Categories: Sinopsis

Adamas Eps 1 Part 4

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Adamas Episode 1 Part 4, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Baca EPISODE SEBELUMNYA HERE

Sebelumnya…

Team A Leader Lee masuk ke gedung Ares.

Sambil melihat ponselnya, dia menuju lift.

Dia masuk ke lift dan menekan tombol secara acak, lalu pintu lift menutup.

Sambil menunggu lift membawanya ke lantai yang ia tuju, ia membaca berita Im Duk Soo.

Tak lama, pintu lift terbuka. Dia keluar.

Semua pegawai menyambutnya dan bersikap hormat kepadanya.

“Mari kita rapat.” ucapnya.

Kabag Lee menjelaskan pada Team Leader Lee dan yang lain.

Kabag Lee : Lebih dari sembilan juta petisi telah diserahkan ke Gedung Biru, meminta untuk mengembalikan hukuman mati. Kami akan menyerahkan lebih banyak setelah mendapat lebih banyak nomor registrasi penduduk dari Tiongkok akhir pekan ini. Kami juga melakukan yang terbaik untuk memikat media.

Team Leader Lee : Begitu rupanya. Hasilnya bagus. Bagaimana keadaan di internet? Apa orang-orang goyah?

Kabag Jung : Ya, berjalan lancar. Internet… Kami membagi tim komentar menjadi tiga sif. Empat grup tambahan telah dibuat untuk menciptakan komunitas daring baru.

Team Leader Lee : Bagus. Pastikan kau meneruskan ini. Internet adalah katalis dari semua peristiwa. Aku yakin kita sudah menetapkan dasarnya. Mari kita menangkan pemilu mendatang.

Kabag Jung : Pak, Kandidat Hwang sepertinya agak bertingkah.

Team Leader Lee : Benarkah? Apa yang dia katakan?

Kabag Jung : Dia ingin menghabiskan lebih banyak uang kita karena dia membuat janji seperti yang kita minta. Jika tidak, dia pikir akan teringat hal itu begitu berada di Gedung Biru.

Kepala Tim Lee : Bedebah itu. Dia tahu cara bermain. Dia tahu cara meminta lebih banyak uang.

Kabag Lee : Bagaimana menurutmu? Haruskah aku menemuinya?

Kepala Tim Lee : Tidak apa-apa. Biar kucoba bicara dengannya. Kau sudah memproses pengeluaran untuk tahun 2006?

Kabag Jung : Ya, tim akuntansi mengurusnya dengan biaya yang kau sebutkan.

Kabag Lee : Aku akan segera menyerahkan laporannya.

Kepala Tim Lee : Itu murah.

Kabag Jung : Tidak akan ada masalah. Kami memilih seseorang yang sangat menyayangi anak-anaknya.

Kepala Tim Lee : Baiklah. Ini bagus.

Im Duk Soo sedang olahraga di sel nya. Dia ditempatkan di sel sendiri.

Im Duk Soo : Lagi pula, aku tidak akan dieksekusi. Membunuh beberapa orang lagi tidak akan mengubah apa pun. Aku sudah lama tidak membunuh orang. Aku akan mendapatkan kue dan memakannya juga.

Im Duk Soo tertawa.

Du Cheol berlari ke meja Soo Hyun.

Du Cheol : Jaksa Song.

Soo Hyun : Apa Kepala Yang marah lagi? Katakan kepadanya aku sudah mati.

Du Cheol : Ini bukan tentang dia. Seorang wanita datang mencarimu.

Ternyata Seo Hee.

Soo Hyun : Siapa kau?

Seo Hee : Halo, aku Kim Seo Hee, reporter berita lokal dari TNC. Kau mengabaikan telepon dan pesanku. Jadi, kutaruh kartu namaku di gerbangmu kemarin. Aku yakin kau melihatnya.

Soo Hyun : Pak Gong?

Du Cheol mengerti dan mengajak rekanan mereka yang lain keluar.

Soo Hyun : Aku melihatnya. Tapi ada urusan apa? Kenapa kau ingin menemuiku?

Seo Hee : Aku ingin konsultasi hukum.

Soo Hyun : Aku tidak bisa membantumu. Jika untuk menulis artikel, minta tim humas kami.

Seo Hee menggebrak buku di atas meja, tidak. Harus kau.

Seo Hee duduk di sofa.

Soo Hyun yang melihat itu tersenyum. Lalu dia bergegas mendekati Seo Hee.

Soo Hyun : Aku akan memberimu lima menit karena aku penasaran.

