Drama Korea

Adamas Eps 15 Part 2

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Adamas Episode 15 Part 2, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Baca EPISODE SEBELUMNYA HERE

Sebelumnya…

Soo Hyun dan Woo Shin bicara di dalam mobil.

Soo Hyun : Seharusnya kau naik saja. Kenapa kau menyuruhku keluar?

Soo Hyun lalu tanya ada apa.

Woo Shin : Beberapa detektif mendatangiku.

Soo Hyun : Detektif?

Woo Shin : Mereka mencari Lee Chang Woo.

Soo Hyun : Benarkah? Cepat sekali.

Woo Shin : Karena tak akan mudah untuk kabur sendirian, mereka pikir ada yang membantunya. Ini sudah di luar kendali. Kuharap SIH tak akan bertanggung jawab atas semuanya. Cepatlah akhiri ini.

Soo Hyun : Itu juga yang kuinginkan, dan aku sedang mengusahakannya.

Woo Shin : Bagaimana dengan ini? Aku berencana membuat kesepakatan dengan Bu Eun. Dia bisa menyerahkan Ketua Tim Lee.

Soo Hyun : Itu tak berguna. Kesepakatan itu hanya berlaku setelah kita menemukan Adamas.

Woo Shin menatap Soo Hyun dengan wajah serius.

Woo Shin : Soo Hyun-ah.

Tak lama kemudian, Soo Hyun pun sadar Adamas sudah ditemukan.

Soo Hyun : Kau menemukannya?

Woo Shin : Kurasa begitu.

Soo Hyun : Kau rasa?

Woo Shin : Aku belum memeriksanya.

Soo Hyun : Seharusnya kau melakukan itu, alih-alih datang ke sini. Di mana tempatnya? Ayo.

Woo Shin : Soo Hyun-ah, figur yang dibelikan ayah. Di mana?

Soo Hyun heran Woo Shin tiba2 nanyain action-figure itu.

Soo Hyun : Apa maksudmu?

Woo Shin : Malam itu yang meninggalkannya di rumah kita bukan ayah. Tapi Lee Chang Woo. Adamas ada di dalam figur itu.

Sontak lah Soo Hyun kaget mendengarnya.

Soo Hyun pun turun dan beranjak ke bagasi mobilnya.

Dia membuka bagasinya dan melihat action-figure itu.

Woo Shin juga turun dari mobil dan melihat Soo Hyun.

Pak Lee keluar. Soo Hyun pun langsung mendekati Pak Lee.

Soo Hyun : Benarkah yang baru saja dikatakan Woo Shin kepadaku? Jawab aku!

Pak Lee mengangguk dan minta maaf.

Soo Hyun marah. Pak Lee minta Soo Hyun bersikap pura2 tidak tahu.

Pak Lee : Keadaan akan lebih berbahaya jika kabar ini tersebar.

Soo Hyun membanting action-figure nya.

Dan benar saja, Adamas ada di sana.

Soo Hyun marah, kau sudah gila! Bagaimana bisa kau memasukkan itu ke hadiah putramu? Andai Pimpinan Kwon tahu, kami semua akan mati. Ada di sini selama ini, tapi kau bilang menyembunyikannya?

Pak Lee : Aku tak bisa memberitahumu. Jika kuberi tahu, itu akan lebih membahayakanmu.

Soo Hyun : Kau yang menaruh benda berbahaya ini di sini. Kau membahayakan kami!

Pak Lee : Kukira tak akan ada yang tahu. Setelah menangkap Joon Kyung, aku berniat mengembalikannya.

Soo Hyun : Omong kosong. Kau bercanda?

Soo Hyun ingin memukul Pak Lee, tapi dihentikan Woo Shin.

Soo Hyun pun menjauhi Pak Lee dan kembali menatap Adamas yang berada di dalam mainannya.

Soo Hyun nyesek, ini konyol. Adamas yang menentukan siapa yang hidup dan yang mati ada di kamarku selama ini.

Soo Hyun kemudian bilang lebih baik seperti ini.

Soo Hyun : Aku merasa lega. Setelah tahu kau yang memberikan ini kepadaku, aku tak peduli lagi. Tak sedikit pun.

Soo Hyun menginjak2 mainannya lalu kembali ke dalam markas.

Woo Shin mendekati Pak Lee.

Woo Shin : Inikah sebabnya kau tak pernah memberi tahu siapa pun di mana Adamas?

