Adamas Eps 1 Part 3

Tentangsinopsis.com – Sinopsis Adamas Episode 1 Part 3, Cara pintas untuk menemukan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Baca EPISODE SEBELUMNYA HERE

Sebelumnya…

Woo Shin tiba di dalam. Woo Shin melihat-lihat.

Bu Oh memberitahu Woo Shin, kalau dia bisa memakai telepon ini jika ingin menelpon seseorang diluar.

Woo Shin melihat telepon yang dimaksud Bu Oh.

Bu Oh juga menunjukkan area dapur.

Bu Oh : Makananmu akan disediakan pukul 07.00, 12.00, dan 18.00. Semuanya akan disajikan di lantai satu. Silakan memesan jika kau menginginkan sesuatu.

Lalu Bu Oh membawa Woo Shin ke lantai atas.

Bu Oh : Kau bisa berjalan-jalan di waktu ini sesukamu. Tapi area keluarga Pimpinan adalah area terlarang. Yang terpenting… Kau dilarang keras memasuki kantornya di lantai tiga.

Woo Shin kembali melihat-lihat.

Lalu dia melihat Bu Oh berdiri di depan sebuah kamar.

Woo Shin mendekati Bu Oh.

Bu Oh : Ini kamar tidurmu.

Woo Shin : Terima kasih. Siapa namamu?

Bu Oh : Kami, para pelayan, tidak boleh berbincang dengan tamu. Kau bisa memanggilku Bu Oh.

Woo Shin : Begitu rupanya.

Bu Oh ingin pergi tapi Woo Shin memanggilnya.

Woo Shin : Omong-omong, Bu Oh… Kenapa kau selalu melihat ke bawah?

Woo Shin mencoba melihat wajah Bu Oh, tapi Bu Oh memalingkan wajahnya.

Woo Shin : Apa karena kau tidak boleh mengingat wajah tamu?

Bu Oh diam saja.

Woo Shin : Benar juga, kita tidak boleh berbincang. Terima kasih sudah mengantarku.

Woo Shin masuk ke kamarnya.

Woo Shin heran sendiri, rrang dengan pola pikir abad ke-19 di abad ke-21?

Ada dua tempat tidur di sana.

Seorang pria keluar dari kamar mandi. Pria tadi, yang membawakan Woo Shin dan Bu Yeo kopi.

Woo Shin kaget, Lee Dong Rim.

Dong Rim : Kau baru sampai?

Woo Shin : Kenapa kau di sini?

Dong Rim : Sudah jelas. Bagaimana bisa kubiarkan pemilikku pergi tanpa aku?

Woo Shin : Tapi bagaimana kau tahu…

Dong Rim : Bu Yeo memberitahuku. Dia bilang kau butuh asisten. Aku meminta uang di muka, dan dia tidak ragu memberiku pekerjaan tambahan.

Dong Rim rebahan di kasur.

Woo Shin kesal dan merentangkan tangannya.

Hari sudah malam. Hujan turun dengan deras.

Dong Rim yang rebahan di kasur, berkata, dia sudah memeriksa tempat itu dan memeriksa beberapa rumor.

Dong Rim : Orang-orang di sini luar biasa. Mereka sangat kuno. Aku tidak percaya aku berada di tengah masyarakat kelas.

Woo Shin sendiri lagi melihat lemarinya.

Woo Shin : Mereka sangat teliti.

Dong Rim bangun, benar, ‘kan? Mereka sungguh luar biasa. Mereka pasti melakukan pemeriksaan latar belakang menyeluruh. Pakaian yang mereka berikan persis gaya yang biasa kau pakai. Bahkan kopinya.

Dong Rim membuka kulkas dan mengambilkan Woo Shin kopi botolan.

Dong Rim : Rasanya sangat mirip dengan kafe di bawah ruang menulismu.

Woo Shin mencicipi kopinya.

Woo Shin : Kau benar.

Dong Rim balik lagi ke kasurnya.

Dong Rim : Lalu tentang Bu Kwon. Kukira dia kerabat jauh Pimpinan Kwon karena nama keluarga yang sama. Tapi leluhurnya melayani keluarga itu selama beberapa generasi. Selama Reformasi Gabo, sistem kasta dihapus. Semua pelayan tanpa nama keluarga mengambil nama keluarga majikan mereka. Ini versi aslinya. Sangat aneh.