Seo Hee : Aku yakin kau tahu bahwa publik mendukung hukuman mati. Itu ada di seluruh media, TV, baik luring maupun daring. Efek yang tersebar luas ini tipikal manipulasi media. Semuanya sudah direncanakan. Kandidat Hwang dari Partai Masa Depan Baru berjanji untuk mengembalikan hukuman mati jika dia terpilih. Kau pikir ini hanya kebetulan?

Soo Hyun : Dengar, Reporter Kim. Tidak bisakah kau langsung ke intinya?

Seo Hee : Dia memanfaatkan hukuman mati agar bisa terpilih.

Soo Hyun : Kau tahu betapa konyolnya dirimu? Kenapa kau memberitahuku ini?

Seo Hee : Jika Kandidat Hwang terpilih, hukuman mati akan diberikan kembali. Dan di antara yang pertama dieksekusi adalah Lee Chang Woo. Pembunuh mendiang ayahmu.

Soo Hyun : Apa maksudmu?

Seo Hee : Aku yakin dia dijebak.

Soo Hyun : Dijebak?

Seo Hee : Ya.

Soo Hyun : Kau bersikap tidak sopan di pertemuan pertama kita. Konon semua reporter adalah novelis. Kau menulis fiksi?

Seo Hee : Jika ini novel, maka ini novel tragis karena Lee Chang Woo akan mengalami kematian yang tidak adil.

Soo Hyun : Dengar. Bedebah itu pelakunya. Aku jaksa, tahu?

Seo Hee : Senjata pembunuhannya tidak pernah ditemukan. Itu artinya seseorang mengambilnya. Pikirkanlah itu. Siapa orangnya?

Soo Hyun : Cukup. Kau boleh pergi.

Soo Hyun beranjak ke mejanya.

Seo Hee : Jika dia dieksekusi, kau tidak akan pernah menemukan pembunuh ayahmu yang sebenarnya.

Soo Hyun emosi, keluar!

Seo Hee : Aku menyusun berkas kasus ini. Lihatlah. Sebagai jaksa, aku yakin kau lebih paham soal keraguan beralasan daripada aku.

Seo Hee meninggalkan berkas itu di atas meja, lalu beranjak pergi.

Soo Hyun kesal setengah mati.

Tapi tak lama kemudian, dia melirik berkas kasus itu.

Seo Hee tengah menyetir.

Seo Hee : Aku tahu. Aku mungkin terlihat gila. Tapi kau harapan terakhirku.

Seo Hee lalu melihat aksi para relawan Kandidat Hwang.

Para relawan bahkan menghalangi jalannya.

Dia pun kesal dan membunyikan klaksonnya.

Kandidat Hwang lagi berorasi.

Kandidat Hwang : Apa jadinya negara kita? Ada peningkatan lima persen dalam jumlah kejahatan keji dibandingkan tahun lalu. Hukum harus melindungi warga sipil dan mengutuk para pendosa. Aku, Hwang Byung Chul berjanji akan mewujudkannya!

Sekuriti Park melihat ada polisi di depan gerbang.

Sekuriti Park : Sedang apa mereka di sini? Kenapa mereka di sini, padahal ini bukan hari gajian mereka?

Sekuriti Park menatap Tae Sung.

Sekuriti Kim : Mereka pasti ingin merayakan sesuatu. Berilah mereka uang saku dan suruh mereka pergi.

Tae Sung melarang, kita tidak berutang kepada mereka. Mereka meminta uang kepada kita setiap ada kesempatan. Mereka akan meremehkan kita jika selalu patuh. Aku harus mempermalukan mereka.

Tae Sung masuk ke mobil polisi.

Tae Sung : Kau sudah gila? Kenapa terus datang ke sini? Atasanmu akan mengetahui hal ini.

Si polisi patroli memberi Tae Sung permen karet.

“Kunyah ini. Mereka bisa membaca bibirmu.”

“Ada apa ini?”

“Kantor pusat melaporkan hal mendesak.”

“Sebaiknya itu mendesak.”

“Mereka menerima surel anonim tentangmu. Isinya sederhana. Namamu dan alamat ini.”

“Pengirimnya pasti tahu siapa aku jika mereka mengirimnya ke kantor pusat.”

“Seseorang dari pihak Pimpinan Kwon?”

“Tidak, aku meragukannya. Jika dia tahu tentang masa laluku, aku pasti sudah lama pergi. Kau bahkan tidak akan pernah menemukan jasadku.”

