Adamas Eps 2 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Adamas Episode 2 Part 3, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Baca EPISODE SEBELUMNYA HERE

Sebelumnya….

Woo Shin kembali memeriksa kediaman Pimpinan Kwon.

Woo Shin : Struktur bangunan modern dan canggih. Seharusnya mirip dengan lantai satu. Tersisa lantai tiga.

Woo Shin pergi ke lantai 3. Dan dia heran, mereka membiarkan lantai 3 begitu saja.

Woo Shin kemudian ingat ruangan terkunci di lantai 3.

Lalu dia masuk ke ruangan Pimpinan Kwon dan melakukan pemeriksaan terhadap ruangan lain yang ada di dalam ruangan kerja Pimpinan Kwon.

Woo Shin : Ruang tamu ini. Lalu…

Woo Shin keluar dari ruang tamu dan menatap setiap sudut ruangan kerja Pimpinan Kwon.

Woo Shin : Jika ada ruang tersembunyi di sini…

Woo Shin menatap sudut yang ada di dekat meja Pimpinan Kwon.

Tapi saat beranjak ke sana, dia merasakan ada yang aneh dengan lantai dibawah karpet.

Woo Shin pun keluar dari ruangan Pimpinan Kwon dan melihat ke arah lantai yang tidak ditutupi karpet.

Woo Shin : Lantai yang dinaikkan ini… Mungkin ada sesuatu di bawah karpet.

Woo Shin kembali masuk dan menutup semua pintu.

Lalu dia beranjak ke lantai yang ditutupi karpet. Dia yakin, ada sesuatu dibawah karpet. Tapi saat mau memeriksa, Pimpinan Kwon memergokinya.

Pimpinan Kwon : Sedang apa kau di sini?

Woo Shin diam saja.

Pimpinan Kwon : Kutanya, sedang apa kau di sini?

Woo Shin : Kita harus melakukan wawancara.

Pimpinan Kwon : Wawancara?

Woo Shin : Kemarin, kau menyarankan wawancara di sekitar waktu ini hari ini.

Pimpinan Kwon : Benar juga. Ya. Aku pelupa karena sudah tua.

Woo Shin menyalakan alat perekamnya. Lalu dia, menyeruput kopinya sambil mendengarkan Pimpinan Kwon bercerita.

Pimpinan Kwon : Awal Haesong… Aku tidak bisa melupakan orang ini.

Woo Shin : Maksudmu kakekmu, sang pendiri?

Pimpinan Kwon : Dia terlahir sebagai pengusaha. Dia mendirikan pabrik amunisi di Jepang saat usianya bahkan belum 30 tahun. Logo anak panah yang kami pakai sekarang sudah dipakai sejak awal.

Pimpinan Kwon meneguk mirasnya.

Woo Shin : Begitu rupanya. Apa Haesong pernah menghadapi krisis? Tahun ini hari jadi ke-80.

Pimpinan Kwon : Tentu saja, tidak berjalan lancar. Banyak orang mengkritik grup itu karena pro-Jepang.

Woo Shin : Aku ingat sekilas tentang boikot itu.

Pimpinan Kwon : Itu jelas sulit bahkan untuk Haesong. Jadi, aku memikirkan cara untuk mengubah permainan. Terinspirasi oleh logonya, aku membuat Adamas dan menyatakannya sebagai simbol Haesong.

Woo Shin : Gerakan yang bagus.

Kita diperlihatkan flashback, saat Pimpinan Kwon memperkenalkan Adamas.

Dia menggelar sebuah upacara, untuk pengungkapan Adamas.

Sambil menjelaskan arti kata ‘adamas’, Pimpinan Kwon berjalan menuju panah berlian yang diletakkan di dalam kotak kaca.

Para wartawan mengambil foto keduanya.

Pimpinan Kwon : Aku dapat nama itu dari kata Yunani untuk berlian. Artinya “tak bisa ditaklukkan”. Panah berlian ini akan menjadi simbol Haesong.

Flashback end…

Woo Shin : Panah termahal di dunia itu dengan cepat menjadi pusat perhatian.

Pimpinan Kwon : Itu membalikkan keadaan. Boikot itu tidak lagi menarik bagi mereka. Anak panahnya sendiri adalah berlian 300 karat bernilai puluhan miliar won. Itu menarik perhatian secara alami.

Woo Shin : Aku tidak tahu ada kisah seperti itu di balik Adamas. Kau belum menunjukkannya sejak itu. Kapan kau berencana melakukannya?

Pimpinan Kwon : Saat waktuku habis… Pada hari aku pensiun, aku akan menyerahkannya kepada putraku.

Woo Shin : Seperti mahkota?

Pimpinan Kwon : Dia harus mewarisi simbol Haesong agar menjadi pemilik yang sah.