Woo Shin menutup lemarinya dan mendekati Dong Rim.

Woo Shin : Dia memiliki metode komunikasi yang unik. Dia memproses kata-kata orang lain secara berbeda. Dia cenderung memutarbalikkan artinya. Saat berkomunikasi, kita harus memahami niat satu sama lain secara universal. Tapi dia memproses niat mereka sesukanya. Dia memelintirnya.

Dong Rim : Tapi yang lebih aneh, dia bersikap layaknya nyonya rumah. Dia bisa dengan mudah dikira nyonya rumah dengan pakaian mahal itu.

Woo Shin : Dong Rim-ah.

Dong Rim : Ya, Pak? Benar juga. Apa kau tahu? Wastu ini canggih…

Woo Shin : Pergilah.

Dong Rim : Pergi? Ke mana?

Woo Shin : Aku tak butuh asisten.

Dong Rim bergegas menarik selimutnya.

Dong Rim : Tidak, terima kasih. Aku dibayar mahal.

Woo Shin : Astaga.

Dong Rim : Aku juga akan mendapatkan bagian.

Woo Shin : Dengarkan saja aku.

Dong Rim : Aku tidak mau. Ke mana aku bisa pergi selarut ini? Matikan lampunya.

Woo Shin menghela nafas dan mematikan lampu.

Tapi tiba-tiba, dia melihat bayangan dari celah bawah pintu.

Benar saja, Kepala Pelayan Kwon tengah menguping.

Tak lama kemudian, dia beranjak pergi.

Woo Shin bisa melihat bayangan itu pergi menjauh.

Dia menebak, itu Kepala Pelayan Kwon.

Soo Hyun tiba di rumahnya dan mendapati kartu nama Seo Hee di gerbang.

Seo Hee meminta dihubungi balik.

Soo Hyun : Reporter? Beraninya dia datang ke rumahku.

Soo Hyun merobek kartu nama Seo Hee, lalu masuk ke dalam.

Soo Hyun duduk di sofanya dan menyalakan TV.

TV kebetulan menampilkan liputan tentang narapidana hukuman mati yang akan dijatuhi hukuman mati jika hukuman mati dikembalikan.

Reporter : Anda ingat Lee Chang Woo, pencuri keji, yang merampok pejabat tinggi pada tahun 80-an dan selalu berhasil menghilang? Di antara 14 kasusnya, salah satunya adalah kasus pembunuhan pada bulan Mei 2000. Setelah dipenjara 15 tahun karena pencurian berulang, dia membunuh Song, korbannya, di dekat kediamannya hanya satu bulan setelah dibebaskan. Dia ditangkap di tempat…

Soo Hyun mematikan TV.

Dia marah, bedebah itu.

Soo Hyun menatap foto keluarganya.

Woo Shin terbangun setelah mimpi buruk.

Dalam mimpinya, dia melihat mayat dengan mata tercungkil.

Woo Shin keluar. Tidak ada siapa pun. Sunyi senyap.

Woo Shin berjalan dan melihat tangga menuju lantai tiga.

Woo Shin teringat kata-kata Bu Oh tadi.

Bu Oh : Kau dilarang keras memasuki kantornya di lantai tiga.

Woo Shin mau mendekati tangga, tapi dia mendengar suara pintu terbuka dari arah samping.

Woo Shin bergegas memeriksa. Seseorang dengan pakaian putih melintas. Woo Shin mencoba mencari tahu.

Tak lama kemudian, dia mendengar suara seseorang yang tercekik.

Woo Shin bergegas memeriksa dan melihat seorang pelayan wanita tergeletak di lantai.

Woo Shin mendekati pelayan itu. Tapi dia bingung harus gimana.

Akhirnya, Woo Shin berteriak dan mencari bantuan.

Seseorang mengintip Woo Shin.

Setelah menggetuk pintu semua kamar, Woo Shin kembali ke kamar pelayan tadi.

Dalam sekejap, para pelayan yang semuanya memakai baju tidur putih keluar dan melihat Woo Shin bersama pelayan yang sekarat.

Woo Shin meminta tolong mereka. Dia bilang ada yang pingsan.

