Bloody Heart Eps 10 Part 1

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Bloody Heart Episode 10 Part 1, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. EPISODE SEBELUMNYA DISINI.

Di episode sebelumnya, Jung dan Gye Won ketemuan di sebuah lahan kosong. Jung lah yang mengajak Gye Won untuk bertemu. Jung berkata, Gye Won bertanya padanya, siapa musuhnya. Gye Won tanya, apa Jung sudah menemukan jawaban atas pertanyaannya. Jung bilang, sudah dan dia datang membawa jawabannya. Gye Won bilang dia juga akan memberi Jung jawaban setelah mendengar jawaban Jung.

Sementara Raja terlihat bahagia mengolah tanah bersama para petani.

Sebuah panah diarahkan kepada Jung. Jung maju selangkah, ke arah Gye Won. Gye Won menanti jawaban Jung. Apakah jawaban Jung??

Jung : Aku memilih untuk tak membalas dendam kepada siapa pun. Dampaknya adalah pertumpahan darah yang tak perlu. Aku tak ingin menempuh jalan yang sama denganmu.

Gye Won : Lalu jalan mana yang kau ambil?

Jung : Jalan yang tak bisa diambil ayahku. Jalan yang dihindari mentorku (Jin Sa). Di sisi Paduka Raja, aku akan menjadikannya pemimpin yang bajik. Seperti kata ayahku, dia dilayani oleh langit.

Gye Won menatap ke arah seseorang yang mengarahkan panah kepada Jung.

Gye Won : Kau yakin dia pantas menjadi raja yang bajik? Kekuasaan yang diberikan kepada orang yang salah hanya akan….

Gye Won menatap Jung.

Gye Won : …. melahirkan tirani bagi masyarakat.

Jung : Kau merasa pantas menilai seseorang? Justru para pejabat yang menghalangi perkembangan Paduka Raja.

Gye Won : Jalan yang kau gambarakan adalah jalan seorang Ratu.

Jung : Kalau begitu, aku akan menjadi Ratu. Sebagai keponakanmu.

Gye Won : Keponakan yang sebenarnya musuh bebuyutanku dan pada akhirnya melemahkan posisiku.

Gye Won menatap Jung, dengan tatapan tulus.

Jung : Sekarang giliranmu menjawab.

Nyonya Yoon menatap tempat yang biasa diduduki oleh Gye Won.

Tak lama, Gye Won pulang. Nyonya Yoon berbalik menatap Gye Won.

Gye Won : Apa kau yang mengirim Song Baek?

Nyonya Yoon : Ya.

Gye Won : Apa kata Selir Park?

Nyonya Yoon : Dia akan menemuimu sebagai putri Yoo Haksoo.

Nyonya Yoon minta penjelasan kenapa Gye Won merahasiakan itu darinya. Dia kecewa. Dia juga menyebut itu karma terburuk.

Gye Won : Yoo Haksoo pernah mengatakan ini tentang putrinya sendiri. Putrinya pasti menjadi menteri jika terlahir sebagai lelaki. Namun, dia senang putrinya tak terlahir sebagai lelaki. Akhirnya aku paham alasannya.

Gye Won beranjak ke tempat duduknya. Nyonya Yoon menatap Gye Won.

Gye Won : Jika dia terlahir sebagai lelaki, keluarga kerajaan dan istana, serta masyarakat akan menuntunnya ke jalan seorang pengkhianat.

Gye Won lalu bilang kalau dia akan menjadikan Jung Ratu.

Nyonya Yoon tak setuju. Dia bilang, dia akan patuh demi keluarga mereka tapi meski Jung dianggap sebagai keponakan Gye Won, Jung tetaplah putri Yoo Haksoo.

Nyonya Yoon : Kau tak mengkhawatirkan akibatnya?

Gye Won : Aku khawatir. Tapi menyingkirkannya adalah perbuatan sia-sia.

Nyonya Yoon tak mengerti, Daegam.

Gye Won : Aku tak pernah dianugerahi raja yang layak, jadi setidaknya aku memilih melayani Ratu yang pantas.

Gye Won sudah bertekad.

Nyonya Yoon tak bisa apa-apa.

Jung masih di tempat tadi dia bertemu dengan Gye Won.

Jung memikirkan kata-kata ayahnya sebelum dia masuk ke istana.

Yoo Haksoo : Jung-ah, ayah mengirimmu ke istana bukan demi keuntungan pribadi. Tindakan seorang Raja bisa membawa kedamaian bagi rakyat atau justru masalah. Itu sebabnya seorang Raja, bahkan menguasai langit.

Malam pun tiba. Raja melamun di depan sekat kamarnya. Tak lama kemudian, Jung datang. Jung mendekati Raja.

