Adamas Eps 4 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Adamas Episode 4 Part 2, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Baca EPISODE SEBELUMNYA HERE

Sebelumnya…

Dong Rim bilang pada Woo Shin, kalau dia penasaran kenapa Kepala Pelayan Kwon sangat membenci Woo Shin.

Dong Rim : Orang biasanya membencimu, tapi ini terlalu cepat.

Woo Shin : Benar sekali.

Dong Rim : Tapi apa maksudnya mencatat? Kau tidak melakukan hal seperti itu.

Woo Shin : Itu bukan urusanmu.

Woo Shin terus berjalan.

Dong Rim : Kau mau ke mana?

Woo Shin bilang mewawancarai Pimpinan Kwon.

Dong Rim berteriak kalau dia mau ke ruang kerja.

Dong Rim mulai berjalan menuju perpustakaan. Sambil bertanya-tanya, apa alasan Kepala Pelayan Kwon membenci Woo Shin. Apa Kepala Pelayan Kwon benci Woo Shin karena cemburu Pimpinan Kwon menyukai Woo Shin?

Dong Rim kemudian ingat dan bertanya2, apa dia lupa ngasih tahu Woo Shin kalau wawancaranya ditunda.

Woo Shin tengah memeriksa lantai di depan pintu ruangan Pimpinan Kwon.

Woo Shin : Lantai yang dinaikkan bisa berarti ada sesuatu di bawahnya.

Woo Shin masuk, tapi kepergok Seketaris Yoon.

Woo Shin nampak tenang. Dia bilang harus mewawancarai Pimpinan Kwon.

Seketaris Yoon menulis di tabletnya kalau Pimpinan Kwon ke kantor pusat.

Woo Shin bilang dia lupa dan beranjak pergi.

Seketaris Yoon menatap curiga Woo Shin.

Tapi Woo Shin balik lagi dan tanya apa Seketaris Yoon tahu kapan Pimpinan Kwon kembali.

Seketaris Yoon melaporkan sesuatu pada Kepala Pelayan Kwon.

Kepala Pelayan Kwon : Pukul 16.00? Melihat bagaimana dia pergi tanpanya, dia pergi menemui Pak Hyun Jo. Tetap saja, dia seharusnya menemaninya. Bagaimana hasilnya? Begitu rupanya. Kalau begitu, aku harus menunggu. Apa dia akan terpancing?

Kepala Pelayan Kwon menatap surat Woo Shin yang sudah dia satukan.

Kepala Pelayan Kwon : Siapa kau?

Hye Soo bicara dengan seseorang di kamarnya.

Hye Soo : Benarkah? Bagus.

Hye Soo keluar dari kamarnya.

Dia melihat Woo Shin lagi menatap lukisan di dekat kamarnya.

Hye Soo mendekati Woo Shin.

Hye Soo : Ini karya anumerta senimannya, Baek Dong Sun.

Woo Shin : Kurasa harganya mahal.

Hye Soo : Lebih dari penghasilanmu seumur hidup.

Hye Soo memberitahu Woo Shin, kalau dia nyoba nyari tahu siapa yang merekomendasikan Woo Shin tapi informasinya terkunci.

Woo Shin : Artinya…

Hye Soo : Itu rahasia.

Woo Shin : Itu pertanda buruk. Itu artinya ada motif tersembunyi.

Hye Soo : Aku akan mencari cara untuk mengetahui siapa dia. Karena waktumu tidak banyak.

Woo Shin : Kau mengkhawatirkanku?

Hye Soo : Jangan konyol.

Woo Shin menatap ke arah Hye Soo.

Woo Shin : Indah sekali.

Tapi yang dimaksud Woo Shin indah bukan Hye Soo, melainkan rumah Pimpinan Kwon.

Woo Shin : Rumah ini seperti museum besar.

Woo Shin beranjak dan menunjuk salah satu patung putih.

Hye Soo bilang itu salah satu karya awal Romawi.

Woo Shin : Aku yakin harganya jauh lebih tinggi.

Hye Soo : Kau ingin tahu berapa harganya?

Woo Shin bilang dia pengen tahu hal lain, yaitu ruang rahasia di lantai 3.

Woo Shin : Kenapa terkunci? Ada apa di dalam sana?

Pimpinan Kwon bicara dengan Hyun Jo.

