Drama Korea

Adamas Eps 12 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Adamas Episode 12 Part 3, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Baca EPISODE SEBELUMNYA HERE

Sebelumnya….

Pak Kang makin stress setelah diberitahu anggotanya kalau komponen dan metode pembuatan bom cocok dengan milik SIH.

Kabag. Jung menyupiri Ketua Tim Lee, sambil mendengarkan berita di radio.

“Polisi telah memulai penyelidikan mereka, dan mereka diharapkan menyelesaikan pertanyaan tentang apakah ada dalang di balik pelaku seperti klaim Capres Hwang. Komite Survei Pemilihan Partai Masa Depan Baru menuntut penyelidikan polisi yang ketat, mendebat bahwa ini adalah serangan sistematis terhadap capres kuat. Tapi polisi telah memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan tidak biasa karena sejauh ini hanya kecurigaan.”

Tak lama, mereka tiba di tempat tujuan. Kabag. Jung membangunkan Ketua Tim Lee. Dia bilang, mereka udah sampai.

Kabag. Jung : Mau kuantar?

Ketua Tim Lee : Tidak, tunggu di sini.

Ketua Tim Lee masuk ke restoran. Ada papan bertuliskan ‘CLOSE’ yang tergantung di gagang pintu.

Sun sudah menunggu di dalam, sambil makan steik.

Sun : Kau terlambat lagi.

Ketua Tim Lee : Jalannya macet sekali.

Sun : Kau mau makan apa?

Ketua Tim Lee : Silakan makan yang banyak.

Sun : Tapi steiknya enak.

Ketua Tim Lee : Apa kata Pimpinan?

Sun menuangkan wine ke gelas Ketua Tim Lee. Dia tak menjawab pertanyaan Ketua Tim Lee.

Ketua Tim Lee : Kau mencoba menghemat napas atau menyembunyikan sesuatu dariku? Bagaimanapun, itu membuang-buang waktu.

Sun : Hati-hati. Sepertinya kau kehilangan dukungannya.

Ketua Tim Lee : Jadi, bukan yang terburuk, ya?

Ketua Tim Lee minum wine nya.

Sun melihatnya, sudah kubilang hati-hati.

Ketua Tim Lee, apa?

Lalu Ketua Tim Lee melirik wine yang tadi diminumnya. Tak lama kemudian, tenggorokannya tercekat.

Sun : Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau terlalu ceroboh.

Ketua Tim Lee : Dasar berengsek… Sial…

Ketua Tim Lee sambil memegangi tenggorokannya.

Sun mengikuti Ketua Tim Lee.

Kabag. Jung masih menunggu di mobil. Dia membaca pesan Hyun Jo, Hyun Jo mengajak ketemuan besok jam sebelas. Tak lama, Ketua Tim Lee muncul di jendela. Lalu dia jatuh.

Sun ke bagian belakang mobil.

Kabag. Jung turun dan memapah Ketua Tim Lee.

Sun membuka bagasi. Kabag. Jung memasukkan Ketua Tim Lee ke bagasi.

Ketua Tim Lee maarah tapi tak bisa apa-apa.

Woo Shin termenung melihat hadiah Kapten Maverick C Soo Hyun. Dia teringat masa lalu.

Flashback….

Soo Hyun mendapati mainan itu di depan pintu.

Soo Hyun : Hadiah Hari Anak untukku dari ayah.

Nyonya Ha : Konyol sekali dia. Di mana dia?

Soo Hyun membuka pintu tapi tak menemukan ayahnya.

Soo Hyun : Entahlah. Aku menemukan ini di lantai. Aku yakin dia pergi bekerja.

Woo Shin di depan pintu kamar, menurutmu bagaimana lagi dia mendapatkan mainan mahal itu? Kita tidak kaya.

Flashback end…

Soo Hyun pulang dan melihat Woo Shin.

Soo Hyun : Hei.

Woo Shin : Kau terlambat. Kenapa kau sendirian? Apa SIH tidak memberimu siapa pun?

