

Jung : Lupakan saja. Aku pasti salah lihat. Kalian boleh pergi.

Tabib dan dayang pergi.

Setelah mereka pergi, Jung menyuruh Raja bangun.

Sekarang, Jung sudah di kamarnya. Lalu Kasim Jung datang.

Jung : Kau sudah menyelidikinya?

Kasim Jung : Ya,tapi tabib kerajaan tak menunjukkan gerakan mencurigakan.

Jung : Apa dia sungguh tak tahu bahwa Paduka Raja sudah sadar? Hidup dan masa depannya bergantung pada kesehatan Paduka Raja.

Kasim Jung : Dia tak akan bisa bicara sampai Paduka Raja pulih sepenuhnya.

Jung : Bagaimana jika tabib itu memihak Anggota Dewan Park atau Ibu Suri?

Kasim Jung : Biarkan Paduka Raja memulihkan diri di luar istana.

Jung : Dia bisa lebih terancam jika meninggalkan istana.

Kasim Jung : Jika Ibu Suri berusaha membunuhnya, dia akan melakukannya diam-diam di istana. Kita masih belum tahu pihak militer berpihak pada siapa.

Jung : Jika ada pasukan yang bisa dipercaya di luar istana, mungkin aku…

Kasim Jung : Aku punya token pengiriman pasukan ke Provinsi Jeolla.

Jung : Benarkah?

Kasim Jung : Kita bisa memanfaatkan pasukan di Provinsi Jeolla, jadi, bawa Paduka Raja pergi. Sebelum Paduka Raja pingsan, dia mendengar banyak bandit dalam perjalanan ke Provinsi Jeolla, jadi, dia memintaku membawa token untuk gubernur Provinsi Jeolla. Lalu semua sibuk, bahkan Kantor Segel dan Lencana tak menyadari ada yang hilang. Yang Mulia. aku menunggu perintah anda.

Jung berpikir sejenak, sebelum akhirnya memberikan perintah pada Kasim Jung untuk memindahkan Raja keluar istana.

Kasim Heo kembali menghadap Daebi Mama.

Kasim Heo : Aku sudah menjalankan perintah anda sebelumnya. Aku hanya memilih orang yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk anda. Percayalah kepada kami, para kasim.

Daebi Mama : Beri tahu ketua sekretaris kerajaan untuk menerimaku karena aku akan pergi ke kantor Istana.

Kasim Heo : Aku, Kepala Kasim Heo Deukyoung, akan menjalankan perintah Ibu Suri.

Para anggota keluarga kerajaan berdemo di depan balai istana.

Mereka menolak Daebi Mama sebagai Wali Kuasa.

3 kantor juga tak bisa diam lagi. Mereka meminta Kepala Kim mengajukan banding untuk memprotes tindakan Daebi Mama.

Kepala Kim : Kita tak bisa mengajukan banding dengan mudah. Ketiga Kantor harus bersatu dan mencegah Ibu Suri.

Kasim Heo datang.

Kasim Heo : Sepatah kata untuk Kepala Cendekiawan di Biro Penasihat Khusus. Ibu Suri ingin bertemu dengan anda.

Kepala Kim menemui Daebi Mama.

Daebi Mama : 3 kantor sekaligus? Kalian hanya akan mengancamku?

Kepala Kim : Maafkan kata-kataku, tapi anda sendiri yang menyebabkan situasi ini. Bahkan Yang Mulia tak bisa menangani urusan negara tanpa pembenaran yang tepat.

Daebi Mama : Aku muak dan lelah dengan hal itu.

Daebi Mama menyuruh Dayang Han menurunkan tirainya.

Setelah itu, semua pintu di kamar Daebi Mama ditutup.

Kepala Kim heran.

Tak lama kemudian, seorang pria dibawa masuk dalam keadaan terikat.

Kasim Heo menutup pintu utama kamar Daebi Mama.

Pria itu menangis dan memanggil Kepala Kim ‘abeoji’.

Kepala Kim terkejut melihat anaknya diperlakukan seperti itu.

Daebi Mama : Ini pembenaranku.

Kepala Kim : Yang Mulia.

Daebi Mama : Aku yakin kau tahu putramu sedang diinterogasi karena menyuap Ibu Suri. Jika dia dinyatakan bersalah, dia bisa diadili oleh hukum. Bagaimana kau melawan hukum dan menghukumnya sendiri? Suap dari putramu membantumu menjadi Kepala Cendekiawan.

Kepala Kim : Itu tuduhan palsu!

Kasim-kasim yang lain membenturkan kepala Kepala Kim ke lantai.

Daebi Mama tersenyum evil melihat itu.

Daebi Mama : Sebelum namamu dibersihkan, kehormatanmu akan diinjak-injak. Sarim akan menistakan namamu. Apa yang akan kau lakukan sekarang?

Kepala Kim : Meski anda bertanya 100 kali, jawabanku tetap sama. Aku tak bisa membuat keputusan dogmatis atas kehendak Tiga Kantor.

Kasim kembali membenturkan kepala Kepala Kim ke lantai.

Tak hanya itu, leher putra Kepala Kim juga dijerat dengan tali.