Bu Oh datang.

Woo Shin mendekati Bu Oh.

Woo Shin : Bu Oh, wanita ini pingsan.

Bu Oh marah, apa yang kau lakukan di sini?

Woo Shin : Apa itu penting sekarang? Wanita itu pingsan.

Kepala Pelayan Kwon datang.

Kepala Pelayan Kwon : Ada keributan apa ini!

Kepala Pelayan Kwon mendekat dan melihat pelayan yang pingsan itu dengan tatapan dingin.

Kepala Pelayan Kwon : Merepotkan sekali.

Woo Shin menatap heran Kepala Pelayan Kwon.

Pelayan yang pingsan, dimasukkan begitu saja ke dalam mobil.

Woo Shin dan yang lain melihat.

Setelah mobil Haesong pergi membawa si pelayan yang pingsan, semuanya bubar seolah tak terjadi apapun.

Sontak lah Woo Shin makin bingung dan bertanya2 apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Woo Shin kembali ke dalam.

Dia sontak menoleh ke belakang karena merasa ada yang mengawasinya dan melihat sebuah pintu ditutup.

Woo Shin ke kamarnya dan melihat Dong Rim sudah tidur pulas.

Woo Shin : Apa yang harus kulakukan? Ini bukan bagian dari rencana.

Paginya, Dong Rim mengajak Woo Shin ke perpustakaan.

Dong Rim : Ini luar biasa. Ini akan jadi ruang menulis yang bagus. Tempat ini juga luas. Kau setuju, ‘kan?

Woo Shin mendekati meja dan melihat alat perekam yang biasa dia pakai.

Woo Shin : Mereka tahu cara menyambut tamu mereka. Ini perekam suara yang sama yang kupakai.

Dong Rim : Apa kita akan mulai bekerja hari ini?

Woo Shin : Aku akan mulai. Tapi kau tidak, karena kau akan pulang.

Dong Rim mendekati Woo Shin dan merengek.

Dong Rim : Kau mulai lagi. Aku tidak akan pergi.

Woo Shin : Pergilah.

Dong Rim : Ayolah. Kau akan terus begini? Aku sudah tahu semuanya.

Woo Shin terdiam sejenak, lalu tak lama, dia tanya apa yang Dong Rim tahu.

Dong Rim : Tentang alasanmu memilih untuk datang ke sini. Aku tahu niatmu yang sebenarnya.

Woo Shin : Apa maksudmu?

Dong Rim : Kau pasti gila jika mau menjadi penulis bayangan orang lain.

Woo Shin : Apa maksudmu?

Dong Rim : Kau sedang menyiapkan buku berikutnya, dan itu tentang konglomerat. Kau di sini untuk meneliti. Kita sama. Ini kesempatan sekali seumur hidup. Kejahatan melodramatis karena nafsu yang dilakukan oleh orang kaya. Itu temaku. Ini penelitian gratis, dan aku juga akan dibayar. Aku beruntung, tapi kau ingin aku pergi?

Dong Rim duduk di sofa dekat jendela.

Woo Shin menatap ke arah Dong Rim.

Woo Shin : Dongrim-ah.

Dong Rim : Panggil namaku sesukamu. Aku tidak akan ke mana-mana.

Woo Shin bergegas mendekati bunga yang ada disamping Dong Rim.

Dong Rim : Ada apa?

Woo Shin : Bunga ini.

Dong Rim : Kenapa dengan itu? Apa itu mahal? Aku memetiknya sendiri.

Woo Shin : Di mana?

Dong Rim : Di luar. Ada banyak, jadi, aku memetik satu. Mereka tidak akan menyuruhku mengganti rugi, ‘kan?

Woo Shin melangkah ke pintu. Tapi, Kepala Pelayan Kwon tiba-tiba datang.

Kepala Pelayan Kwon : Ha Woo Shin Cakka-nim.

Woo Shin : Ya? Ada yang bisa kubantu?

Kepala Pelayan Kwon : Keadaan kacau semalam, jadi, aku tidak mengatakan apa pun. Tapi aku kasihan kepadamu. Kau harus menyaksikan pemandangan menyedihkan selarut itu.

Woo Shin : Aku tidak bisa tidur, jadi, aku berjalan-jalan.