Soo Hyun : Itu hanya akan mengganggu. Bagaimana denganmu? Tidak apa-apakah sendirian?

Woo Shin : Pimpinan Kwon bilang dia tidak akan membunuhku.

Soo Hyun : Lantas, apa dia bilang akan membunuhku?

Woo Shin terdiam. Dari ekspresi Woo Shin, dia tahu dia benar.

Soo Hyun : Rupanya dia bilang begitu. Baiklah, biarkan dia melakukan keinginannya.

Woo Shin : Bagaimana keadaan Nona Kim?

Soo Hyun : Dia akan segera dibawa ke kantor polisi. Dia mungkin lebih aman di sana untuk saat ini.

Woo Shin : Bagaimana denganmu?

Woo Shin memberikan Soo Hyun flashdisk.

Soo Hyun mengambilnya, baik. SIH akan menggunakannya dengan baik.

Soo Hyun lalu duduk di depan Woo Shin.

Soo Hyun : Omong-omong… aku ingin bertanya. Kau mengincar sidang ulang sejak awal, ‘kan? Bukan menangkap pelaku yang asli. Kenapa?

Woo Shin : Karena Lee Chang Woo tidak bersalah.

Soo Hyun : Lalu kenapa? Dia bersalah atau tidak, bukan urusanmu.

Woo Shin : Mencari tahu siapa pembunuh ayah harus diutamakan.

Soo Hyun : Apa pentingnya mencuri Adamas untuk sidang ulang? Kini Adamas hancur, jadi, senjata pembunuhannya tak ada lagi. Bagaimana sidang ulangnya?

Woo Shin terdiam.

Soo Hyun : Ada apa? Apa yang tidak kuketahui? Apa yang kau sembunyikan dariku?

Woo Shin masih diam.

Soo Hyun : Hei.

Woo Shin : Soo Hyun-ah, tentang ayah kandung kita…

Soo Hyun : Ayah kandung kita?

Woo Shin : Dia adalah…

Tak lama kemudian, Soo Hyun pun sadar siapa ayah kandung mereka.

Kepala Pelayan Kwon tak bisa tidur di selnya. Dia memikirkan kata2 polisi tadi kalau pernyatannya tak bisa dipercaya.

“Itu hanya asumsi, bukan fakta.”

Kepala Pelayan Kwon marah, ibu akan membalaskan dendammu, Nak. Ibu pasti akan membalas dendam untukmu.

Polisi memukul pintu sel. Dia memberitahu ada tamu untuk Kepala Pelayan Kwon.

Kepala Pelayan Kwon diantar ke ruangan Kepala Polisi. Ternyata tamunya Hye Soo.

Kepala Pelayan Kwon : Aku penasaran apa yang kau rencanakan, datang menemuiku selarut ini. Bicaralah.

Hye Soo : Bu Kwon.

Kepala Pelayan Kwon : Jangan perlakukan aku seperti pelayanmu! Itu membuatku merinding. Aku bukan pelayanmu lagi.

Hye Soo : Kau akan mengakhirinya seperti ini? Setelah semua perbuatanmu di upacara itu, kau akan menyerah begitu saja? Kwon Jae Kyu. Pikirkan perbuatannya kepada putramu.

Kepala Pelayan Kwon : Jangan berani-berani membicarakan putraku. Kau tidak tahu apa-apa!

Hye Soo : Dia tidak mati otak. Putramu masih hidup saat itu. Dia membuatnya terlihat seolah putramu mati otak dan mengambil…

Kepala Pelayan Kwon : Diam.

Hye Soo : Dia mengambil jantung manusia yang masih hidup dan bernapas.

Kepala Pelayan Kwon : Kubilang diam. Diam!

Kepala Pelayan Kwon nangis.

Hye Soo : Tolong aku. Kau tahu segalanya tentang Pimpinan Kwon. Katakan apa yang harus kulakukan. Pimpinan Kwon dan Haesong, akan kuhancurkan mereka untukmu.