Soo Hyun : Aku ingin dia mengingatnya sebagai hadiah terakhir dari ayahnya.

Woo Shin : Tidak. Kau seharusnya tak melakukan itu. Kau tahu kenapa aku memulai semua ini? Bukan karena keinginan terakhir ibu atau karena kau adalah ayah kandungku. Aku ingin menemukan pelaku yang sebenarnya di balik pembunuhan ayahku. Tapi sejujurnya, itu demi Soo Hyun. Dia selalu tersiksa oleh rasa bersalah. Dia percaya ayah kami meninggal karena dia. Dia pikir mendiang ayah kami memberinya figur itu. Meski miskin, dia berhasil membelikannya itu. Dia pergi ke sana malam itu untuk mengambil uangnya dan mati karena itu. Itulah yang diyakini Soo Hyun.

Flashback…

Soo Hyun masih mengelap mainannya setelah disuruh tidor oleh Woo Shin.

Soo Hyun lalu meyakinkan dirinya bahwa itu bukan kesalahannya.

Tapi kemudian dia menyalahkan action-figurenya.

Soo Hyun : Jika bukan karena kau, ayahku pasti tak akan…

Tapi kembali lagi dia menyalahkan dirinya sendiri.

Soo Hyun : Tidak. Jika bukan karena aku… Jika bukan karena aku, ayahku pasti tak akan… Dia pasti tak akan… Itu semua karena aku.

Woo Shin yang mendengar itu, nangis.

Flashback end…

Woo Shin : Soo Hyun menghukum dirinya sendiri. Dia tak mengingat kenangan indah yang dia miliki dengan ayah kami. Dia hanya menyalahkan dirinya atas segalanya. Dia meyakinkan dirinya berkali-kali. Tapi sebenarnya kau yang meninggalkannya di rumah kami?

Pak Lee : Akulah yang merusak segalanya.

Woo Shin : Kau benar. Itu kau. Sebagian diriku lega Soo Hyun tak akan menyalahkan dirinya lagi. Tapi hanya itu kabar baiknya. Dia akan tetap menderita karena membencimu selamanya.

Soo Hyun menenangkan dirinya sejenak.

Dia menyeka air matanya.

Setelah tenang, dia pun masuk dan memberitahu SIH kalau dia tahu cara memancing Tim A keluar.

Tae Sung : Bagaimana caranya?

Soo Hyun : Kita akan membuat kesepakatan dengan Eun Hye Soo. Kita akan memintanya menyerahkan Lee. Aku menemukan Adamas yang asli.

SIH kaget.

Sun memberitahu Hyun Jo kalau Ketua Tim Lee masih hidup.

Hyun Jo kaget, kau yakin?

Sun : Sudah kubilang. Pak Lee masih hidup.

Hyun Jo : Bagaimana bisa? Dia…

Sun : Itukah yang membuatmu penasaran? Kau tak penasaran siapa yang menyelamatkannya? Eun Hye Soo.

Hyun Jo makin kaget mendengarnya.

Sun : Jadi, apa perintah selanjutnya?

Hyun Jo : Bunuh mereka.

Di kamarnya, Hye Soo tengah bersiap untuk pemakaman Pimpinan Kwon. Sepertinya itu kamar motel.

Setelah siap, Hye Soo pergi.

Hye Soo tiba di ruang duka. Seketaris Yoon langsung menatapnya penuh kebencian.

Hye Soo menyuruh petugas pemakaman menyingkirkan semua karangan bunga duka.

Hye Soo : Kami bilang ingin pemakaman kecil. Mengikuti keinginan mendiang. Buat yang sederhana. Pemakaman yang paling sederhana.

Hye Soo memberikan penghormatan terakhirnya.

Hye Soo menatap foto Pimpinan Kwon.

Hye Soo : Kau pasti senang karena akhirnya bertemu kembali dengan Min Jo. Aku berusaha memahamimu dan percaya bahwa pemilik Haesong tak punya pilihan selain bertanggung jawab atas kematian orang lain. Akhirnya kita terasa seperti keluarga. Selamat jalan, ayah mertua.

Hye Soo lalu menerima sebuah telepon.

Woo Shin menunggu Hye Soo di parkiran. Dia di ruang duka. Tak lama, Hye Soo datang.

Hye Soo : Berani sekali kau datang jauh-jauh kemari.

Woo Shin : Mereka bilang dia meninggal karena penyakit kronis, meski tertembak. Kau sudah menjadi pemilik baru Haesong? Kau sudah belajar cara mengubur kebenaran.