Kepala Pelayan Kwon : Begitu rupanya. Jalan-jalan?

Woo Shin : Bu Oh bilang aku bisa pergi ke mana pun yang kumau, kecuali ke wilayah Pimpinan. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang.

Kepala Pelayan Kwon mau pergi, tapi Woo Shin memanggilnya lagi.

Woo Shin : Omong-omong bagaimana pelayan itu? Kudengar dia dibawa ke rumah sakit…

Kepala Pelayan Kwon menghentakkan tongkatnya.

Kepala Pelayan Kwon : Kurasa Bu Oh melupakan satu hal. Kau harus merahasiakan semua yang kau lihat atau dengar di tempat ini.

Woo Shin : Baik, Bu.

Sekuriti Kim mengambil buku Woo Shin miliknya. Dia memamerkan buku yang sudah ditandatangani Woo Shin itu.

Sekuriti Kim : Luar biasa, ‘kan?

Sekuriti Park : Apa buku ini sebagus itu?

Sekuriti Kim : Ya, ini yang terbaik.

Sekuriti Park membaca judul buku itu.

Sekuriti Park : Apa arti judul ini? Apa itu bahasa Inggris?

Sekuriti Kim : Apa artinya?

Tae Sung datang dan melihat buku itu.

Tae Sung : Coba kulihat. Itu bahasa Latin untuk “yang tidak diundang”.

Sekuriti Kim kagum Tae Sung tahu, Pak Choi.

Tae Sung beranjak dan duduk di depan mereka. Dia memeriksa senapannya.

Tae Sung : Ini tentang diplomat atau polisi?

Sekuriti Kim : Ya, polisi. Bagaimana kau tahu?

Tae Sung : Awalnya, itu sebutan mereka untuk diplomat yang dideportasi. Tapi itu juga istilah untuk pengadu polisi. Judul buku itu.

Sekuriti Kim : Kau pasti tahu karena kau juga… Maksudku… Kau tahu banyak karena kau mantan polisi.

Tae Sung : Apa karakter utamanya polisi korup yang mengadukan rekannya?

Sekuriti Kim : Sebenarnya, dia pahlawan keadilan.

Tae Sung : Klise sekali. Aku bisa menjadi penulis. Omong-omong… jadi, itu buku kutu buku itu?

Tae Sung mengeker ke depan.

Woo Shin berjalan-jalan ke belakang rumah. Dia bahkan masuk ke sebuah kebun dan mendapati bunga itu di sana.

Woo Shin : Bunga Poppy.

*Pantes gk asing sama bunganya, bunga poppy ternyata.

Lalu seorang wanita datang, siapa kau?

Wanita itu kemudian menyadari siapa Woo Shin.

“Begitu rupanya. Kau tamu Pimpinan.”

“Ya, benar. Dan kau Eun Hye Soo, menantunya, ‘kan?

“Bukankah aslinya aku lebih cantik? Tapi kenapa kau datang ke kebunku?”

“Pintunya terbuka, jadi, aku masuk dan melihat ini. Dilihat dari tidak adanya bulu halus dan kantong biji bundar, ini opium.”

“Benar.”

“Bukankah menanamnya itu ilegal?”

“Tidak ada yang ilegal di rumah ini. Kami bisa melakukan apa pun yang kami mau.”

Hye Soo mengambil watering can nya.

Hye Soo : Kudengar kami harus diwawancarai untuk memoar itu.

Woo Shin : Ya, tapi hanya wawancara santai. Terserah aku mau menulis apa di memoar itu.

Hye Soo : Mari kita lakukan wawancara itu sekarang.

Woo Shin : Sekarang?

Hye Soo : Apa itu artinya tidak?

Woo Shin : Bisa.

Hye Soo : Tanyakan saja. Sebaliknya, haruskah kuberi tahu orang seperti apa dia bagiku? Dia akan melakukan apa pun demi perusahaannya.

Woo Shin : Apa pun?

Hye Soo : Bayangkan semua hal mengerikan dan menjijikkan yang bisa kau bayangkan. Dia mampu melakukan semua itu. Putra keduanya meninggal dalam kecelakaan helikopter. Tapi benarkah itu kecelakaan?

Woo Shin : Ini tidak akan dicatat. Itu pernyataan yang berbahaya.