Kepala Pelayan Kwon kaget mendengarnya.

Siangnya, Hye Soo menemui Pimpinan Kwon. Dia memberikan secarik kertas pada Pimpinan Kwon.

Hye Soo : Ayahku jarang minum, tapi dia pernah sangat mabuk. Dia sangat senang akhirnya menjadi salah satu orangmu. Saat itu, dia bilang kau menawarinya hadiah untuk menandai peristiwa itu. Dan kau butuh nama darinya.

Pimpinan Kwon : Dia seharusnya tidak memberitahumu.

Hye Soo : Aku tidak pernah memanggilmu ayah. Tapi jika aku menjadi salah satu orangmu, mungkin aku bisa melakukannya.

Pimpinan Kwon : Benarkah? Jika itu yang kau katakan…

Pimpinan Kwon membaca tulisan di kertas itu.

Dia kaget, kau serius?

Hye Soo : Ya, karena dia membunuh Min Jo.

Di kertas itu tertulis nama Hyun Jo.

Hye Soo : Maukah kau menerimanya?

Pimpinan Kwon : Sudah terlambat. Hyun Jo sudah membayarnya.

Kabag. Jung menemui Hyun Jo di hotel.

Hyun Jo : Kau bersenang-senang dengan Eun Hye Soo?

Kabag Jung kaget, apa?

Hyun Jo : Selama ini kau mata-matanya, membocorkan informasi perusahaan. Harus kuakui, kau ternyata pintar. Kau harus bolak-balik dan melihat siapa yang lebih baik. Benar, ‘kan? Aku melihat Yoon Sun di Haesongwon. Dia mendapat perintah untuk menghabisi Pak Lee? Apa dia akan membunuhnya?

Kabag. Jung : Ya, dia sudah diurus.

Hyun Jo kaget mendengarnya.

Pimpinan Kwon bilang, Hyun Jo sudah dihukum.

Pimpinan Kwon : Untuk melihatmu seumur hidupnya dan mengingat Min Jo. Apa lagi yang bisa kulakukan? Dia satu-satunya pewaris Haesong.

Hye Soo kesal, beri tahu aku saat kau merindukan Min Jo. Aku sendiri yang akan mengirimmu kepadanya.

Hye Soo beranjak ke pintu. Pimpinan Kwon memanggil Hye Soo.

Pimpinan Kwon : Bukan begitu cara bernegosiasi dengan seseorang. Kau ingin menjadi salah satu orangku? Jika menginginkan sesuatu, kau harus menawarkan apa yang diinginkan orang lain. Begitulah cara membuat kesepakatan.

Hye Soo mendekati Pimpinan Kwon.

Hye Soo : Apa maumu?

Pimpinan Kwon : Apa yang bisa kau tawarkan?

Hye Soo paham, akan kuberikan yang kau inginkan.

Polisi menginterogasi Seo Hee.

Polisi : Apa hubunganmu dengan Capres Hwang?

Seo Hee kesal : Sudah kubilang. Aku tidak dendam kepada Hwang Byung Chul.

Polisi : Artikel lamamu mengatakan sebaliknya. Semuanya penuh dengan kebencian. Dan Capres Hwang menuntutmu sekali setiap tiga bulan.

Seo Hee : Itu karena dia terlalu kotor. Dengar. Aku diculik.

Polisi : Kau diculik?

Seo Hee : Ya. Mereka merencanakan insiden ini untuk mengaitkanku dengan Hwang Byung Chul.

Polisi : Begitu rupanya. Lantas, apa tujuannya?

Seo Hee : Lee Chang Woo, pencuri terkenal itu. Aku saksi satu-satunya pembunuhan yang dia lakukan. Aku terus menggali kasus itu, dan mereka melakukan ini kepadaku. Untuk membungkamku.

Polisi : Sehebat apa orang-orang itu hingga merencanakan serangan pengeboman? Itu tidak masuk akal.