Raja : Hari ini, aku menghabiskan seharian bersama para petani. Aku belum pernah berada sedekat ini dengan mereka. Sehari ini, aku menghabiskan waktu dengan pejabat dan bawahan. Mulai sekarang, aku akan belajar tentang rakyatku dan kehidupan mereka. Aku ingin melindungi mereka.

Jung : Raja yang menyembunyikan kebenaran tak bisa menjadi raja sejati bagi rakyat.

Raja : Hal yang kubutuhkan adalah waktu. Begitu aku kembali berwenang atas para pejabat, aku pasti akan membersihkan nama ayahmu.

Raja menatap Jung. Dia minta waktu kepada Jung.

Jung memegang tangan Raja dan berkata akan menunggu. Raja telah berjanji jadi dia akan menunggu.

Gye Won bersama antek-anteknya di kediamannya.

Gye Won : Poster yang menuduhku membunuh mendiang Ratu Inyoung takkan pernah dibahas lagi.

Antek-anteknya langsung menatapnya.

Menteri No : Daegam!

Gye Won : Poster itu dipasang di Banchon. Apa hakku menghukum pelajar muda dari Akademi Konfusianisme karena mengutarakan pikiran mereka? Lagipula ada masalah yang lebih mendesak. Begitu mayoritas dewan setuju, Paduka Raja atau Ibu Suri tak akan menentang proposal kita.

Menteri No : Mengenai wanita akan menjadi Ratu?

Gye Won : Aku akan menobatkan Selir Park sebagai Ratu.

Besoknya, para pejabat berkumpul di depan balai istana bersama Raja.

Raja : Kau meminta persetujuan Selir Park sebagai Ratu berikutnya?

Raja lalu menanyakan persetujuan Ibu Suri.

Salah satu menteri bilang, bahkan Ibu Suri setuju Selir Park menjadi Ratu.

Raja : Aku akan menghormati ibuku serta para pejabat di hadapanku dan mengumumkan Selir Park sebagai Ratu berikutnya.

Para menteri senang dan mengucapkan terima kasih kepada Raja.

Yeon Hee di kamarnya mengamuk. Dia memecahkan barang-barangnya.

Dia tak terima, Jung yang terpilih sebagai Ratu.

Jung mulai dipakaikan jubah Permaisuri.

Terdengar suara Raja yang memutuskan bahwa Selir Park akan diberi gelar Permaisuri dan memiliki wewenang atas Istana Dalam. Penobatan Selir Park sebagai Ratu akan dilakukan setelah masa berkabung 3 tahun selesai.

Seluruh istri para pejabat, memberikan hormat kepada Jung.

Lalu kita mendengar jawaban Gye Won, bahwa orang-orang Jung akan dibebaskan sesuai permintaan Raja.

Orang-orang Jung kembali ke desa mereka.

Mereka bersuka cita bertemu kembali dengan keluarga mereka.

Sa Hyung kesal, dia bilang sama ayahnya bagaimana bisa Raja memperlakukan keluarga mereka dengan buruk.

Won Pyo juga kesal, tapi dia sudah punya rencana.

Won Pyo minta Sa Hyung memastikan agar Yeon Hee tak bertindak gegabah.

Won Pyo : Waktu kita akan tiba, jadi jangan teralihkan sampai saatnya tiba.

Sa Hyung : Bukan hanya dia yang harus tetap tenang.

Won Pyo langsung mewanti-wanti Sa Hyung agar tetap tenang.

Won Pyo : Paduka Raja dan Anggota Dewan Park tak bisa berkolusi selamanya. Mereka tak bisa berdampingan. Permaisuri Park mungkin menyatukan mereka, tapi ini takkan bertahan lama.

Won Pyo beranjak pergi.

Malam tiba. Raja yang masih di balai istana, tengah memainkan caturnya yang didominasi bidak berwarna putih. Hanya 2 bidak hijau disana. Raja meletakkan bidak hijaunya di atas papan catur, lalu menyingkirkan bidak-bidak putih dan mengganti bidak putih dengan bidak hijau.

Besoknya di istana, para menteri sudah berkumpul di balai istana.

Lalu Raja datang. Raja berhenti sejenak hanya untuk melihat Gye Won.

Raja melangkah ke singgasana nya.

Tak lama kemudian, Ham Changik, Kepala Komandan Pasukan Provinsi Hamgyong, datang menghadap Raja.

Raja : Kalian telah melewati perjalanan panjang.

Kepala Komandan Ham : Aku menghargai kemurahan hati anda, tapi bagaimana bisa seseorang kelelahan saat dipanggil Paduka Raja? Namun saat memasuki istana, aku melihat penjilat dan bawahan yang berkuasa memersekusi Yang Mulia. Genangan air mata membutakanku karena aku malu dengan pemandangan itu.

