Adamas Eps 10 Part 4

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Adamas Episode 10 Part 4, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Baca EPISODE SEBELUMNYA HERE

Sebelumnya….

Kabag. Jung kesal. Dia terpaksa keluar karena mendengar teriakan Seo Hee. Kabag. Jung ke ruang penyiksaan.

Sun lagi menyeruput minumannya, tangannya yang berlumur darah memegang stick golf. Seo Hee sudah lemas. Dia diikat di kursi dan disiksa.

Kabag. Jung datang : Tenanglah, atau setidaknya bungkam dia.

Sun mendekati Kabag. Jung, kenapa? Aku suka mendengarnya.

Kabag. Jung : Dasar anak gila.

Kabag. Jung mau pergi tapi dia berbalik lagi menatap Sun karena Sun manggil dia ‘Hei, Jung-ah.”

Dia marah, tunjukkan rasa hormat, atau kau akan diberi pelajaran.

Sun : Pak Lee pergi menemui Pak Kwon. Bersama Pak Cha. Di antara kita saja, siapa yang akan diberi pelajaran lebih dahulu?

Kabag. Jung : Jebakanmu itu akan menghancurkan hidupmu. Aku jamin itu.

Kabag. Jung pergi.

Sun mengambil staples dan menyiksa Seo Hee.

Seo Hee : Hentikan. Aku tak tahu apa pun tentang SIH.

Sun : Kau tak tahu?

Seo Hee : Tidak.

Sun : Dengarkan baik-baik. Ini penting. Kita akan meledakkan SIH dengan bom. Kau bisa, ‘kan? Kau akan membawa bom.

Seo Hee : Aku tidak mau.

Sun : Mau bertaruh?

Pak Kang masih bersama dua anak buahnya, dia yakin Seo Hee akan dibawa hidup2 oleh Tim A karena suatu alasan.

Pak Kang : Mereka merencanakan sesuatu.

Anak buahnya tanya, apa mereka harus membentuk satgas.

Pak Kang : Tidak, mari tetap pada rencana kita. Upacaranya sebentar lagi.

H-3

Sun melihat foto si kembar di laptopnya.

SIH sedang rapat. Membahas rencana mereka. Sebelum Adamas dipindahkan ke aula upacara…

H-2

Woo Shin makan malam dengan Tae Sung.

Kepala Pelayan Kwon memperhatikan mereka.

Lalu Tae Sung berdiri di hutan, dan menembak.

Hye Soo melamun di kamarnya.

H-1

Hyun Jo lagi latihan pidato untuk upacara ultah Haesong.

Para pelayan menyiapkan segala sesuatu untuk ultah Haesong.

Seo Hee terkapar di lantai.

Dia terluka parah.

Tepat di Hari-H, Soo Hyun siuman.

Woo Shin melihat para pekerja tengah menyiapkan kembang api.

Soo Hyun berdebat dengan Pak Kang.

Soo Hyun : Kau butuh tiga harihanya untuk menyimpulkan itu? Bahwa kau tak bisa menemukan Kim Seo Hee kecuali mereka bertindak? Itukah alasanmu duduk dan menunggu? Kau harus menemukan Pak Lee. Seharusnya kau menggerebek kantor pusat Haesong!

Pak Kang : Operasi kita berlangsung hari ini. Kita harus mengamankan Adamas. Pak Ha akan ditangkap. Sementara semua orang mengawasi agar Pimpinan Kwon tak bisa melakukan apa pun. Adamas akan menjadi bukti. Begitu kita mengungkap bahwa itu digunakan untuk pembunuhan, surat penangkapan akan dikeluarkan. Pak Ha menyetujui ini.

Soo Hyun : Bagaimana dengan Kim Seo Hee? Apa dia setuju? Bahwa kau harus menangkap Pimpinan Kwon baik dia akan mati atau tidak? Bagaimana dengan Nona Lee? Bagaimana dengan Pak Baek?

Pak Kang : Hei, Song. Aku tidak meminta persetujuanmu. Aku memperingatkanmu agar tidak mengacau dengan mencampuri operasi kami, Berengsek. Rasa keadilan yang kau cari. Rasa balas dendam. Itu tidak cukup untuk menangkap Kwon Jae Kyu.

Soo Hyun : Baiklah. Baik. Mari kita berpisah. Kau tidak peduli soal menyelamatkan orang. Dan aku menolak mempertaruhkan nyawaku untuk rencana konyolmu. Lagi pula, kau tidak punya alasan lagi untuk mempertahankanku.

Soo Hyun mencabut selang infusnya dan beranjak pergi.

Pak Kang kesal, sial!

Soo Hyun menghubungi rekannya sambil beranjak keluar rumah.

“Desainer Patti Jang?” tanya rekannya.

“Kasus bunuh dirinya dan kasus lain yang kusebutkan tadi. Kumpulkan semua materinya untukku. Aku dalam perjalanan ke kantor. Sampai jumpa.” jawab Soo Hyun.

Soo Hyun membuka gerbang dan menuju mobilnya. Tapi dia melihat ada undangan di kaca mobilnya.

Soo Hyun membukanya. Dia terkejut, itu undangan ultah Haesong.

Satu per satu tamu Haesong mulai datang. Hanya mereka yang membawa undangan yang bisa datang.

Kepala Pelayan Kwon dan Bu Oh menunggu di depan pintu.

Satu tamu datang.

Kepala Pelayan Kwon : Selamat datang, Capres Noh.