“Kau benar. Itu bisa saja lebih buruk. Melihat bagaimana mereka mengirimnya ke sana, mereka ingin membuat kesepakatan dengan kita.”

“Lalu mereka akan segera mengungkap diri mereka.”

“Pengirimnya?”

“Kami sedang menyelidikinya.”

Polisi patrol memberitahukan alamat surelnya.

“Alamat surelnya persona non grata. Mereka memakai alamat IP luar negeri. Jadi, aku ragu kita bisa menangkap mereka.”

Tiba-tiba saja, Tae Sung menyadari sesuatu.

Tae Sung : Bedebah kecil ini.

Tae Sung pun langsung kembali ke dalam.

Tae Sung melihat judul buku Woo Shin.

PERSONA NON GRATA, OLEH HA WOO SIN.

Tahulah Tae Sung itu perbuatann Woo Shin.

Hari sudah malam.

Tae Sung berdiri di luar, menatap tempat Woo Shin tinggal.

Tae Sung : Persona non grata. Itulah dirimu. Orang yang tak diinginkan. Kenapa kau kemari?

Woo Shin masih terjaga. Dia memikirkan kata-kata terakhir ibunya.

Flashback…

Woo Shin tengah menjaga ibunya yang terbaring sakit di rumah sakit.

“Woo Shin-ah.”

“Ya, Ibu?”

“Ayahmu…”

“Ayahku?”

“Dia tak bersalah.”

“Apa maksud Ibu?”

“Dia…”

Ibu Woo Shin tak sanggup bicara lagi, sampai akhirnya dia meninggal dunia.

Flashback end…

Woo Shin : Ibu….

Lalu Dong Rim datang dan mengambil minum di kulkas.

Dong Rim : Astaga, menakutkan sekali. Ada apa dengan dunia ini?

Woo Shin : Ada apa?

Dong Rim : Ini tentang Kandidat Hwang Byung Chul. Pahanya ditikam di depan rumahnya. Aku baru saja bicara dengan ibuku, dan itu menyebabkan keributan.

Woo Shin : Kurasa mereka tidak berniat membunuhnya. Pahanya ditikam di depan rumahnya. Dia pasti lengah karena itu rumahnya sendiri. Mereka bisa menikamnya di area kritis jika mau.

Polisi melakukan olah TKP di depan kediaman Kandidat Hwang.

Banyak selebaran Kandidat Hwang berserakan, dengan tulisan meminta hukuman mati dihapuskan.

Reporter melaporkan langsung dari depan kediaman Kandidat Hwang.

“Polisi memakai selebaran di TKP untuk mengejar pelakunya. Kandidat Hwang Byung Chul yang dibawa ke rumah sakit menyatakan bahwa dia tidak terintimidasi. Aku Jung Haneul dari GBS News.”

Kandidat Hwang dirawat di Pusat Medis Eunkook.

Dia sudah tertidur pulas.

Lalu seseorang datang dan menepuk pipinya. Dia terbangun dan melihat yang datang adalah Kepala Tim Lee.

Kepala Tim Lee : Kudengar kau terluka, jadi, aku datang berkunjung.

Kandidat Hwang : Semalam ini? Kau bercanda?

Kepala Tim Lee : Kau pikir aku bercanda? Baiklah. Kabar

baik. Kau akan ada di halaman depan semua koran. “Kandidat yang berjanji akan mengembalikan hukuman mati diserang oleh seseorang yang menentangnya.” Itu menarik perhatian. Kau akan diuntungkan dari itu. Kau menyukainya? Itu ideku.

Kandidat Hwang : Kau dalangnya?

Kepala Tim Lee : Kau tidak menyukainya? Kalau begitu, seharusnya kugorok saja lehermu. Benar, ‘kan?

Kandidat Hwang mulai takut.

Kandidat Hwang : Kenapa kau melakukan ini?

Kepala Tim Lee menjambak rambut Kandidat Hwang.

Kepala Tim Lee : Kenapa? Biar kuberi tahu alasannya. Pelayan yang coba mengendalikan tuannya harus dihukum.

Kandidat Hwang : Maafkan aku. Aku pasti kelelahan karena berkampanye hingga menjadi gila.

Kepala Tim Lee : Baiklah. Ingat ini. Haesong yang memegang kendali. Kau hanya pion di papan catur. Permainan akan tetap berlanjut, meski satu pion hilang.

Kandidat Hwang : Tentu saja. Aku tahu itu.

Kepala Tim Lee mengambil kotak di atas meja dan memberikannya ke Kandidat Hwang.