Menteri No tampak kesal dengan kalimat Komandan Ham itu.

Setelah itu, Gye Won dan dua kroninya menghadap Ibu Suri. Ibu Suri kaget saat tahu bahwa pamannya akan dikirim ke Provinsi Jeolla. Dia gak terima Gye Won mengirim salah satu kerabatnya ke tempat jauh.

Menteri No : Paduka Raja sudah menunjuknya sebagai gubernur Provinsi Jeolla.

Ibu Suri : Menurut kabar yang kudengar, Paduka Raja menyiapkan posisi yang dekat dengannya. Kirim pamanku ke Provinsi Gyeonggi.

Menteri No : Yang Mulia, posisi itu tak bisa diisi dengan mudah.

Kepala Pengadilan Negara berkata, meski Kepala Komandan Ham adalah paman Ibu Suri, tapi Ibu Suri tahu dia suka menjelekkan para pejabat yang berjasa.

Gye Won meminta mereka berdua pergi.

Setelah mereka pergi, Gye Won memberitahu Ibu Suri kalau Kepala Biro Ibu Kota melapor ke Won Pyo dan anggota keluarga lainnya berpangkat tinggi sebagai Pengawal Istana dan Divisi Tentara Pusat.

Gye Won : Oleh karena itu….

Ibu Suri marah dan menghampiri Gye Won.

Ibu Suri : Aku tak peduli dengan urusan negara! Apa keluargaku akan berdekatan atau dia akan diusir? Jawab pertanyaanku.

Ibu Suri memegang tangan Gye Won.

Dia memohon agar pamannya tetap berada di dekatnya.

Gye Won : Gubernur Provinsi Gyeongi adalah posisi penting yang tak boleh dilepaskan.

Mendengar itu, Ibu Suri kecewa dan teringat kata-kata si biksu.

Biksu : Orang yang mengusir anggota keluarga anda menggunakan darah dagingnya sendiri untuk menuai kekuasaan dan otoritas.

Ibu Suri menatap Gye Won dengan tatapan kecewa.

Ibu Suri : Lakukan sesukamu. Lagipula, kapan kau pernah salah?

Dayang Choi menghadap Yeon Hee.

Yeon Hee sendiri tengah didandani pelayannya. Ttong Geum tampak memakaikan sanggul ke rambut Yeon Hee.

Yeon Hee : Katakan kepadanya bahwa aku hanya menyapa Ibu Suri. Kami berdua Selir tapi dia memanggilku?

Dayang Choi : Dia Selir Raja yang akan dinobatkan sebagai Ratu.

Yeon Hee : Kalau begitu, katakan aku akan menyapanya begitu dia dinobatkan.

Dayang Choi : Kalau begitu, aku permisi.

Dayang Choi beranjak pergi.

Ttong Geum melihat Dayang Choi padahal dia tengah memasang binyeo ke sanggul Yeon Hee. Akibatnya, belakang leher Yeon Hee tak sengaja tertusuk binyeo.

Yeon Hee marah, bukankah ini tugas sederhana!

Yeon Hee memukul kepala Ttong Geum dengan wadah bedaknya. Dayang Choi melihat itu. Ttong Geum minta maaf. Yeon Hee mengusirnya.

Dayang Kim ingin menasihati Yeon Hee tapi belum sempat ngomong, Yeon Hee melarangnya bicara.

Yeon Hee bilang, membiarkan Ttong Geum hidup saja sudah membuat dia stres.

Dayang Choi menemui Jung di perpus.

Jung : Dia menggunakan Ibu Suri sebagai alasan?

Dayang Choi : ya, aku ragu dia berencana menyapa anda dalam waktu dekat.

Jung bilang, jika Yeon Hee uring-uringan, maka pelayan Yeon Hee bisa kena dampaknya.

Dayang Choi bilang sepertinya Ttong Geum yang paling kesulitan. Dia bilang mengatakan itu, karena melihat Jung peduli pada Ttong Geum.

Jung : Apakah terlihat jelas? Aku akan lebih berhati-hati.

Dayang Choi : Dia salah satu pelayan istana Nona Cho, menerimanya akan menyebabkan keributan.

Jung : Aku tahu. Perbendaharaan Paduka Raja kosong. Kudengar, tikus-tikus memakannya.

Dayang Choi : Sekarang bukan saatnya ikut campur.

Jung : Apa itu melibatkan para pejabat?

Dayang Choi : Ibu Suri tak tertarik dengan urusan sepele. Mungkin dimakan oleh mereka yang menikmati kekuasaannya.

Kasim Jung datang.

Kasim Jung : Yang Mulia, kudengar anda memanggilku?

Jung mengangguk.

Bersambung ke part 2…

1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like