Woo Shin : Begitu rupanya.

Sambil memegang cangkir kopinya, Woo Shin bilang dia ingin melihat Adamas untuk penulisan buku memoar.

Pimpinan Kwon juga memegang gelas mirasnya.

Pimpinan Kwon : Kau mau melihatnya?

Woo Shin terkejut, apa?

Seketaris Yoon menaruh tablet yang menampilan foto Adamas di depan Woo Shin.

Woo Shin melihatnya.

Pimpinan Kwon menatap Woo Shin.

Pimpinan Kwon : Bagaimana menurutmu? Bukankah ini indah dan anggun?

Woo Shin : Benar. Aku tidak sabar melihatnya langsung. Fotonya saja sudah mengesankan.

Pimpinan Kwon : Kita lihat saja nanti. Mungkin akan ada kesempatan lain kali.

Sekarang, Woo Shin sudah keluar dari ruangan Pimpinan Kwon. Dia tengah berjalan di koridor.

Woo Shin mengomentari kata-kata Pimpinan Kwon tadi saat dia bilang ingin melihat Adamas secara langsung.

Woo Shin : Lain kali? Itu cara tidak langsung untuk menolak.

Bu Oh mengikuti Woo Shin.

Tapi, Bu Oh langsung berhenti berjalan saat melihat Woo Shin berdiri menunggunya.

Bu Oh pura2 memberi hormat dan bersikap tidak terjadi apa-apa.

Woo Shin mengajak bicara Bu Oh.

Woo Shin : Bu Oh, aku menyadari ada yang aneh.

Bu Oh : Apa maksudmu?

Woo Shin : Aku melihat-lihat wastu hari ini. Patung di lantai tiga. Tampaknya cukup luar biasa.

Bu Oh : Kau tahu pemahat Italia, Casas? Itu karya seninya.

Woo Shin : Itu sebabnya. Ruang kantor di sana tidak diperpanjang, tidak seperti yang lain.

Bu Oh : Karena itu layak dipertahankan apa adanya. Bangunan diperluas karena tidak terpengaruh. Itu karya seni. Dan Pimpinan sangat menyukainya.

Woo Shin : Begitu rupanya.

Bu Oh mau pergi tapi dihalangi Woo Shin.

Woo Shin : Omong-omong…

Bu Oh : Apa ada masalah aneh lagi?

Woo Shin : Ya. Kau mengikutiku sejak tadi.

Bu Oh : Aku? Kurasa kau salah.

Woo Shin : Bisakah kau mengatakan hal yang sama kepada Pimpinan?

Bu Oh terkejut.

Woo Shin : Apa Bu Kwon dalangnya?

Woo Shin membawa Bu Oh ke hadapan Kepala Pelayan Kwon.

Bu Oh minta maaf.

Kepala Pelayan Kwon pura2 memarahi Bu Oh.

Kepala Pelayan Kwon : Kau ingat, Bu Oh? Si bodoh yang ceroboh yang bahkan tidak bisa bekerja itu.

Kepala Pelayan Kwon mengeluarkan racun tikus dari dalam lacinya.

Melihat itu, Bu Oh langsung berlutut dan memohon maaf.

Woo Shin melihat racun tikus itu dan teringat kata-kata Tae Sung tentang flocoumafen yang ditemukan di tubuh pelayan yang dilarikan ke RS malam itu. Tae Sung bilang, itu racun tikus.

Kepala Pelayan Kwon beranjak ke kursinya dan menatap Woo Shin.

Kepala Pelayan Kwon : Ada yang ingin kau katakan?

Woo Shin : Aku tidak mengerti.

Kepala Pelayan Kwon : Apa yang tidak kau mengerti?

Woo Shin : Kenapa kau mengawasiku?

Kepala Pelayan Kwon : Aku hanya melakukan tugasku. Jika tidak ada yang kau sembunyikan, apa masalahnya?

Woo Shin : Bu Kwon…

Kepala Pelayan Kwon : Tadi, Pak Choi bilang kau bersikap mencurigakan di hutan. Aku tidak bisa diam saja.

Woo Shin : Aku sudah bicara dengan Pimpinan soal itu.

Kepala Pelayan Kwon : Astaga. Kau mungkin melunakkannya, tapi kau tak bisa melakukan hal yang sama denganku. Aku suka menguji situasi.

Woo Shin masuk dan beranjak ke depan Kepala Pelayan Kwon.

Woo Shin : Bu Kwon. Begini, aku ingin berhubungan baik denganmu. Tapi…

Kepala Pelayan Kwon : Tapi?

Woo Shin : Jika kau membuatku tidak nyaman, aku bisa menjadi sama agresifnya.

Kepala Pelayan Kwon : Apa itu ancaman?