Hyun Jo : Informasinya bocor?

Pimpinan Kwon : Situasi kita rumit. Penulis yang ayah sewa untuk memoar. Muridnya tahu bahasa isyarat.

Hyun Jo panic, haruskah aku memanggil Pak Lee? Jika kabar legalisasi senjata api tersebar, itu tak bisa ditutupi dengan mudah.

Pimpinan Kwon : Hyun Jo-ya, jangan terlalu mengandalkan Pak Lee. Obat yang bagus bisa beracun jika kau overdosis. Mereka tak akan ke mana-mana sampai pemilu selesai. Semua akan baik-baik saja.

Hyun Jo : Tapi…

Pimpinan Kwon : Jangan bilang tapi. Ayah tidak butuh izinmu.

Hyun Jo : Maafkan aku, Ayah.

Pimpinan Kwon : Itu bukan urusanmu.

Hyun Jo : Kurasa ayah sangat menyukai penulis itu, melihat ayah mengambil tindakan ekstra.

Pimpinan Kwon : Itu tidak ada hubungannya. Omong-omong, ayah datang untuk membicarakan hal lain. Acara hari jadi ke-80.

Hyun Jo : Jangan mengkhawatirkan itu. Persiapannya berjalan lancar.

Pimpinan Kwon : Tidak, ayah berpikir untuk mengubah rencana.

Hyun Jo : Bagaimana maksudnya?

Pimpinan Kwon : Ayah cukup mengkhawatirkan kesehatan belakangan ini. Entah sampai kapan ayah bisa bekerja. Jadi ayah berencana pensiun.

Hyun Jo kaget, apa?

Pimpinan Kwon : Waktumu akan tiba.

Hyun Jo kembali ke ruangannya.

Dia tersenyum menyeringai.

Pimpinan Kwon di ruangannya, memikirkan Min Jo.

Pimpinan Kwon bilang waktu Min Jo untuk mengurus perusahaan hampir tiba.

Tapi Min Jo bilang yang dia inginkan bukan itu.

Pimpinan Kwon : Bukan itu yang kau inginkan?

Min Jo : Tidak. Aku tidak ingin hidup seperti ayah.

Pimpinan Kwon : Apa maksudnya?

Min Jo : Aku tahu semuanya.

Pimpinan Kwon : Tahu apa?

Min Jo : Semuanya. Saat masih muda, aku bangga dengan Haesong. Tapi sekarang, aku malu. Menjadi kaya lewat pertumpahan darah adalah kejahatan. Ayah juga ingin menjadikanku penjahat?

Flashback end…

Pimpinan Kwon : Sangat disayangkan, setiap kali kupikirkan.

Hye Soo membawa Woo Shin ke kamar terkunci di lantai 3. Ternyata itu kamar Min Jo.

Hye Soo bilang tidak ada yang berubah di ruangan itu sejak kecelakaan itu.

Hye Soo : Adamas tak ada di sini.

Woo Shin : Seperti dugaanku.

Hye Soo : Benarkah?

Woo Shin : Kau mengunci ruangan untuk alasan keamanan. Tapi aku ragu mereka akan membuatnya sejelas ini. Kupikir mungkin itu sesuatu yang berharga, jika bukan sesuatu yang mahal. Cukup berharga bagi Pimpinan Kwon untuk menyimpannya di dekat kamarnya.

Hye Soo : Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu. Aku juga tak tahu di mana Adamas.

Woo Shin : Jangan khawatir. Aku takkan mengganggumu lagi.

Hye Soo : Tapi kenapa sepertinya banyak yang ingin kau katakan?

Woo Shin lalu meminta Hye Soo merahasiakan itu dari Soo Hyun.

Hye Soo : Aku tak bisa menjanjikan itu. Kau pasti lupa telah mengancamku.

Woo Shin : Itu…

Hye Soo : Penulis Ha. Entah kapan kau akan mengkhianatiku. Aku juga butuh rencana cadangan, bukan begitu? Tapi aku penasaran kenapa harus dirahasiakan dari kakakmu. Apa ada alasan dia tidak boleh tahu?

Woo Shin tak menjawab dan beranjak pergi.

Hye Soo : Aku penasaran dengan cerita itu.

Soo Hyun melamun di kamarnya. Dia kemudian melihat figur super hero dan teringat masa kecilnya.