Hye Soo : Aku tak mempelajarinya. Itu insting.

Woo Shin : Aku tak tahu kau punya insting seperti itu.

Hye Soo : Insting itu membuatku memenuhi syarat untuk menjadi pimpinan berikutnya.

Woo Shin : Memenuhi syarat? Rasanya seperti bicara dengan Pimpinan Kwon.

Hye Soo : Kuanggap itu pujian. Jadi, kenapa kau ingin menemuiku? Untuk apa pertemuan rahasia ini?

Woo Shin : Mari membuat kesepakatan. Serahkan Ketua Tim Lee. Aku menemukan Adamas yang asli.

Mata Hye Soo langsung berbinar mendengar itu.

Hye Soo : Benarkah?

Woo Shin : Apa aku terlihat seperti berbohong?

Hye Soo : Kupikir mungkin kau menginginkannya untuk dirimu sendiri. Sama seperti Pak Lee, ayahmu, dan semua orang yang menginginkannya.

Woo Shin : Sama sekali tidak. Aku hanya ingin menemukan Adamas, penyebab semuanya. Karena sudah kutemukan, aku harus menangkap dan menghukum Ketua Tim Lee, pembunuh yang sebenarnya.

Hye Soo : Aku percaya kepadamu. Tapi aku punya satu pertanyaan. Jika kuserahkan dia, apa kau bisa menangkapnya? Kau yakin?

Woo Shin : Serahkanlah kepadaku.

Hye Soo : SIH? Baiklah, kalau begitu. Beri aku waktu dan tempatnya.

Woo Shin : :Besok pukul 15.00. Ruang sembilan di aula pemakaman.

Woo Shin membuka pintu mobilnya. Hye Soo melihat tangan Woo Shin yang terluka.

Hye Soo : Apa yang terjadi pada tanganmu?

Woo Shin : Itu bukan urusanmu.

Woo Shin masuk ke mobilnya dan beranjak pergi.

Tapi…. Hye Soo berkhianat.

Hye Soo : Selamat tinggal, Pak Ha.

Hye Soo lalu menghubungi Ketua Tim Lee.

Hye Soo : Aku tak menduga akan membantumu secepat ini.

Ketua Tim Lee : Kesepakatan?

Hye Soo : Dengan Pak Ha. Aku setuju untuk menyerahkanmu dan mendapatkan Adamas.

Ketua Tim Lee : Aku? Menyerahkanku? Kau jujur sekali. Apa yang kau rencanakan?

Hye Soo : Ini kesempatan kita untuk menyingkirkan SIH. Dan Song Soo Hyun mungkin ada di sana. Aku sudah menepati janjiku.

Hye Soo memutus panggilannya.

Ketua Tim Lee senang, Song Soo Hyun.

Dia tak sabar mau membalas dendam atas kematian adiknya.

Anggota SIH lagi menatap Adamas. “Jadi ini semua karena itu. Ini memang terlihat luar biasa.”

Tae Sung menyuruh mereka berhenti menatap Adamas.

Tapi SIH kemudian ragu Hye Soo akan bekerja sama dengan mereka.

Tae Sung : Kita harus mencobanya. Akhirnya kita akan mengakhiri semuanya. Ini akan dimulai dan diakhiri dengan Adamas.

Woo Shin kembali markas SIH. Tapi dia hanya di bawah, menunggu Soo Hyun. Tak lama, Soo Hyun datang.

Soo Hyun : Woo Shin-ah, kau sudah bertemu Eun Hye Soo?

Woo Shin : Ya. Aku memberitahunya waktu dan tempatnya.

Soo Hyun : Bagus. Hatiku terasa berat karena melibatkanmu dalam hal ini.

Woo Shin : Tak perlu. Lagi pula, aku yang memulai semua ini. Jadi, sudah sepantasnya aku menyelesaikannya.

Soo Hyun : Bagaimana kita bisa terlibat dalam kekacauan ini?

Soo Hyun menghela nafas.

Woo Shin menatap Soo Hyun, Soo Hyun-ah, kau baik-baik saja?

Soo Hyun menatap Woo Shin, apa maksudmu?

Soo Hyun : Tidak, aku tak baik-baik saja. Aku merasa dilukai, dan itu membuatku gila. Aku menyalahkan diriku setiap hari sejak ayah meninggal. Tapi aku sudah dibebaskan. Jangan mengkhawatirkan kakakmu. Itu bukan tugasmu.