Capres Noh : Lama tidak bertemu, Bu Kwon. Kau tidak datang ke upacara pencalonanku.

Kepala Pelayan Kwon : Benar, sudah lama. Tapi aku selalu tahu kabarmu. Kau menerima peringkat persetujuan tertinggi.

Capres Noh : Berkat kau. Tapi Capres Hwang mengejar tepat di belakangku. Aku jadi tidak enak. Entah apa dia mendapat dukungan Pimpinan.

Kepala Pelayan Kwon : Tentu saja tidak. Jika begitu, Hwang pasti ada di sini. Jangan khawatir dan masuklah.

Capres Noh masuk.

Bu Oh mendekati Kepala Pelayan Kwon : Bu Kwon bahkan mengundang media. Apakah akan baik-baik saja, Bu?

Kepala Pelayan Kwon : Ya, kita harus menyebarkan berita ini ke mana-mana. Acara bahagia seperti ini tidak akan datang lagi.

Woo Shin sudah hampir siap. Dia berdiri di depan kaca dan mengancing lengannya.

Dong Rim melihatnya, Pak Ha, kau lihat? Stasiun penyiaran juga ada di sini.

Woo Shin : Sungguh suatu kehormatan. Bayangan aku ditangkap akan disiarkan secara nasional. Berkat itu, Haesong takkan punya alasan untuk menentang bahkan jika Adamas diambil sebagai bukti.

Dong Rim : Kau benar soal itu, tapi benarkah tidak apa-apa?

Woo Shin : Ya, sudah kubilang.

Dong Rim : Aku membicarakan diriku sendiri. Apa aku bisa melakukannya?

Woo Shin : Jadilah dirimu sendiri.

Dong Rim kemudian berjalan, tapi dia mendadak tersandung.

Woo Shin : Mungkin tampak mudah, tapi tersandung secara alami tidak…

Dong Rim : Ini tidak mudah. Astaga, sakit.

Woo Shin : Tapi kau melakukannya setiap hari. Aku tahu kau bisa. Dong Rim-ah, maaf aku menyeretmu ke dalam masalah ini.

Dong Rim : Ini sebabnya aku selalu bilang tidak ada murid sepertiku. Kita seperti garam dan lada.

Para tamu sedang menikmati hidangan di pesta Haesong.

Woo Shin datang dan melihat memoar Pimpinan Kwon yang dipajang di dekat pintu. Memoar itu diberi judul ‘My Path’.

Hyun Jo yang tengah bicara dengan salah satu tamu, melihat Woo Shin.

Dia pun mendekati Woo Shin.

Hyun Jo : Bukankah itu kuno? Istilah halusnya, itu klasik. Apa kau penulis bayangan itu?

Woo Shin : Ya, aku Ha Woo Shin. Siapa kau?

Hyun Jo : Kau tidak mengenalku?

Woo Shin : Apa aku harus mengenalmu?

Hyun Jo kesal dengan jawaban Woo Shin.

Hye Soo datang, kalian sudah bertemu. Biar kuperkenalkan. Ini…

Hyun Jo : Aku suaminya.

Woo Shin : Kau Presdir Kwon Hyun Jo. Aku banyak mendengar tentangmu.

Hyun Jo : Benarkah? Aku ingin tahu apa yang kau dengar.

Hye Soo : Faktanya. Dia mewawancaraiku untuk memoar itu.

Hyun Jo : Aku tahu kita belum pernah bertemu, tapi kau tampak sangat tidak asing.

Woo Shin : Benarkah? Tapi wajahku tidak umum.

Hyun Jo : Aku tidak menduga akan bertemu denganmu di sini.

Woo Shin : Untungnya, Pimpinan mengundangku.

Hyun Jo : Begitu rupanya, ayahku mengundangmu. Dia berlebihan. Kau pasti tidak nyaman bergabung dalam acara seperti ini.

Woo Shin : Sama sekali tidak. Aku terlahir untuk menikmati acara seperti ini.

Hyun Jo : Kau tidak terlihat seperti orang yang akan menyelinap ke pesta.

Hye Soo : Capres Noh mencarimu di luar aula.

Hyun Jo pergi.

Woo Shin : Kurasa dia tidak mengira Pimpinan akan mengundangku, mengingat reaksinya.

Hye Soo : Dia pasti merasa diabaikan. Atau mungkin dia merasa cemburu.

Woo Shin : Kepadaku?

Hye Soo : Benar juga. Aku tahu kau bekerja dengan siapa. Markas Investigasi Khusus.

Woo Shin terkejut mendengarnya.

Seo Hee ke SIH, dengan bom yang melekat pada tubuhnya.

Seorang wanita cleaning service yang lagi mengepel lantai, teriak melihat Seo Hee.

Seo Hee menyuruhnya keluar.

Woo Shin masih kaget, Eun Hye Soo-ssi.

Hye Soo : Jangan tunjukkan wajah itu. Mungkin aku bisa menawarkan bantuan.

Woo Shin : Jangan mengubah topik, katakan yang ingin kau katakan.

Hye Soo : Kim Seo Hee. Kau tahu reporter itu, bukan? Saksi itu.

Tim Keamanan SIH datang dan mendekati Seo Hee dengan hati2.

Seo Hee terlihat pucat.

Bersambung…

Next epi :

Kepala Pelayan Kwon di hadapan para tamu, berbicara dengan lantang soal Adamas.

Woo Shin bertanya pada seseorang.

Woo Shin : Sejak kapan kau tau aku akan mencuri Adamas?

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like