Seo Hee : Grup Haesong. Pimpinan Kwon Jae Kyu. Apa itu masuk akal sekarang?

Polisi : Baiklah, tapi kenapa kau pergi ke SIH?

Seo Hee : Karena penculikku membuatku pergi ke sana.

Polisi : Kang Hyuk Pil. Kau tidak mengenalnya?

Seo Hee : Tidak. Tapi ini akan butuh waktu lama, ‘kan? Mari makan dahulu. Aku pesan galbitang.

Polisi tertawa kesal, astaga.

Seo Hee : Aku pesan ukuran ekstra besar.

Pak Kang menghubungi Soo Hyun.

Soo Hyun sendiri lagi di perjalanan.

Pak Kang : Kau benar, Jaksa Song. Mereka meniru komponen inti kami. Jika ini diketahui publik, situasinya tak akan terkendali.

Soo Hyun : Kita sudah menduganya. Yang mereka inginkan adalah perang besar-besaran dengan mempertaruhkan segalanya. Aku siap untuk itu. Bagaimana denganmu?

Pak Kang memutuskan panggilannya. Dia memikirkan kata2 Soo Hyun.

Pak Kang : Dengan mempertaruhkan segalanya?

Soo Hyun menemui Kepala Yang.

Kepala Yang sewot, akhirnya kau datang bekerja. Kukira kau membelot ke Korea Utara, alih-alih cuti sakit.

Soo Hyun : Ayolah, Pak. Haruskah kau menyambutku kembali dengan cara yang payah?

Kepala Yang : Keluar dan lakukan saja pekerjaanmu, Berandal. Jaksa Han diturunkan ke kantor wilayah Chuncheon, jadi, kasus Kangchun kehilangan arahnya. Kau harus mengambil alih.

Soo Hyun : Aku tidak tertarik dengan kasus yang pernah menjadi milik orang lain. Memangnya aku pengemis? Bantu aku dengan ini.

Soo Hyun membersihkan kertas pada Kepala Yang.

Lalu dia beranjak ke pintu.

Kepala Yang : Hei!

Soo Hyun : Makin cepat, makin baik.

Hye Soo menemui Woo Shin. Dong Rim tanya, haruskah ia menyajikan kopi untuk tamu mereka.

Hye Soo dan Woo Shin diam saja sambil terus bertatapan.

Dong Rim : Mau minum apa… Kau tidak mau?

Dong Rim lalu paham dan beranjak keluar.

Woo Shin : Haesong pasti mengawasimu.

Hye Soo : Sudah terlambat untuk bermain aman. Aku tidak takut mati.

Woo Shin : Apa maumu?

Hye Soo : Pimpinan Kwon membiarkanmu hidup karena suatu alasan, ‘kan? Apa alasannya?

Woo Shin : Itu tidak ada hubungannya denganmu, Bu Eun.

Hye Soo : Ada hubungannya denganku sekarang. Dia ingin kau menemukan Adamas yang asli?

Melihat Woo Shin terkejut, Hye Soo tahu dia benar.

Hye Soo : Rupanya benar. Kau tahu kenapa Pimpinan Kwon mencari Adamas? Dia pikir pemilik Haesong harus memilikinya. Sungguh ide yang kuno. Seolah itu mahkota atau segel kerajaan. Bukankah itu konyol?

Woo Shin : Apa maksudmu?

Hye Soo : Adamas. Berikan padaku. Pimpinan Kwon bilang jika kita ingin bernegosiasi, kita harus menawarkan apa yang mereka inginkan.

Woo Shin : Jadi, kau berencana menyerahkan Adamas kepadanya?

Hye Soo : Tidak. Kau penasaran? Bagaimana menurutmu? Kau tertarik? Aku akan memberikan keinginanmu.

Woo Shin : Keinginanku?

Hye Soo : Lee Chang Woo. Kau tidak ingin menyelamatkannya? Berikan padaku.

Bersambung ke part 4…

Rahmi Iza