Woo Shin : Tentu saja bukan. Aku meminta bantuanmu. Ketertarikanmu padaku cukup mengganggu.

Woo Shin beranjak keluar.

Kepala Pelayan Kwon menggerutu, bedebah sombong itu.

Bu Oh : Bu Kwon, aku…

Kepala Pelayan Kwon : Bawa Seketaris Yoon kemari.

Bu Oh : Baik, Bu.

Seketaris Yoon yang hendak pergi, berpapasan dengan Hye Soo.

Hye Soo : Kau mau pergi?

Seketaris Yoon mengangguk, lalu pergi.

Hye Soo : Dia pergi sendirian tanpa Pimpinan. Itu pasti perintah Bu Kwon.

Sekuriti Kim dan Sekuriti Park yang lagi berjalan2 diluar, melihat heli terbang.

Pimpinan Kwon pergi?

Kabag Jung melaporkan ke Kepala Tim Lee, kalau kampanye Haesong akan diadakan untuk mendukung hukuman mati pada akhir pekan ini.

Kabag Jung : Keluarga yang berduka telah direkrut dan kamera TV akan ada di sana.

Kepala Tim Lee : Baiklah, itu akan menjadi cerita yang bagus. Minta Kandidat Hwang berpidato.

Kabag Jung : Pahanya belum sepenuhnya…

Kepala Tim Lee gak peduli. Dia bilang, itulah yang harus dilalui Kandidat Hwang. Kandidat Hwang tidak bisa menjadi presiden secara gratis.

Kabag Jung mengerti.

Lalu Kabag Lee datang dengan tergesa-gesa.

Kepala Tim Lee : Hati-hati, jangan sampai tersandung. Ada apa?

Kabag Lee : Kita mendapat telepon dari luar.

Kepala Tim Lee : Telepon? Telepon dari luar hanya bisa berarti satu hal. Berapa nomor kasusnya?

Seorang pria menghubungi seseorang dari telepon umum. Kayaknya sih yang dihubungi Kepala Tim Lee.

Dan pria itu adalah saksi palsu di persidangan Pak Lee.

Saksi : Kau pernah memberitahuku. Bahwa jika terjadi sesuatu di masa depan, aku harus menelepon nomor registrasi pendudukku di sini. Bahwa aku bisa menghubungimu kapan saja.

Dan benar saja, yang dihubungi adalah kantornya Kepala Tim Lee.

Kepala Tim Lee bersama Kabag Jung dan Kabag Lee lagi menatap data2 saksi. Telepon saksi juga dilacak, jadi mereka tahu darimana saksi menelpon.

Saksi : Putra korban mengunjungiku hari ini. Aku berpura-pura tidak tahu dan dia pergi tanpa banyak bicara, tapi…

Terdengar suara operator yang menyuruhnya pulang. Operator juga bilang, permintaan saksi sudah diajukan.

Saksi : Tunggu, aku tidak melakukan kesalahan. Aku tidak tahu dia akan datang setelah selama ini. Kumohon, jangan ganggu aku atau keluargaku lagi.

Telepon terputus.

Saksi terduduk lemas. Dia ketakutan.

Saksi : Kumohon… Jangan ganggu keluargaku…

Kepala Tim Lee membaca data2 saksi.

Kepala Tim Lee : Saksi selalu menjadi masalah. Kim Won Joong saksi dalam kasus Lee Chang Woo. Istrinya sangat cantik.

Kabag Lee : Haruskah kita membuat skenario?

Kepala Tim Lee : Kita harus merespons sesuai aturan.

Kabah Lee : Baiklah.

Kabag Lee mau beranjak keluar, tapi dipanggil Kepala Tim Lee lagi.

Kepala Tim Lee : Joon Ho-ya, izinkan aku meminjam dasimu.

Kabag Lee langsung melepas dasinya.

Kepala Tim Lee memakai dasi Kabag Lee.

Kepala Tim Lee : Putra korban datang menemuinya. Sungguh putra yang berbakti. Sibuk mencari tahu penyebab kematian ayahnya. Tapi itu bisa membuatnya mati muda seperti ayahnya. Benar, ‘kan?

Soo Hyun yang tengah berjalan di koridor kantornya, memikirkan kemarahan Saksi Kim.

Saksi Kim : Astaga! Anggap saja aku berbohong tentang semuanya. Bagaimana dengan Lee Chang Woo? Dia mengaku telah membunuh ayah tirimu!

Soo Hyun : Makin kuselidiki, makin kacau. Jika dia dijebak, kenapa dia mengaku? Kenapa?

Soo Hyun kemudian dikejutkan dengan rekannya yang mendadak muncul dan menyapanya.

“Ternyata si anjing alfa, Jaksa Song Soo Hyun.”

“Sudah cukup, jadi, berhentilah menggodaku.”