Woo Shin : Soo Hyun-ah, Lee Chang Woo…

Soo Hyun : Jangan sebut dia ayah kandung kita. Aku hanya kenal satu ayah. Setelah ini berakhir, aku akan menyelidiki semua yang berkaitan dengannya. Dia harus membayar kejahatannya.

Pak Lee keluar dan mendengar semua itu.

Woo Shin : Kuharap kau tak melakukan itu.

Soo Hyun : Dia harus membayarnya.

Woo Shin : Aku setuju, tapi kau tak boleh terlibat.

Soo Hyun : Tidak, aku akan menghukumnya.

Woo Shin : Aku tak akan menghentikanmu jika kau melakukan ini sebagai jaksa. Tapi aku tahu kau melakukan ini sebagai putranya.

Soo Hyun : Putranya? Aku? Apa kau gila?

Woo Shin : Kau hanya ingin menghukumnya karena merasa bersalah kepada para korban. Karena kau menganggapnya ayah kandungmu.

Soo Hyun : Tidak. Tak akan pernah.

Woo Shin : Tapi kau pasti menganggapnya ayah kandungmu, melihatmu bertindak sebagai mediator. Soo Hyun-ah.

Soo Hyun : Hentikan. Ini sudah menjengkelkan. Aku tak percaya dia ayahku. Meskipun aku menyangkalnya, aku tetap putranya. Kenapa dia harus muncul sekarang dalam kondisi seperti itu? Kenapa dia tak hidup lebih baik? Aku tak akan pernah memaafkannya.

Woo Shin : Kau tak perlu memaafkannya. Kau bisa membencinya. Kau dapat melakukannya.

Soo Hyun : Kuharap kau tak menderita terlalu lama tak sepertiku.

Soo Hyun nangis.

Woo Shin pun mendekati Soo Hyun. Dia meletakkan tangannya di dada Soo Hyun. Woo Shin juga nangis.

Soo Hyun menggenggam tangan Woo Shin.

Woo Shin langsung bilang sakit.

Soo Hyun tertawa, tapi kemudian nangis lagi.

Pak Lee kembali ke atas. Dia bicara dengan Tae Sung.

Tae Sung : Kau serius?

Woo Shin sudah di rumahnya sekarang.

Dia membuka perban di tangannya.

Woo Shin lalu terdiam memikirkan Soo Hyun.

SIH tengah bersiap. Mereka memeriksa peluru mereka.

Pak Lee diam saja. Salah satu Anggota SIH melihat Pak Lee. Lalu dia memberikan pistol kepada Pak Lee.

Soo Hyun dan Tae Sung bicara diluar.

Tae Sung : Dia ingin kita memanfaatkannya untuk misi ini.

Soo Hyun : Itu yang dikatakan Lee Chang Woo?

Tae Sung : Dia ingin membantu. Bagaimana menurutmu?

Soo Hyun : Tentu. Aku juga mempertimbangkan itu. Pertarungan antara Tim A yang sebelumnya dan yang sekarang.

Tae Sung : Kau akan baik-baik saja?

Soo Hyun : Tentu saja. Tapi sebelumnya, aku butuh bantuanmu. Jika ingin menangkap mereka semua, kita butuh semua agen berkumpul di aula pemakaman. Dalam hal ini, Ketua Tim Lee harus tahu bahwa kita membuat jebakan.

Tae Sung : Kau ingin mengungkapkan rencana kita kepada mereka? “Tim penyusup yang dibubarkan bersenjata lengkap untuk menangkap Ketua Tim Lee.”Begitu SIH mendengar ini, para mata-matanya akan bergerak.

Soo Hyun : Kita harus membuka semua kartu kita agar Tim A bisa bertindak.

Kabag. Jung menerima telepon dari seseorang.

Kabag. Jung : Baiklah. Kau yakin? Baik. Baiklah. Aku mengerti.

Kabag. Jung menemui Ketua Tim Lee.

Kabag. Jung : Pak, aku baru mendapat informasi. SIH akan bertindak besok.

Ketua Tim Lee : Mereka pasti serius. Panggil semua anak buah.

Kabag. Jung : Semuanya?

Ketua Tim Lee : Kenapa? Kau tak bisa melakukan itu?

Kabag. Jung : Tidak, Pak. Aku akan mengurusnya.

Bersambung ke part 3….

Rahmi Iza