Hye Soo : Kau yang dalam bahaya, bukan aku. Makin kau tahu, makin berbahaya situasimu di sini. Dan kau memperburuknya. Kusarankan kau meninggalkan tempat ini secepat mungkin.

Hye Soo lalu menyemprot tanamannya.

Woo Shin : Aku tidak setuju. Aku akan mengurus diriku sendiri.

Hye Soo mendengar suara helikopter.

Hye Soo : Kau dengar itu? Pimpinan datang.

Kepala Pelayan Kwon langsung menjemput Pimpinan Kwon yang datang dengan heli. Dia bahkan setengah berlari, dengan senyum lebar.

Pimpinan Kwon turun dari heli.

Kepala Pelayan Kwon menggandengnya, mereka berjalan bersama.

Woo Shin beranjak dari kebun bunga.

Woo Shin : Pergi secepat mungkin? Itu peringatan.

Lalu Dong Rim pun datang sambil teriak memanggil Woo Shin.

Dong Rim : Cakkanim! Kau dari mana saja? Aku mencari…

Dan, Dong Rim kesandung sesuatu.

Woo Shin : Astaga, makin hari dia makin parah. Kau sengaja melakukannya, ‘kan? Kau makin parah tahun ini.

Dong Rim mendekati Woo Shin dengan langkah terpincang-pincang.

Dong Rim : Itu menggandakan rasa sakitnya.

Dong Rim lalu melihat Hye Soo keluar dari kebun bunga.

Dong Rim : Bukankah dia menantunya? Putri tunggal Pusat Medis Eunkook yang menikahi putra sulung Pimpinan Kwon. Menurut rumor, dia psikopat.

Woo Shin : Dia tidak sebanding denganmu.

Dong Rim : Apa dia tidak bosan di sini? Suaminya tidak ada di Seoul.

Dong Rim lalu memberitahu Woo Shin kalau Pimpinan Kwon ingin bertemu Woo Shin.

Kamera menyorot ruangan Pimpinan Kwon di lantai 3.

Di rak, terpajang foto2 Pimpinan Kwon bersama para pejabat.

Pimpinan Kwon menuju ruangannya. Dia masih digandeng Kepala Pelayan Kwon. Seketaris Yoon membuka tirai.

Kepala Pelayan Kwon : Kudengar kau melewatkan obat yang kuberikan dua kali. Kenapa kau sangat keras kepala?

Pimpinan Kwon : Seketaris Yoon memberitahumu? Aku melarangnya memberitahumu. Aku harus memecatnya.

Kepala Pelayan Kwon : Yang benar saja. Kau pikir gadis baru itu tidak akan melapor kepadaku? Kau akan menyiksa mereka semua. Tak ada yang bisa menentangmu. Omong-omong, Pimpinan Kwon.

Pimpinan Kwon : Kenapa memanggilku dengan lembut? Kau membuatku takut.

Kepala Pelayan Kwon : Tentang penulis itu. Aku tidak bisa membacanya. Dia masalah terbesar yang pernah ada. Dia tak menyerah saat aku mengintimidasinya. Dia malah melawan.

Pimpinan Kwon : Lantas, itu akan menyenangkan untukmu. Jinakkan dia jika bisa. Aku tahu kau pandai melakukan itu.

Kepala Pelayan Kwon : Kau tidak akan menganggap ini serius?

Pimpinan Kwon : Baru sehari sejak dia datang. Mari kita awasi dia untuk saat ini.

Woo Shin pergi ke ruangan Pimpinan Kwon, tapi jalan yang dilaluinya sangat suram.

Woo Shin masuk ke sebuah ruangan. Tidak ada apa-apa di sana.

Dan ada ruangan lagi di dalamnya.

Woo Shin mengetuk pintu. Setelah diizinkan masuk oleh Pimpinan Kwon, dia masuk.

Woo Shin mengenalkan diri.

Woo Shin : Halo, Pak. Aku Ha Woo Shin.

Pimpinan Kwon : Senang bertemu denganmu. Dia tampak seperti pria yang baik.

Woo Shin : Begitukah?

Pimpinan Kwon : Dia mirip dengannya.

Kepala Pelayan Kwon keluar.