Kepala Tim Lee : Ini uang bensin untuk perjalananmu ke Gedung Biru. Pimpinan memberimu banyak uang. Sampai jumpa.

Kepala Tim Lee pergi.

Kandidat Hwang membuka kotak itu. Isinya memang uang.

Tapi diatas uang, ada pisau yang masih bernoda darah.

Besoknya, Soo Hyun sarapan sambil membaca berita tentang Kandidat Hwang.

Lalu dia memikirkan kata-kata Seo Hee.

Seo Hee : Efek yang tersebar luas ini tipikal manipulasi media. Semuanya sudah direncanakan. Dia memanfaatkan hukuman mati agar bisa terpilih. Jika Kandidat Hwang terpilih, hukuman mati akan diberikan kembali. Dan di antara yang pertama dieksekusi adalah Lee Chang Woo.

Bahkan ketika di kantor, Soo Hyun masih memikirkan kata-kata Seo Hee.

Soo Hyun menatap berkas yang ditinggalkan Seo Hee. Tak lama kemudian, dia membukanya dan membacanya.

Woo Shin keluar dari kamarnya dan menemukan bukunya di atas meja.

Dia membuka bagian tengah buku yang dibatasi dan membacanya.

“TEMPAT PENGUNGSIAN MEREKA ADALAH DI DALAM HUTAN MEREKA HANYA PERLU BILANG, “SAMPAI JUMPA DI SANA”

Woo Shin pergi ke hutan sambil bersiul. Di sana, dia bertemu Tae Sung yang sudah memegang senapan.

Tae Sung : Lihat siapa ini. Penulis terkenal kita.

Woo Shin : Kau sengaja meletakkan bukuku di sana. Halaman 217. Karakter utama dan rekannya bertemu di hutan.

Tae Sung : Kau langsung mengerti. Pak Penulis. Aku akan bertanya kepadamu. Sebaiknya aku menyukai jawabanmu.

Tae Sung mulai memasukkan peluru.

Tae Sung : Kau yang mengirim surel itu, ‘kan?

Woo Shin : Benar.

Tae Sung : Kau tahu tentangku?

Woo Shin : Kau disuap oleh Grup Haesong dan mengekspos rekanmu. Sebagai balasannya, kau menjadi kepala keamanan Haesong dan mendapat gaji yang besar. Itu penyamaranmu. Kau sebenarnya polisi yang menyamar yang mengawasi Pimpinan Kwon, ‘kan?

Tae Sung : Siapa kau? Berapa banyak yang kau tahu?

Woo Shin : Itu pertanyaan yang salah. Kau harus menanyakan apa yang kuinginkan.

Tae Sung : Berhentilah bersikap kurang ajar dan jawab aku dengan benar jika kau ingin hidup.

Woo Shin : Berapa banyak yang kuketahui? Divisi Investigasi Pusat. Markas investigasi khusus yang mirip dengan FBI. Biro Investigasi Kriminal Kelas Satu. Kau Letnan Choi Tae Sung. Kau tidak ada di atas kertas.

Tae Sung : Apa maumu?

Woo Shin : Aku tahu kau mengawasi semua orang di wastu itu. Jadikanlah aku pengecualian.

Tae Sung : Sepertinya kau datang ke sini dengan motif tersembunyi.

Soo Hyun masih membaca berkas kasus ayahnya.

Lalu dia teringat kata-kata Seo Hee.

Seo Hee : Senjata pembunuhannya tidak pernah ditemukan. Itu artinya seseorang mengambilnya.

Kembali ke Tae Sung dan Woo Shin.

Tae Sung : Pak Penulis, mari kita akhiri ini jika kau tidak akan mengatakan yang sebenarnya.

Woo Shin : Logo anak panah itu. Itu dia. Itu sebabnya aku di sini.

Tae Sung : Jangan bicara dengan samar dan jelaskan secara detail.

Woo Shin : Adamas.

Soo Hyun terus membaca berkas kasus ayahnya.

Lalu dia bertanya-tanya, kemana perginya senjata pembunuhan itu.

Woo Shin bilang pada Tae Sung, simbol Grup Haesong, panah dengan ujung berlian.

Woo Shin : Aku akan mencuri Adamas.

Bersambung……

Rahmi Iza

ARTIKEL TERBARU

Cafe Minamdang Ep 4

September 27, 2022

Cafe Minamdang Ep 3

September 27, 2022

Adamas Eps 15 Part 2

September 27, 2022

Adamas Eps 15 Part 1

September 27, 2022

Blind Ep 4

September 26, 2022

Blind Ep 3

September 26, 2022