Flashback…

Soo Hyun berdiri di depan toko mainan. Dia menatap figur super hero itu dengan senyum lebar.

Lalu ayahnya, Pak Song, datang.

Pak Song : Kau mau? Mau ayah belikan?

Soo Hyun bilang iya, tapi tak lama, dia meralat ucapannya dan mengatakan tidak.

Pak Song : Jawaban apa itu? Mau ayah belikan atau tidak?

Soo Hyun : Ayah tidak punya uang.

Pak Song : Jadi, kau menyadarinya. Tapi, Nak, ayah punya uang simpanan. Sebentar lagi Hari Anak. Kau mau figur itu sebagai hadiah?

Soo Hyun : Lupakan saja. Aku bahkan bukan anak kecil lagi.

Pak Song : Kau selalu menjadi anak kecil bagi ayah. Karena kau putra ayah.

Flashback end…

Soo Hyun kemudian beranjak pergi.

Dalam perjalanan, Soo Hyun menghubungi Dae Chul.

Soo Hyun : Pak Gong, aku akan mengirimkan sebuah nomor. Berikan informasi pribadinya.

Dae Chul : Pak, kau harus datang bekerja…

Soo Hyun : Ini mendesak. Bantu aku hari ini.

Soo Hyun pergi ke makam bersama Seo Hee.

Soo Hyun lalu berjanji pada Seo Hee dia akan menangkap pelakunya.

Soo Hyun dan Seo Hee kemudian bicara. Soo Hyun tanya apa Seo Hee yakin pria di sketsa komposit itu adalah pelaku sebenarnya.

Seo Hee : Ya.

Soo Hyun : Bukan, dia kaki tangan.

Seo Hee : Aku tidak setuju denganmu. Lee Chang Woo juga menyangkalnya.

Soo Hyun : Kau akan memercayainya? Percayalah pada perkataanku.

Seo Hee : Tak ada bukti dia kaki tangan. Maksudku, itu tidak masuk akal.

Soo Hyun : Seseorang mengambil senjatanya, jadi, kenapa dia mengaku? Kenapa dia terus bersikeras melakukannya sendirian padahal ada tersangka utama?

Seo Hee : Itu…

Soo Hyun : Itu perilaku khas dirinya yang berusaha melindungi komplotannya.

Seo Hee : Mungkin dia tidak bisa membicarakan situasinya sepertiku. Sama seperti ayahku yang bersaksi menggantikanku.

Soo Hyun : Apa mengatakan itu membuatmu merasa lebih baik? Ayahmu bersumpah palsu demi keluarganya. Tapi Lee Chang Woo yatim piatu dan lajang. Dia sendirian. Tidak ada alasan baginya untuk membuat pengakuan palsu.

Seo Hee : Karena aku, orang tuaku meninggal. Karena aku percaya bahwa Lee Chang Woo tidak bersalah. Tapi jika ternyata dia bersalah, apa yang telah kulakukan?

Soo Hyun : Kim Seo Hee-ssi, jangan merasa bersalah. Kenapa korban harus menderita padahal yang bersalah baik-baik saja? Rasa bersalah hanya untuk orang yang bersalah. Kau tidak bersalah. Bahkan setelah insiden tragis itu, kau masih harus hidup menderita. Kau seorang penyintas.

*Lee Chang Woo lajang? Berarti Soo Hyun gk tau yaa Pak Lee itu ayah kandungnya.. yg tau cuma Woo Shin.

Dong Rim lagi bicara dengan ibunya melalui telepon.

Dong Rim : Ibu, bagaimana dengan ayah? Jangan bilang kondisinya memburuk. Ceritakan detailnya.

Nyonya Lee ingin cerita tapi dilarang suaminya karena takut Dong Rim cemas.

Nyonya Lee : Jangan terlalu khawatir. Mereka harus melakukan tes untuk mengetahui detailnya.

Dong Rim : Tes? Apakah serius? Sekarang dia di kamar VIP? Siapa yang memberinya kamar?

Dong Rim kaget, siapa?

Woo Shin menatap detektor api di depan kamar Min Jo.

Woo Shin : Sama saja. Hanya satu detektor api di lantai tiga juga.

Woo Shin kemudian beranjak pergi.

Bersambung ke part 3…

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like