Kepala Kim terkejut setengah mati. Darah mulai mengalir di dahi Kepala Kim.

Daebi Mama : Aku tanya sekali lagi. Ini yang terakhir. Beri aku jawaban yang bijaksana.

Kepala Kim keluar dari kamar Daebi Mama. Nam Sang yang sudah menunggu diluar, tanya apa yang dikatakan Daebi Mama.

Nam Sang : Aku yakin dia tak menduga Tiga Kantor akan bersatu. Jika Tiga Kantor mundur, Yang Mulia juga akan…

Kepala Kim diam saja. Tapi tak lama, dia jatuh pingsan.

Sontak lah Nam Sang kaget dan langsung menolong Kepala Kim.

Giliran Yeon Hee yang dipanggil Daebi Mama.

Yeon Hee merasa takut.

Daebi Mama : Kau memintaku menunjukkan rencanaku. Sekarang aku akan memberitahumu apa yang bisa kuberikan kepadamu. Kau mungkin tak menjadi Ratu, tapi kau bisa menjadi Ibu Suri.

Yeon Hee : Kenapa anda membuat penawaran seperti itu kepadaku?

Daebi Mama : Kau dan aku memiliki musuh yang sama. Paduka Raja sekarat. Ini saatnya menyingkirkan Permaisuri Park.

Mendengar nama Permaisuri Park, wajah ketakutan Yeon Hee langsung hilang, berganti menjadi wajah penuh dendam.

Daebi Mama : Tapi Paduka Raja memang meminum racun. Seseorang harus menebus kejahatannya. Ini semua akan berakhir begitu ada pertumpahan darah.

Orang2 Desa Bambu tampak sibuk dengan aktivitas mereka.

Seobang terus mengikuti kemana istrinya pergi.

Istrinya merasa terganggu.

“Kau bukan anak kecil. Kenapa kau selalu mengikutiku?”

“Kukira aku tak akan pernah melihatmu lagi. Sejelek apa pun kau, kau adalah surgaku.”

Seobang lalu memeluk istrinya.

“Bagaimana kalau kita mencicipi surga?”

Jin Sa tiba-tiba datang dan menatap tajam Seobang. Istri Seobang langsung pergi.

Jin Sa memarahi Seobang.

Jin Sa : Kalian seharusnya muak setelah sering bersama. Apa kau sangat menyayangi istrimu?

Seobang : Jika cemburu, kau bisa menikah lagi. Berhentilah mengkritik hubungan kami.

Jin Sa : Pengiriman akan terlambat karena kau dimabuk cinta. Kenapa kau tak bekerja?

Seobang : Baiklah.

Mereka lalu membahas Jung.

Seobang : Tanpa Nona Jung, bisnis kita merosot, tapi aku akan tetap bekerja.

Jin Sa : Aku tak mengenal gubernur baru itu. Bagaimana jika dia memeras kita sebagai upeti agar bisa dipromosikan?

Seobang : Kudengar dia mudah marah dan tak peduli dengan kantornya. Dia bermusuhan dengan bangsawan Hanyang, jadi dia selalu ditugaskan ke Hamgyong atau Jeolla. Apa dia tak akan mengganggu kita?

Seobang lalu bertanya, apa Jung baik-baik saja di Hanyang.

Seobang : Bagaimana keadaan cendekiawan itu? Apa dia akan berkunjung meski pernikahannya berat?

Jin Sa : Kau harus menyapu lantai, bukan mengikuti istrimu. Mengerti?

Seobang kesal Jin Sa tak menjawab pertanyaannya.

Seobang : Kenapa dia tak mau menjawab? Seandainya Nona Jung di sini, dia akan mengemas semuanya tepat waktu untuk janji temu calon ratu atau apa pun. Dia tak berbakat dalam bisnis. Aku ingin tahu apa Jung baik-baik saja.

Jung tengah menemani Raja.

Tak lama kemudian, Kasim Heo datang.

Kasim Heo melirik Raja yang belum sadar. Jung menatap Kasim Heo.

Lalu Ibu Suri datang.

Ibu Suri : Kudengar Paduka Raja belum sadar.

Jung : Maafkan aku, Yang Mulia. Ini semua karena aku kurang berusaha. Itu sebabnya aku meminta izin membawa Paduka Raja beristirahat di luar istana.

Ibu Suri : Kau ingin membawanya keluar?

Jung : Benar, sepertinya Paduka Raja bisa sadar jika meninggalkan istana yang ramai ini.

Ibu Suri teringat kata-kata biksu.

Biksu : Kirim Paduka Raja ke istana terpisah di dekat sini. Jika dia meninggal di istana, anda bisa sial, Yang Mulia.

Ibu Suri : Aku harus tetap mengawasinya. Jika dia sadar…

Biksu : Paduka Raja tak akan pernah sadar. Percayalah kepadaku. Keluarkan dia dari istana dan sampaikan tentang hari berkabung nasional. Jika kematian Raja diketahui, anda akan mendapat kekuasaan lebih.

Ibu Suri tersenyum teringat itu.

Ibu Suri lalu menatap Jung.

Ibu Suri : Aku menerima permintaanmu, Permaisuri Park.

Jung : Terima kasih atas kebaikan anda.

Jung lalu melihat Raja gelisah.

Sontak lah Jung panic dan langsung menatap Daebi Mama.

Daebi Mama hendak menoleh ke Raja.

Jung panic dong. Nah tepat saat itu, Dayang Choi memecahkan pajangan.

Daebi Mama kesal.

Dayang Choi menyingkirkan pecahan pajangan ke pinggir dengan tangannya agar tak terinjak Daebi Mama.

Dayang Choi : Tolong hukum aku. Aku kehilangan keseimbangan.

Daebi Mama : Kau harus belajar memerintah pelayanmu.

Jung : Maaf, Yang Mulia. Aku akan menghukumnya dengan berat.

Daebi Mama menatap Raja.

Raja mulai tenang. Daebi Mama pun pergi begitu saja.

Jung mendekati Dayang Choi. Dia memeriksa tangan Dayang Choi yang terluka.

Jung : Kau baik-baik saja?

Dayang Choi : Ini tak terlalu sakit.

Dayang Choi melihat Raja.

Jung melihat Dayang Choi dan sadar Dayang Choi sudah tahu Raja telah sadar.

Jung : Sejak kapan kau tahu?

Dayang Choi : Belum lama.

Jung : Siapa lagi yang tahu?

Dayang Choi : Hanya aku.

Jung menyesal karena tak mempercayai Dayang Choi.

Dayang Choi menasihati Jung.

Dayang Choi : Jangan memercayaiku. Itu satu-satunya cara melindungi Paduka Raja. Namun, tolong percayalah kepadaku satu hari saja dan tidurlah dengan tenang.

Jung memeluk Dayang Choi.

Jung : Terima kasih.

Ttong Geum tengah mengemasi pakaian Jung.

Ttong Geum merasa kasihan kepada Jung.

Ttong Geum : Nona yang malang. Dia memiliki takdir yang buruk. Kau membuatku sedih.

Lalu Jung masuk dengan terburu-buru.

Jung : Ttong Geum-ah, dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang, kau punya tugas.

Ttong Geum mengangguk.

Jung keluar dari kamarnya dan menemui Gye Won yang menunggu diluar.

Gye Won : Kudengar Paduka Raja akan keluar dari istana. Jika dia pergi, keamanannya tak akan sebaik di istana. Maksudku, Paduka Raja bisa berada dalam bahaya yang lebih besar.

Jung : Ibu Suri mengizinkanku pergi bersamanya.

Gye Won : Jika Ibu Suri memberimu izin untuk membawanya pergi, aku yakin keamanan di luar istana jauh lebih longgar daripada istana. Kau sudah tahu. Ibu Suri hanya menunggu Paduka Raja meninggal. Tapi kau tetap ingin pergi meski mengetahui fakta tersebut. Itu artinya kau beranggapan dia akan lebih aman di luar daripada di dalam istana. Kantor Segel dan Lencana mewakili Yang Mulia. Aku akan memastikan dia bisa membawa semuanya. Pelayanku akan memastikan perjalananmu aman di setiap sudut istana yang terpisah.

Jung : Apa kau mengawasinya?

Gye Won : Aku hanya berusaha melindungi Paduka Raja.

Jung : Aku percaya kau tulus berharap agar Paduka Raja sadar.

Gye Won memberi hormat, lalu beranjak pergi.

Jung menatap Raja yang lagi tidur.

Raja dan Jung mulai bergerak meninggalkan istana.

Raja berhasil dibawa keluar, tapi tidak dengan Jung.

Jung tidak diizinkan keluar.

Lalu Yeon Hee datang.

Jung keluar dari tandunya.

Yeon Hee : Kau tak boleh pergi. Ini perintah Ibu Suri.

Jung melihat Raja yang dibawa pergi.

Kasim Jung sadar Jung tidak ikut. Dia menoleh dan melihat Jung dilarang pergi.

Melihat itu, Kasim Jung bergegas membawa Raja dulu.

Jung menatap Yeon Hee.

Jung : Aku yakin ada alasan khusus.

Yeon Hee : Benar. Ibu Suri menerima surat anonim. Kau memakai identitas orang lain, mencoba membunuh Paduka Raja, dan takut kejahatanmu terungkap. Kita semua tahu ini fitnah yang tak masuk akal. Itu sebabnya Ibu Suri ingin menangkap pelaku sebenarnya dan membersihkan namamu, dia memintamu tetap di sini sampai dia selesai. Aku tahu seseorang yang mungkin adalah pelaku sebenarnya. Ada seseorang yang terus mengatakan bahwa dia mengenalmu. Gadis pelayan yang kubawa dari keluargaku. Bawa Ttong Geum masuk!

Para kasim mencari Ttong Geum diantara pelayan Jung, tapi tidak menemukannya.

Jung : Dia sedang tak ada di sini.

Bersambung ke part 3…

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Layangan Putus Ep 5A

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Layangan Putus Episode 5A, Jika Kalian ingin melihat full recapnya tersedia lengkap di tulisan tulisan…