Kepala Pelayan Kwon : Aneh. Senyumnya mengingatkanku pada pria itu. Menyebalkan sekali.

Woo Shin bicara dengan Pimpinan Kwon.

Woo Shin : Suatu kehormatan bertemu denganmu. Aku tersanjung.

Pimpinan Kwon meminta konyak pada Seketaris Yoon.

Seketaris Yoon pergi.

Pimpinan Kwon : Kau sudah berkeliling rumah?

Woo Shin : Sudah, Pak.

Pimpinan Kwon : Bagaimana menurutmu?

Woo Shin : Ini lingkungan yang bagus. Aku tidak akan kesulitan menulis di sini.

Pimpinan Kwon : Senang mendengarnya. Omong-omong, apa pendapatmu tentang Hye Soo?

Woo Shin : Apa?

Pimpinan Kwon : Kudengar kau bertemu dengannya di kebun.

Woo Shin terkejut Pimpinan Kwon tahu.

Pimpinan Kwon : Jangan terkejut. Semua orang di sini mengawasi. Kau harus terbiasa.

Woo Shin : Aku mewawancarainya tentangmu.

Pimpinan Kwon : Apa katanya?

Woo Shin : Dia bilang perusahaanmu adalah prioritas utamamu.

Pimpinan Kwon : Apa lagi?

Woo Shin : Dia juga bilang kau mewujudkan hal yang paling tidak terbayangkan.

Pimpinan Kwon : Lalu?

Woo Shin : Sayangnya, kami tidak bisa bicara lama.

Pimpinan Kwon : Setelah kau mengobrol panjang, beri tahu aku. Katakan apa adanya. Aku ingin tahu semuanya.

Seketaris Yoon masuk membawa konyak. Pimpinan Kwon bilang, Woo Shin bisa bicara dengan bebas karena Seketaris Yoon tuli.

Pimpinan Kwon : Dia hanya bisa membaca bibir.

Pimpinan Kwon berterima kasih karena Seketaris Yoon sudah mengambilkan miras untuknya.

Seketaris Yoon melirik Woo Shin, sebelum akhirnya berdiri di belakang Woo Shin.

Woo Shin : Maaf karena mengatakan ini, Pak. Tapi yang baru saja kau minta dariku mengenai menantumu, sepertinya kau ingin aku menjadi mata-matamu.

Pimpinan Kwon : Sama sekali tidak. Aku hanya tidak tahu apa yang dipikirkannya. Aku hanya ingin memahaminya.

Woo Shin : Entahlah, Pak. Aku akan merasa tidak nyaman melakukan itu.

Pimpinan Kwon : Hanya orang yang mampu menolak yang bisa melakukannya. Aku yakin kau tidak berhak melakukan itu.

Woo Shin : Beginikah caramu mengelola bisnis? Kau menawarkan harga murah sejak awal dan coba mengintimidasi orang lain. Kau mencoba menakutiku.

Pimpinan Kwon : Lalu apa balasanmu?

Woo Shin berdiri.

Woo Shin : Kusarankan kau mencari penulis bayangan lain.

Pimpinan Kwon : Kau tidak suka syaratnya?

Woo Shin : Aku menuntut syarat yang pantas kudapatkan.

Pimpinan Kwon : Aku mengerti. Sungguh.

Pimpinan Kwon menyuruh Woo Shin kembali duduk.

Woo Shin duduk lagi.

Pimpinan Kwon : Karena aku menjalankan bisnis, aku sering berada dalam situasi saat aku harus bernegosiasi. Kau tahu siapa orang yang paling rewel? Orang yang unggul? Bukan. Mereka yang bernegosiasi dengan tangan kosong. Dan itu kau.

Woo Shin : Terima kasih atas pengertiannya. Kapan sebaiknya kita lakukan wawancara?

Woo Shin keluar dari ruangan Pimpinan Kwon.

Dia teringat kata-kata Pimpinan Kwon tadi.

Pimpinan Kwon : Semua orang di sini mengawasi. Kau harus terbiasa.

Bersambung ke part 4…

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like
The Penthouse 2 Ep 27
Read More

The Penthouse 2 Ep 27

Tentangsinopsis.com – Sinopsis The Penthouse Season 2 Episode 27, Silahkan bisa disimak secara langsung gaes daftarbnya di tulisan…