“Aku hanya bersyukur.”

“Untuk apa?”

“Terima kasih. Aku diberi kasus ini karena kau menolaknya. Kasus Kangchun.”

“Selamat.”

“Aku bisa bergabung berkat kau. Apa aku akan dapat sekotak penuh uang pada liburan Chuseok mendatang?”

Mereka berhenti berjalan. Soo Hyun menatap rekannya.

“Dari Kandidat Hwang?”

“Ayolah, uangnya berasal dari pemodal.”

“Pemodal?”

“Kau tahu siapa yang mendukungnya.”

“Haesong?”

“Ya.”

“Astaga, kau sangat bangga membicarakan hal sekotor itu.”

Soo Hyun pergi. Rekannya kesal dan menyebutnya kurang ajar.

Kita ke Haesong Group.

Sedang ada upacara penghargaan pegawai terbaik.

Kwon Hyun Jo memberikan penghargaan kepada salah satu pegawainya.

Setelah itu, dia berpidato dengan tengah2 para tamu.

Hyun Jo : Semuanya, kalian pernah dengar ungkapan “ternak perusahaan”? Hewan piaraan disebut ternak. Dan pegawai kantor disebut ternak perusahaan karena mereka dibesarkan di perusahaan. Aku tidak setuju dengan frasa itu. Kalian bukan ternak perusahaan. Lantas apa identitas kalian? Kalian tamu. Tamu yang pantas diperlakukan dengan ramah. Biar kugunakan kesempatan ini untuk memperjelas satu hal. Mereka yang memaksa kalian setia dan memiliki rasa kepemilikan. Mereka semua penipu. Kalian bukan pemilik perusahaan, jadi, bagaimana bisa? Buang semua komentar itu ke tempat sampah. Kalian hanya perlu bekerja sesuai gaji. Ini artinya, kalian harus dibayar sebanyak kalian bekerja, dan jika itu tidak memuaskan, kalian bisa menyingkirkan perusahaannya. Kalian bekerja untuk Haesong, dan tugas para eksekutif adalah memastikan kalian bisa bekerja dengan nyaman. Tetaplah bersama Haesong untuk waktu yang lama. Aku akan melayani kalian sebagai tamu yang sah.

Kepala Tim Lee menatap Hyun Joo.

Sekarang, Hyun Jo di ruangannya bersama Kepala Tim Lee.

Dia tertawa, astaga. Menggali kasus pembunuhan ayahnya 22 tahun lalu! Bahkan acara TV akan dikritik karena memiliki cerita seperti itu. Ini berlebihan.

Kepala Tim Lee : Benar sekali.

Hyun Jo berhenti tertawa.

Hyun Jo : Jadi, putranya datang mengunjungi saksi? Kenapa mereka sangat menyedihkan? Terobsesi dengan masa lalu, mereka tidak bisa melupakannya. Itu sebabnya hidup mereka menyedihkan. Dukun Heukseok-dong menyuruhku berhati-hati. Ini masalahnya.

Hyun Jo lalu tanya, apa Kepala Tim Lee punya skenario.

Kepala Tim Lee memberikan skenarionya.

Dalam skenario itu, mereka akan membuat Saksi Kim dan istrinya, Im Ji Sook, hilang.

Hyun Jo : Ayah yang menyedihkan. Dia harus mewariskan hal seperti ini. Lumayan.

Kepala Tim Lee : Kalau begitu, haruskah kami melanjutkannya?

Hyun Jo menatap tajam Kepala Tim Lee.

Hyun Jo : Yang benar saja. Jika aku menyetujui, aku bersekongkol dalam pembunuhan. Urus itu hanya berdasarkan keputusanmu.

Kepala Tim Lee : Baik, Pak.

Sambil meninggalkan Grup Haesong, Kepala Tim Lee menghubungi Kabag Jung.

Kepala Tim Lee : Bersiaplah, Pak Jung. Kita akan bergerak malam ini.

Omo, Saksi Kim dalam bahaya!!!

Btw, sampai sini kalian udah bisa nebak siapa pembunuh Pak Song, ayah tiri si kembar?

Banyak yang bilang, pembunuhnya Pimpinan Kwon. Tapi penulis ngerasa, pembunuhnya adalah Hyun Jo. Dan Pimpinan Kwon mencoba melindungi Hyun Jo.

Min Jo, putra kedua Pimpinan Kwon, mungkin tahu hal ini.

Bersambung ke part 4…

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like
Read More

Red Shoes Ep 16 Part 1

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Red Shoes Episode 16 Part 1, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan…
Read More

Again My Life Ep 14

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Again My Life Episode 14, Cara menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Lihat…
Read More

Idol: The Coup Ep 8

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Idol: The Coup Episode 8, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang…